SUDAH menjadi tuntutan sosial bahwa mahasiswa yang tidak aktif berkegiatan, baik organisasi internal maupun eksternal akan dicap sebagai “kupu-kupu”, akronim dari kuliah-pulang, kuliah-pulang. Setidaknya dominasi sekarang ini mahasiswa paling tidak akan mengikuti satu kegiatan meskipun hanya sebatas komunitas.
Masuk ke dalam lingkup organisasi dan saling menemukan koneksi dengan orang baru menjadi pertimbangan yang besar bagi sebagian individu. Penyebabnya, mereka masih dibayang-bayangi ketakutan bahwa kuliah dan organisasi tidak bisa berjalan seiring, seirama, dan sekata.
Yang ada di pikiran bahwa organisasi hanya akan menjadi penghambat perkuliahan. Individu yang sibuk berorganisasi akan menghabiskan banyak waktu mengurus
struktural dan jalannya program kerja, sehingga hal tersebut dapat berdampak pada jam belajar mereka yang semakin menipis.
Padahal antara kuliah dan organisasi tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Yang menjadi masalah adalah ketika mahasiswa salah dalam memilih organisasi sebagai wadah dalam
berproses dan mengembangkan keterampilan diri.
Seharusnya bukan organisasi yang perlu
dihindari, tapi bagaimana individu mengendalikan apa yang mampu mereka kendalikan dalam
diri sendiri. Seperti memilih organisasi yang memang memiliki rekap alumni yang berkompeten dan berhasil dalam karir. Ini bisa menjadi acuan bagi individu untuk termotivasi dan membangun relasi pada orang-orang hebat.
Di samping itu, penting memilih organisasi yang tidak hanya mengedepankan senioritas, tapi bagaimana membangun chemistry untuk tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain. Menjadi cermat juga merupakan bagian dari kemampuan yang harus dikembangkan mahasiswa, menyadari dengan cepat apakah lingkungan dalam organisasi tersebut dapat membantu mereka membentuk diri atau hanya membentur mental semata.
Organisasi sejatinya adalah wadah yang mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki visi misi dan tujuan yang sama, sehingga penting memilih organisasi sesuai dengan kebutuhan diri. Sebab setiap organisasi memiliki latar belakang dan bidang pergerakan yang berbeda.
Contoh tokoh di Indonesia yang sangat terkenal adalah Joko Widodo. Ia merupakan presiden Indonesia yang semasa kuliahnya aktif di organisasi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, termasuk menjadi anggota dan pemimpin Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Pengalaman ini membentuk kepemimpinan dan pemahamannya tentang aspirasi mahasiswa dan masyarakat luas.
Selain itu, Susi Pudjiastuti yang merupakan seorang pengusaha dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia. Semasa kuliahnya, ia terlibat dalam organisasi mahasiswa dan menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Keterlibatannya
dalam organisasi ini kemudian membentuk pemahaman dan kepeduliannya terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Ini menjadi bukti bahwa organisasi bukanlah penghambat kesuksesan
seseorang. Seringkali peluang karir tidak hanya berasal dari pintu akademik, namun pengalaman
kepemimpinan, keterampilan berbicara, dan bagaimana bermasyarakat dengan sekitar juga menjadi bekal penting di masa depan. (jar)

