MAKASSAR,BKM.COM–Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di Sulawesi Selatan akan berlangsung 27 November 2024 mendatang. Mereka yang akan maju untuk berkontestasi terus bermunculan. Salah satunya H Samsu Niang yang akan bertarung di Kabupaten Soppeng. Bagaimana kesiapannya?
SAAT ini Samsu Niang tercatat sebagai anggota Komisi VIII DPR RI. Sudah dua periode ia duduk sebagai wakil rakyat di tingkat pusat. Sebelumnya, dua periode pula dirinya menjadi anggota DPRD Makassar.
Pak Ancu –begitu sapaan akrab Samsu Niang– hadir menjadi narasumber di talk show Capila (Cari Pemimpin Layak) Berita Kota Makassar, yang disiarkan langsung melalui Tiktok beritakotamakassar serta diunggah di kanal Youtube Berita Kota Makassar. Konsultan politik yang juga CEO PT Duta Politika Indonesia Dedy Alamsyah Mannaroi juga hadir memberikan ulasannya.
Sebagai kader PDIP, Samsu Niang duduk di kursi Senayan sejak 2014 hingga saat ini. Ia mewakili daerah pemilihan Sulawesi Selatan II. Sebelum ke DPR RI, jabatannya adalah wakil ketua DPRD KOta Makassar periode 2009-2014.
Pria kelahiran Kabupaten Soppeng ini mengaku bahwa banyak yang mempertanyakan kenapa dirinya memilih untuk kembali ke Soppeng, padahal menurut teman-temannya di Jakarta banyak hal yang bisa ia lakukan di ibu kota negara.
“Banyak teman-teman yang mempertanyakan kepada saya kenapa sih pak Samsu Niang mau kembali ke Soppeng? Kenapa ndak tinggal di Jakarta saja. Banyak hal yang bisa dilakukan di Jakarta. Saya pikir bahwa kalau saya kembali ke Soppeng, ilmu yang saya dapatkan selama ini, pengalaman-pengalaman yang saya dapatkan ini, dua periode di Makassar, dua periode di DPR RI dan 17 tahun jadi PNS, saya kira sudah waktunya saya harus kembali untuk daerah kelahiran saya, untuk memperbaiki yang sudah diperbaiki oleh bupati-bupati sebelumnya. Jadi ilmu dan pengalaman yang selama ini saya dapatkan bisa diimplementasikan apabila jadi bupati kan, dan inilah keyakinan saya. Saya akan kembali ke kampung halaman untuk mengabdi memperbaiki Soppeng ke arah yang lebih baik lagi,” terang Samsu Niang.
Alasan lainnya hingga memilih untuk maju di pilkada Soppeng, lantaran ia melihat bahwa daerah ini harus mempunyai pemimpin yang visioner, dan betul-betul tidak mempunyai kepentingan lain kecuali mengabdi untuk masyarakat.
“Selama ini kami di komisi VIII banyak berbuat di Sulsel, bukan di Soppeng saja, tapi seluruh di Sulsel. Tetapi saya melihat Soppeng itu membutuhkan figur yang betul-betul visioner yang betul-betul tidak ada lagi kepentingan lain kecuali untuk mengabdi kepada rakyat. Jadi saya ini kan boleh dikata malang melintang, sudah empat periode, sudah birokrasi. Tidak ada lagi yang saya cari. Sudah selesai hidup saya ini. Jadi saya akan kembali untuk mengabdikan ilmu saya dalam rangka pengembangan Soppeng ke arah yang lebih bagus,” jelasnya.
Diakui Samsu Niang bahwa bupati sebelumnya sudah banyak berbuat. Hal itu tidak bisa dipungkiri. Tapi masih banyak hal yang harus dilakukan untuk Soppeng agar terjadi perubahan. Bukan lagi percepatan, tapi lompatan-lompatan untuk bagaimana Kota Soppeng ini menjadi lokomotif pembangunan di Sulsel maupun lokomotif pembangunan di Indonesia. Karena itu butuh pemimpin yang berpengalaman, punya wawasan dan saya pikir pengalaman saya sudah cukup untuk itu,” imbuhnya.
