pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Capila Ulas Peluang Rahman Bando di Pilwali Makassar

Bertarung Tanpa Incumbent, Pernah Dipilih 148 Ribu Orang

MAKASSAR,BKM.COM–Doktor Abdul Rahman Bando (ARB) menunjukkan keseriusannya untuk maju dan bertarung dalam kontestasi pemilihan wali kota (pilwali) Makassar tahun ini. Hal itu dibuktikan dengan ratusan spanduk serta baliho bergambar dirinya dengan tagline Gerbang Makassar, Kerja yang Rakyat Butuhkan. Bagaimana peluangnya?

DI talk show Capila (Cari Pemimpin Layak) yang tayang di kanal Youtube Berita Kota Makassar, Rahman Bando hadir bersama konsultas politik yang juga Direktur Nurani Strategic Dr Nurmal Idrus. ARB merupakan mantan Kepala Dinas Pendidikan serta mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Makassar.
Sebelumnya, ia pernah maju di pilwali Makassar 2020 sebagai wakil dari Munafri Arifuddin (Appi). Namun belum berhasil. Hal itu tidak membuatnya putus asa dalam mewujudkan niatnya mengabdi sebagai pemimpin di Kota Daeng.
Kali ini ia kembali akan maju. ARB mengaku bahwa sudah mempunyai modal untuk bertarung, lantaran pada pilwali sebelumnya ia sudah mengantongi 184 ribu suara, yang artinya mempunyai pengalaman tanding satu kali.

“Jadi kalau dikatakan apa yang mendorong kami kembali untuk ikut berkontestasi di pilwali Makassar, yang pertama itu bahwa kami sudah memiliki pengalaman tanding satu kali. Kemudian saya punya modal kerja, di mana saya 20 tahun lebih mengabdi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Makassar dengan bertugas di banyak dinas. Ada enam dinas yang kurang lebih saya pernah tempati bertugas, dan diantara yang lima itu pernah saya pimpin, yaitu BKKBN, Ketahanan Pangan, Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Peternakan. Kemudian saya pernah Kadis Pendidikan, dan pernah merangkap antara kepala Dinas Perikanan, Pertanian dan juga sebagai kepala Dinas Pendidikan,” ungkap ARB.

Ditanya apakah akan maju sebagai 01 (calon wali kota) atau 02 (calon wakil wali kota), ARB menjelaskan bahwa jika ditanya secara spontanitas tentu ia akan menjawab bahwa pastinya 01. Namun bila merujuk pada pertimbangan keterpilihan nanti akan dilihat setelah dilakukan kajian yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Juni mendatang.

“Kalau kita bermodalkan jawaban spontanitas pasti saya akan mengatakan bahwa saya mau 01. Tetapi ketika kita merujuk pada dasar-dasar bagaimana pertimbangan keterpilihan untuk seorang kepala daerah, maka saya akan menjawab bahwa nanti kita akan lihat di hasil kajian. Yah, mungkin kita akan lakukan pada bulan Juni untuk yang pertama. Karena sekarang ini baru 12 hari kerja politik,” terangnya.
Menurut ARB, ia baru akan melakukan survei independen pribadi pada Juni untuk mengukur seperti apa ketika bekerja satu bulan. ”Lalu nanti pada bulan Juli akan kami ukur lagi. Karena saya pikir walaupun sekarang partai politik itu dinamis orang lobi-lobi politik, tapi menurut saya partai politik itu belum akan memutuskan usungannya pada bulan Mei dan Juni. Mengingat calon-calon dan para kontestan ini kan baru memulai sosialisasi. Kita tidak tahu diantara kami ini yang kasih naik gambar ini mana yang direspons oleh masyarakat. Nah, oleh karena itu kerja-kerja elektoral ini masih sangat penting dan saya kira semua sama tujuannya bagi bakal calon yang saat ini kasih naik gambar di Makassar,” jelasnya.
Tentang kesiapannya untuk menggaet parpol di Kota Makassar, ARB memaparkan bahwa ia sudah mengikuti semua prosedur yang dianjurkan oleh partai. Ia pun mengembalikan dua formulir partai, yakni Demokrat dan PDIP.
Menurutnya, para petinggi partai yang ada di Sulsel adalah orang-orang cerdas dan memiliki pertimbangan yang matang dalam menentukan pilihan mereka.

“Pertama saya sudah mengikuti semua prosedur yang dilakukan oleh partai, seperti pendaftaran, pengambilan formulir. Saya sangat yakini para petinggi partai di Makassar dan Sulsel saya yakin bahwa mereka adalah orang-orang cerdas. Saya yakin bahwa pertimbangan utama dalam memilih calon pemimpin yang akan disuguhkan kepada masyarakat adalah pemimpin yang mempunyai gagasan dan ide-ide yang mau dilakukan ketika nanti dipercaya mau jadi wali kota di Makassar. Sehingga harapan saya di situ,” tandasnya.
Namun, lanjutnya, ia tidak menutup mata bahwa komunikasi politik itu penting sekali. Begitu pula komitmen-komitmen politik dengan partai politik.
”Karena politik ini adalah harapan. Ada harapan ketika misalnya Rahman Bando mengendarai suatu partai A atau B. Untuk membesarkan partai itu, tentu kita harus mampu meyakinkan bahwa ketika saya jadi wali kota, kita menjadi pembina politik yang Insyallah berlaku adil kepada partai-partai politik yang mendudukkan setara dan memberikan ruang yang setara untuk kita sama mengembangkan. Karena ini kan pemerintahan, disusun oleh dua unsur, eksekutif dan legislatif. Tetapi pelibatan masyarakat itu juga tidak bisa kita nafikan,” jelasnya.

