MAKASSAR, BKM — Bencana hidrometereologi berupa banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan. Banjir terjadi di Kabupaten Luwu, Wajo, Sinjai, Sidrap, dan Pinrang. Sementara di Enrekang, akses jalan terputus akibat tanah longsor.
Hujan deras yang turun tanpa henti sejak Kamis malam (2/5) hingga Jumat subuh (3/5) mengakibatkan banjir di jalur trans Sulawesi menuju Kabupaten Luwu. Di wilayah Bulete, Kecamatan Wajo misalnya, situasi darurat terjadi di sepanjang jalur tersebut. Kondisi ini memaksa para pengendara untuk memutar balik atau mencari rute alternatif.
Arafah, seorang sopir mobil travel rute Soppeng-Luwu, mengungkapkan kesulitan yang dihadapi para pengendara.
“Kita putar balik karena sudah tidak bisa lewat. Banjir setinggi 2 meter. Deras sekali juga arusnya,” ujarnya, kemarin.
Banjir tidak hanya mengganggu aktivitas transportasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi penduduk setempat. Rumah di sepanjang sungai yang meluap tergenang air. Akibatnya, sejumlah keluarga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Pemerintah setempat telah mengeluarkan peringatan darurat banjir dan mengirim tim penyelamat untuk membantu evakuasi penduduk yang terisolasi. Selain itu, posko pengungsian juga telah didirikan di beberapa titik strategis untuk memberikan bantuan kepada korban banjir.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan deras masih akan terus mengguyur wilayah Sulawesi Selatan dalam beberapa hari ke depan. BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana banjir dan tanah longsor.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya mitigasi bencana dan pembangunan infrastruktur yang tahan terhadap cuaca ekstrem. Diharapkan, dengan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat, dapat mengurangi risiko dampak bencana di masa yang akan datang.
Dari data yang dihimpun, tercatat ada tujuh warga Desa Buntu Serek, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu yang meninggal dunia akibat banjir. Mereka adalah Rumpak (97), Jatima (55), Rima (84), Muhammad Misdar (29), Mawi (57), Sukma (9), dan Kapila (84). Sementara di Kabupaten Sidrap, banjir menyebabkan satu orang meninggal.
Penjabat Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin, menyampaikan duka mendalam atas peristiwa yang menelan korban jiwa tersebut. Ia telah menginstruksikan kepala OPD terkait untuk turun langsung melakukan penanganan, termasuk koordinasi dengan pemerintah setempat dan jajaran Forkopimda.
“Atas nama pemerintah provinsi dan masyarakat Sulsel kami menyampaikan turut berduka cita atas apa yang menimpa saudara-saudara kita di Kabupaten Luwu,” ucap Bahtiar.
Berdasarkan data yang diterima, banjir dan tanah longsor di Kabupaten Luwu ini juga mengakibatkan rusaknya beberapa infrastruktur jalan, jembatan, hanyutnya beberapa rumah, lahan pertanian dan kebun, serta empang terendam banjir.
Tim BPBD, Tagana dan personel lainnya sudah turun ke lapangan untuk melakukan penanganan.
Sebanyak tujuh kecamatan mengalami banjir, dan dua kecamatan lain di dataran tinggi terjadi tanah longsor. Air merendam rumah warga yang ada Kecamatan Ponrang Selatan, Belopa Utara, Belopa, Suli, Suli Barat, Larompong dan Bajo. Sementara di Kecamatan Latimojong dan Bastem mengalami tanah longsor
.
Ketinggian air di permukaan jalan poros trans Sulawesi mencapai pusar orang dewasa, mengakibatkan antrean panjang kendaraan. Mobil tidak bisa melintasi jalan hingga macet spanjang jalan poros trans Sulawesi.
Air merendam permukiman warga dan pusat perbelanjaan, pendidikan, dan perkantoran. BPBD Luwu bersama aparat TNI/Polro, relawan serta warga siaga di kecamatan yang terendam banjir dan mengevakuasi mereka yang terdampak. Di Desa Keili, Kecamatan Suli tercatat ada enam rumah warga tersapu derasnya banjir serta tanah longsor.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Amson Padolo, menyampaikan bahwa saat ini beberapa daerah status siaga.
