MAKASSAR, BKM — Sebagai upaya menghubungkan enam desa yang terisolir di Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Balai Jalan Nasional Sulsel saat ini tengah membuat jembatan darurat (bailey).
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satuan Kerja Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker BPJN) Wilayah Sulsel Muhammad Rizal menyampaikan targetnya jembatan ini akan selesai pada 20 Mei 2024.
“Bronjongnya sudah di lokasi. Semua lagi dirakit. Selesai 20 Mei Insyaallah. Mudah-mudahan tidak ada hambatan,” ujar Rizal saat dihubungi, Minggu (12/5).
Komponen jembatan tersebut diangkut menggunakan dump truck, dari workshop PUPR di Luwu ke Desa Kadundung. Awalnya, komponen jembatan bailey ini diangkut menggunakan truk tronton. Namun, medan yang membuat truk besar itu tak bisa sampai ke lokasi.
“Sekarang sudah ada di Workshop Dinas PUPR, sedang tahap mobilisasi ke lokasi. Sudah ada sampai lokasi, tapi belum semua komponennya. Karena kami bawa itu pakai dump truck. Kalau pakai tronton tidak bisa diakses kondisi lapangan, dan tak bisa masuk jika pakai (truk) tronton,” ucap Rizal.
Jembatan ini rencananya akan dibuat di Desa Kadundung. Desa ini dipilih, kata Rizal, karena bisa mengakses enam desa yang terisolir. Panjang jembatan tersebut 30 meter, sementara lebar sungai 29,2 meter.
“Jembatan bailey ini mampu dilewati dengan beban 10 ton. Tapi kita batasi sampai 6 ton dulu supaya lebih aman,” terangnya.
Wilayah Latimojong masuk daerah yang terisolir. Akses darat tak mampu dilalui karena empat jembatan penghubung ke kecamatan ini mengalami kerusakan akibat diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu. Tiga jembatan putus, dan satu jembatan miring.
Akibatnya, pemerintah, TNI, Polri dan relawan kesulitan menyalurkan bantuan ke Kecamatan Latimojong. Belakangan ini, pendistribusian logistik melalui udara, menggunakan helikopter.
Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mengaku, jalur ke Latimojong cukup sulit. Bahkan, kata dia, penyaluran air bersih saja diangkut menggunakan helikopter yang biayanya mahal.
“Memang lokasinya sangat sulit, karena biasanya kita bisa tempuh jalur darat, tapi kali ini nggak bisa. Air bersih aja lewat helikopter. Sehingga kita butuh ini (kerja sama). Alhamdulillah di Sulsel ini sangat kompak, sehingga sebetulnya berat kalau melihat medannya. Saya sudah beberapa kali ke tempat bencana, ini salah satunya juga yang paling berat,” kata Mensos Risma saat berkunjung ke Luwu, Sulsel, Jumat (10/5) lalu.
Sepekan pascabencana banjir dan longsor di Luwu, terlihat kekompakan berbagai pihak untuk meringankan beban warga terdampak. Logistik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan relawan terus berdatangan seperti yang terlihat di Posko Induk di Lapangan Andi Djemma Belopa, akhir pekan kemarin.
Hal inilah yang mendapat perhatian khusus dari Mensos.
Di wilayah terisolasi seperti Kecamatan Latimojong, Kementerian Sosial dan stakeholder lain melakukan berbagai upaya untuk menjangkau warga. Salah satunya dengan mengirimkan logistik melalui Indonesia Off-Road Federation (IOF) Palopo dan Luwu.
Bantuan yang disalurkan berjumlah 3,7 ton beras dan kebutuhan dasar lain untuk disalurkan ke beberapa posko di Latimojong, yakni Saronda, Kadundung, dan Pajang.
Atas upaya yang dilakukan tersebut, Mensos memberikan penghargaan kepada 33 orang yang berperan dalam penanganan bencana di Kabupaten Luwu. Di antara yang mendapat penghargaan adalah Pj Gubernur Sulawesi Selatan, Kapolda dan Wakapolda Sulawesi Selatan, Pj Bupati Luwu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, Kapolres Luwu, IOF Palopo, IOF Luwu dan sejumlah personel TNI/Polri.
“Ini penghargaan sekaligus ucapan terima kasih dari Kemensos dan pemerintah pusat kepada semua pihak dan seluruh jajaran TNI/Polri yang telah membantu meringankan beban masyarakat dan tugas Kemensos,” kata Mensos saat memberikan penghargaan.
Di posko lain, yakni dapur umum Kecamatan Suli Kabupaten Luwu, kekompakan terlihat dari personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Palopo. Ada yang masak, ada yang membungkus, ada yang membagikan suplai kalau dapat bantuan dari luar.
“Semua dilakukan secara terorganisir dengan keterlibatan dinas sosial, TNI/Polri, bahkan sampai lini terkecil di desa-desa,” jelas Lukmanul Hakim, Ketua Forum Tagana Kota Palopo.
Kerja sama dan gotong royong semua pihak berdampak signifikan terhadap penanganan bencana banjir dan longsor di Kabupaten Luwu.
Kepala Dinas Sosial Kota Palopo Zulkifli Halid, yang juga menurunkan tim di Kecamatan Suli mengatakan bahwa sebagian besar penduduk sudah kembali dari pengungsian ke rumah masing-masing.
“Mereka sudah mulai membersihkan kediaman masing-masing. Penurunan jumlah kebutuhan nasi bungkus juga menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai bisa memasak makanan sendiri,” terang Zulkifli. (jun)
