Site icon Berita Kota Makassar

3.000 Warga Terisolir, Bantuan Dikirim Pakai Heli

LUWU, BKM — Upaya untuk menyalurkan bantuan kepada warga yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Luwu terus dilakukan. Salah satunya melalui jalur udara.
Pada Minggu (5/5), setelah mencoba tiga kali dan untuk melakukan landing atau mendarat di Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, pada pukul 08.30 Wita helikopter yang membawa bantuan bagi korban berhasil mendarat di Ulusalu, Kecamatan Latimojong. ”Alhamdulillah, (helikopter) sudah mendarat di Ulusalu,” ujar Suparno dari Tim Posko Bencana Banjir dan Longsor Sulsel, kemarin.

Sebelumnya, pada Sabtu (4/5), Pemprov Sulsel juga telah berusaha menyalurkan bantuan ke Kecamatan Latimojong menggunakan helikopter.

Sayangnya gagal karena terkendala cuaca buruk.

Di Kecamatan Latimojong terdapat 3.000 warga pada 12 desa. Akibat banjir dan tanah longsor, tiga jembatan yang menjadi akses ke daerah tersebut terputus.

“Helikopter tidak bisa tembus karena cuaca buruk. Kami sudah coba hingga tiga kali tapi gagal,” ungkap Pj Gubernur Bahtiar, Minggu (5/5).

Pemerintah Provinsi Sulsel dibantu Polda Sulsel dan jajaran TNI, berupaya melakukan percepatan untuk perbaikan jembatan. Namun, memerlukan alat-alat berat ukuran kecil, mobilisasi bahan bakar alat berat, dan mobilisasi pekerja jalan jembatan.

“Untuk ini butuh waktu seminggu. Sehingga hasil evaluasi, jika menunggu jembatan bisa dilalui, maka warga di sana terisolasi hingga satu minggu ke depan,” ungkap Bahtiar.

Dijelaskan
Bahtiar, dibutuhkan bantuan berupa beras dan ikan kaleng untuk 3.000 warga pada 12 desa di Kecamatan Latimojong. Tim yang membawa bantuan beras dan lainnya berupaya menembus menggunakan sepeda motor, dan bantuan disalurkan memakai tali penyeberangan logistik yang dibentangkan di atas sungai.

“Kita akan coba lagi mengirim bantuan menggunakan helikopter,” kata Bahtiar.

Salah seorang warga Luwu bernama Amri, berharap BNPB segera mengirimkan bantuan helikopter agar bantuan pangan bisa dikirim ke Kecamatan Latimojong. Mengingat sulitnya membawa bantuan menuju daerah yang terletak di kaki gunung tersebut.

“Di sana ada 12 desa, 3.000 warga. Kami harap BNPB segera kirim bantuan helikopter. Karena tidak ada jaminan, akses jalan ke sana bisa dibuka sampai satu minggu ke depan. Semoga pemerintah pusat, BNPB bergerak cepat kirim bantuan,” harap Amri.
Dalam peristiwa banjir dan tanah longsor di Luwu, etrcatat ada 14 orang meninggal dunia.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, menyampaikan bahwa korban berasal dari 13 kecamatan yang terdampak, termasuk Suli, Latimojong, dan Belopa.
Tim BNPB terus melakukan pendataan di lapangan, karena kondisi masih berpotensi mengalami dampak lanjutan. Hingga saat ini, keberadaan jenazah korban belum sepenuhnya dilaporkan karena proses pencarian masih berlangsung.
Lebih dari 1.385 keluarga yang terkena dampak telah dievakuasi ke tempat pengungsian.
Banjir dan tanah longsor terjadi setelah hujan deras dengan durasi panjang pada Jumat (3/4) dini hari.

Dampak bencana meliputi 1.867 unit rumah dan lahan persawahan-perkebunan yang terendam, dengan ketinggian air mencapai 1-3 meter. Sejumlah infrastruktur juga rusak, termasuk 103 unit rumah yang mengalami kerusakan berat, 42 unit rumah hanyut, satu unit jembatan, dan 14 unit kendaraan sepeda motor dan mobil. Banjir juga dipicu oleh luapan Sungai Rongkong dan Sungai Baliease yang melintasi daerah tersebut.

Selain itu, dilaporkan ribuan ekor ayam mati akibat banjir bandang di Luwu. Sebagian besar hanyut terbawa arus.

Lya, warga Kecamatan Belopa mengatakan derasnya hujan membuat air tergenang hingga ke pemukiman dan kandang ayamnya. Ketinggian air yang mencapai satu meter lebih menyebabkan ribuan ayamnya tidak bisa terselamatkan.

“Ada 28 ribu lebih ayam yang mati,” ujarnya, Minggu (5/5).

Tak hanya mati terendam di dalam kandang ternak. Sebagian ayamnya juga terbawa arus karena kandang jebol.

“Mati terendam di dalam kandang ternak. Sebagian terbawa arus,” ucapnya.

Atas kejadian tersebut, Lya mengatakan mengalami kerugian hingga ratusan juta. Karena ayam yang mati itu sebentar lagi akan dipanen.

Musibah yang dialami oleh Lya, kehilangan ratusan ayam ternak siap panen karena banjir bandang ini terekam dalam sebuah video dan viral di media sosial. Kejadian itu sontak menarik simpati netizen. Banyak dari mereka yang turut prihatin dan ikut berduka.

Pemerintah sendiri sudah menetapkan tanggap darurat bencana di Kabupaten Luwu selama 30 hari, terhitung mulai tanggal 3 Mei hingga 1 Juni 2024. Banjir terjadi di Kecamatan Suli, Kecamatan Suli Barat, Kecamatan Ponrang Selatan, Kecamatan Larompong, Kecamatan Bajo, Kecamatan Bajo Barat, dan Kecamatan Ponrang.

Kemudian, di Kecamatan Ponrang Selatan, Kecamatan Kamanre, Kecamatan Belopa, Kecamatan Belopa Utara, Kecamatan Larompong Selatan, Kecamatan Bupon. Sementara, longsor terjadi di Kecamatan Latimojong, Kecamatan Suli Barat, Kecamatan Bupon.

(jun)

Exit mobile version