“Jadi perlu kami sampaikan bahwa kejadian bencana ini ada beberapa lokasi, yakni di Luwu, Enrekang, Sinjai, Wajo, dan Pinrang. Semua kabupaten itu berada pada status siaga darurat, dan ada beberapa daerah yang status tanggap darurat. Bila berada pada posisi tersebut, BPBD, termasuk Sulsel melakukan kesiapsiagaan dan pertolongan serta mengevakuasi warga yang terdampak. Setelah itu bagaimana bekerja sama dengan tim rescue lainnya, TNI/Polri, untuk melakukan pertolongan dan mencari apabila ada warga yang hilang dan melakukan pertolongan,” terang Amson, kemarin.
Wakil Ketua DPRD Sulsel Saharuddin Alrif mendatangi kantor BPBD Sulsel, Jumat (3/5). Ia bertemu langsung dengan Amson, lalu kemudian mengecek kondisi peralatan dan bantuan yang disiapkan di kantor ini.
”Saya sengaja datang ke kantor BPBD Sulsel agar segera menyalurkan bantuan ke seluruh daerah yang terdampak banjir, termasuk Sidrap. Begitu pula bantuan untuk infrastruktur yang rusak,” ujar Sahar.
Rumah dan Jembatan Hanyut
Terpisah, BPBD Sidrap melaporkan banjir yang terjadi di tiga kecamatan telah menyebabkan satu orang meninggal dunia. Korban terjebak di dalam rumah saat air bah menerjang permukiman warga.
Selain itu, luapan beberapa sungai besar di Sidrap yang masuk ke pemukiman membuat dua rumah hanyut dan satu jembatan penghubung dua desa di Pitu Riawa ikut terbawa arus.
“Ya, satu orang tewas karena terjebak banjir dan tertimpa reruntuhan rumah atas nama H Ali, warga Desa Belawae. Kemudian ada tiga unit rumah hanyut di Kampale Dua Pitu, dan satu jembatan penghubung dua desa ikut terbawa arus,” ungkap Kepala BPBD Sidrap Sudarmin .
Tim SAR gabungan BPBD, PMI, Tagana, Basarnas dan TNI-Polri masih terus melakukan evakuasi terhadap korban banjir dan mendirikan posko-posko bantuan. Dari catatan BPBD Sidrap, terdapat jembatan permanen Sungai Tana Toro dengan panjang 45 meter terbawa arus banjir. Sementara jembatan gantung Tekka Toro rusak berat.
Kemudian jembatan Sungai Buka dengan panjang 19 meter terbawa arus banjir. Jembatan Sungai Cendana dengan panjang 15 meter rusak berat. Sementara jembatan penghubung antara Dusun 6 Lariu dan Dusun 2 Langgara Tungga terputus.
Sedangkan untuk jalan penghubung poros Bataren-Dusun 4 Lemo mengalami longsor di dua titik. Jalan penghubung Dusun Matajang Lariu longsor di tiga titik, jalan penghubung Dusun Matajang- Dusun Lariu longsor di tiga titik. Tak hanya itu, banjir juga mengakibatkan tiang listrik tumbang di Dusun 3 Matajang, serta dua ekor sapi di Dusun 4 Lemo hanyut terbawa banjir.
Banjir juga mengakibatkan 97 rumah terendam di Desa Kalempang Kecamatan Pitu Riawa, dan kurang lebih 400 rumah terendam di Desa Buli Cenrana. Sementara di Kecamatan Dua Pitue, dua dusun di Desa Kampale terendam banjir dan menghanyutkan dua unit rumah.
Menyikapi banjir yang terjadi, Penjabat (Pj) Sekkab Sidrap Muh Yusuf DM mengatakan cuaca ekstrem yang terjadi saat ini menjadi perhatian bersama. Sebagai langkah kongkret pemerintah daerah, Muh Yusuf mengimbau beberapa hal penting.
Pertama, kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis untuk melakukan mitigasi setiap waktu terkait perkembangan kondisi wilayah yang masuk dalam peta rawan bencana. Hal ini penting untuk meminimalisir dampak yang lebih besar.
Kedua, seluruh kendaraan operasional yang memiliki kemampuan 4×4 atau double cabin untuk disiapkan dengan kondisi yang baik. Kendaraan ini sangat penting dalam proses evakuasi di wilayah yang terdampak bencana.
Selanjutnya, Pj Muh Yusuf juga meminta dilakukan pendataan terhadap warga yang terdampak banjir. Data ini akan menjadi acuan dalam memberikan bantuan dan penanganan yang tepat kepada mereka.
Ditekankan pula pentingnya koordinasi dan komunikasi dalam melaporkan kondisi terkini dan perkembangan fakta di lapangan. Dengan adanya informasi yang akurat, langkah-langkah penanganan dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien. (jun-ady)