Itulah sebabnya mengapa Rahman Bando menebarkan gambar di seluruh sudut Makassar dengan tagline Gerbang Makassar. Gerbang Makassar merupakan akronim dari Gerakan Bersama Membangun Makassar.
”Ada sub tagline lainnya yang kami tulis di situ, Kerja yang Rakyat Butuhkan. Pengalaman saya mengelola pemerintahan, banyak program-program yang disuguhkan pemerintah secara hirarki yang ternyata kadang-kadang tidak terlalu dibutuhkan oleh masyarakat di bawah. Nah, kita mau balik bagaimana supaya rakat dulu ditanya, aspirasinya harus kita serap, apa yang mereka butuhkan.,” terangnya.

Sementara itu, Direktur Nurani Strategis Nurmal Idrus menegaskan bahwa pilwali 2024 berbeda jauh dengan yang sebelumnya, karena adanya beberapa keputusan MK yang terasa berat bagi para calon.

“Pilwali Makassar kali ini kan sebenarnya berbeda jauh dengan pilwali sebelumnya. Kenapa? Karena mungkin kekurangan figuritas. Itu akibat adanya keputusan Mahkamah Konstitusi yang kemudian memberikan syarat berat kepada calon kepala daerah, yaitu mereka yang berstatus caleg terpilih harus mengundurkan diri. Problemnya adalah penetapan KPU itu September, sementara pelantikan antara September dan Oktober. Jadi memang pada saat belum mendaftar itu belum dibebankan untuk mengundurkan diri, tetapi kan secara otomatis ketika mereka ditetapkan menjadi calon kepala daerah dan mereka akan dilantik itu yang akan bermasalah,” terangnya.

Nurmal menjelaskan, bahwa KPU kemarin memang sempat membuka wacana untuk para calon agar tetap bisa melakukan pencalonan walaupun terpilih sebagai caleg. Namun hal tersebut langsung ditindaklanjuti oleh MK. Tentu hal tersebut membuat para calon akan memikirkan secara matang jika ingin tetap maju sebagai calon walikota.

“Nah, KPU kemarin sebenarnya telah membuka sebuah wacana untuk memberi mereka peluang, tetapi kemudian mengubahnya lagi. Keputusan MK memang tegas. Akibatnya apa? Pada beberapa daerah seperti kota Makassar, figur-figur yang selama ini menjadi foutgather, figur-figur yang selama ini mengumpulkan suara, diluar dari Pak Rahman Bando kan itu termasuk wilayah itu. Pak Munafri, kemudian Dg Ical yang kemarin pernah terlibat, Dr Fadli, Rahmatika Dewi, Ibu Fatmawati Rusdi kemudian Rudianto Lallo, semua ini kan pada akhirnya ragu-ragu untuk maju. Kenapa? Ya, karena memang ada yang harus dipertaruhkan. Mereka telah berdarah-darah untuk mengambil suara di pemilu lalu kemudian dihadapkan pada pilihan yang belum tentu,” jelasnya.

Karena itu, menurut mantan ketua KPU Kota Makassar ini, cukup wajar jika selama ini yang bersosialisasi itu bukan lagi figur-figur yang selama ini ditunggu warga Makassar. Figur-figur yang memang baru muncul, kecuali Munafri dengan Rahman Bando yang memang pernah ikut berkontestas.
”Nah, kondisi ini kemudian melahirkan pertarungan yang sangat dinamis. Akibatnya apa? Tidak ada figur popularitas dan elektabilitas premium yang menjulang. Apalagi kemudian tidak ada lagi incumbent,” ujarnya.
Ditanya mengenai peluang Rahman Bando untuk bertarung di pilwali tahun ini, Nurmal mengaku peluangnya cukup besar. Karena di pilwali sebelumnya ia berhasil mengumpulkan 184 ribu suara. Angka tersebut tentu menjadi modal besar bagi ARB. Apalagi sepertinya tidak ada incumbent.

“Kalau kita berbicara tentang peluang kan semua pasti sama. Tetap ada yang gampang dihitung dan ada yang susah. Nah, kalau Pak Rahman Bando ini kan suka atau tidak suka pernah dicari oleh 184 ribu orang. Maka suka atau tidak suka yang 184 itu pernah mencari foto Pak Rahman Bando dan ketika itu berhadapan dengan suara incumbent Danny Pomanto. Nah, itu menurut saya yang menjadi modal awal yang bagus,” bebernya. (jar)



×


Capila Ulas Peluang Rahman Bando di Pilwali Makassar

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link