DEWAN Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar mewanti-wanti pemeriksaan dan jalur hewan ternak yang masuk ke Makassar mendekati pelaksanaan hari Raya Iduladha atau Idul Kurban yang jatuh pada tanggal 18 Juni 2024 mendatang.
Aswar
Menurut anggota Komisi B Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Makassar, Muchlis Misbah mengatakan, sudah beberapa hari ini telah mengintruksikan Dinas Kelautan Peternakan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Makassar untuk giat melakukan pemeriksaan dan jalur hewan ternak yang masuk ke Makassar.
“Iya kami sudah melakukan koordinasi untuk menindaklanjuti pengawasan hewan qurban nanti, teknisnya seperti apa itu sudah kami serahkan ke pemerintah kota dalam hal ini dinas Peternakan Pertanian dan Perikanan,” ungkapnya saat di konfirmasi, Senin (13/5).
Lanjut Legislator Fraksi Hanura Makassar ini juga mengkhawatirkan hewan-hewan yang akan menjadi hewan kurban masuk ke makassar terkena penyakit, pasalnya dikhawatirkan sapi tidak layak kurban seperti berpenyakit, dan cacat perlu dilakukan antisipasi lebih awal.
“Pokoknya bukan hanya hewan sapi dan kambing saja, tapi daging yang masuk dari luar Makassar juga kami minta di periksa secara teliti. Potensi adanya sapi yang menderita penyakit tertentu setiap tahun untuk di qurban oleh masyarakat besar kemungkinan akan ada,”bebernya.
Pasalnya setiap jelang idul kurban ratusan pedagang musiman menjual sapi dan kambing tanpa ada sertifikatnya kesehatannya. Hewan yang tidak melalui Rumah Potong Hewan (RPH) dapat diragukan kesehatannya, karena sapi yang masuk di kota makassar rata-rata dari daerah yang kesehatannya tidak diketahui, apakah layak konsumsi atau tidak.
Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Makassar, Aswar juga mengaku melihat kondisi pada tahun lalu, ratusan hewan kurban yang tidak layak dikurban. Banyak hewan seperti kambing dan sapi yang berpenyakit, tidak hanya menderita penyakit tetapi banyak pula yang kondisi fisiknya cacat, olehnya itu pemerintah harus mengantisipasi hal demikian.
“Penjual sapi dan kambing yang di pinggir jalan itu biasanya yang tidak terkontrol, mereka semau-maunya saja, berpenyakit sekalu pun dikatakan sehat, sebab mereka memikirkan keuntungan saja, beda dengan yang dikeluarkan RPH, selain kita cari keuntungan kita juga ingin yang sehat dikomsumsi masyarakat, atau yang paling layak,”katanya.
Ia juga menekankan tingkat penjagaan kondisi hewan ada pada kebijakan Pemerintah Kota, mereka harus mengambil langkah untuk memberikan pemahaman pada pedagang dadakan tentang pentingnya kesehatan hewan kurban.
Sebab saat ini beberapa ruas jalan sudah muali dibanjiri penjual sapi yang siap dijual yang man secara kesehatan sudah ditemukan sebab menaruh sapi dipinggir jalan dengan cuaca panas dapat mempengaruhi kesehatan sapi kurban.
“Kondisi kesehatan sapi dapat saja memburuk jika disimpan di bawah terik matahari tanpa terkontrol makanan dan minumannya. Sapi kapan saja dapat sakit karena terlau lama merasakam panas.
Olehnya itu, pemerintah kota perlu merelokalisasi pedagang sapi dadakan ke tempat yang sudah disediakan tes kesehatan bagi sapi kurban yang akan disembelih,” tuturnya. (ita)