Samsu Niang memiliki konsep, jika diberikan amanat oleh rakyat dan terpilih sebagai bupati Soppeng di Pilkada 2024, ia akan melakukan terobosan-terobosan baru. Seperti memaksimalkan lahan yang kosong untuk digunakan sebagai lahan pertanian. Juga menyejahterakan guru. Kepada setiap anak yang akan lulus SD, SMP dan SMA wajib mempunyai tiga keahlian.
“Kalau misalnya saya terpilih dan diamanahkan menjadi bupati Soppeng, yang pertama untuk mendapat perhatian adalah sektor pertanian. Itu kita tahu bahwa kehidupan masyarakat di sana itu lebih cenderung ke pertanian. Ilmu pertanian mereka sudah oke. Untuk ilmu pertanian di Indonesia sudah selesailah dikuasai oleh masyarakat di sana. Tinggal bagaimana implementasinya,” jelasnya.
Samsu Niang mengaku punya cara untuk melakukan itu. ‘
‘Yang pertama itu tidak ada lagi lahan kosong di Soppeng. Semua pekarangan rumah dan lahan-lahan yang tidak produktif itu sudah harus kita produktifkan, karena itulah yang membedakan kita dengan negara maju,” tandasnya.
Yang kedua, lanjutnya, adalah pupuk. ”Misalnya pupuk masih kurang. Saya kan anggota DPR. Saya sudah tahu dan paham betul tentang siklus peredaran pupuk itu. Yah…memang sih masih ada pengusaha nakal yang selalu memanfaatkan situasi, tapi saya sudah tahu kapan subsidi itu akan disalurkan oleh pemerintah,” ungkapnya.
Menurut Samsu Niang, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memberikan bantuan sebelum rakyat meminta. Detak detik napas masyarakat itu harus dipahami.
‘
‘Saya lahir dari orang miskin, lahir dari orang kecil. Karena itu saya paham betul tentang apa yang menjadi keinginan rakyat kecil. Perut terlebih dahulu harus kenyang, dompet terisi, sehingga pikiran menjadi jernih,” terangnya.

Sementara itu, CEO PT Duta Politika Indonesia Dedi Alamsyah Mannaroi menyebut bahwa Samsu Niang memang kuat,. Ia melihat peta perpolitikan di Kabupaten Soppeng ini banyak melahirkan politisi hebat. Namun yang miris, menurutnya adalah pada pilkada sebelumnya, karena hanya melawan kotak kosong.
“Soppeng ini banyak melahirkan politisi hebat, dan salah satu kategori wilayah merah. Merah dalam artian yang patut diwaspadai, baik secara politik maupun juga situasi keamanan,” ujarnya.
Dedi melihat pilkada 2024 di Soppeng bisa dua sampai tiga pasangan calon. Misalnya, putra dari petahana melawan Samsu Niang.
“Di 2024 ini kalau saya melihat, di sana bolehlah dua sampai tiga pasangan calon. Misalkan anaknya pertahana mau maju lawan beliau (Samsu Niang), iya pasti asik juga. Asalkan satu, jangan pilkada itu nggak ada lawan, nggak bagus. Lawan kotak kosong itu suhu tendensi politiknya yang paling buruk,” lanjutnya.
Dalam pandangan Dedi, Samsu Niang merupakan sosok yang kritis dan tegak lurus. Ia menilai hal tersebut sangatlah bagus untuk seorang pemimpin, karena biasanya tidak mudah untuk menuruti pimpinan.
“Saya kenal beliau (Samsu Niang) pada tahun 2007. Ketika itu masih di PDK. Saya masih belajar politik. Saya belajar dengan beliau. Salah satu politisi yang kritis, agak susah diatur oleh pemimpin. Biasanya kalau politisi yang susah diatur itu berarti politisi yang lempeng, yang lurus, yang yakin bahwa pilihannya adalah benar. Ini saya pandang dari beliau,” ungkap Dedi. (jar)

