GELARAN pilkada 2024 menjadi harapan masyarakat agar pasangan terpilih dapat menuntun arah kebijakan yang lebih baik lagi ke depannya. Isu golput (golongan putih) alias tidak menyalurkan hak pilih menjadi isu yang sering diperbicangkan oleh banyak kalangan, termasuk anak muda gen z.
Banyak diantara kita yang berpikir bahwa golput adalah pilihan terbaik, lantaran apapun hasil dari kontestasi pemilu tidak akan memberikan perubahan yang signifikan dalam kehidupan kita. Tentu pemikiran seperti ini tidak relevan untuk diikuti, karena sebagai masyarakat kita tidak boleh apatis dalam situasi politik. Sebab politik mencakup segala hal dari setiap sendi kehidupan kita, baik itu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Semuanya ditentukan oleh proses politik. Karena itu, sebagai masyarakat kita harus tetap kritis pada setiap proses politik yang ada.
Selain itu, memilih golput juga dapat merugikan tatanan perkembangan sistem demokrasi negara kita. Sebab, dalam menghadapi tantangan yang kompleks di era saat ini, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk memilih pemimpin yang mampu membawa perubahan positif dan mencerminkan nilai-nilai masyarakat.
Tingginya angka golput juga dapat menyebabkan rendahnya tingkat kepercayaan dan kredibilitas calon terpilih. Akibatnya, pemerintah daerah tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik karena kurangnya dukungan politik.
Selain itu, golput juga dapat berdampak besar pada representasi politik yang akurat di Indonesia. Ketika tingkat golput tinggi, para pemimpin terpilih mungkin tidak benar-benar mencerminkan keragaman opini dan preferensi yang sebenarnya dari masyarakat. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya distorsi representasi politik, di mana suara yang seharusnya diwakili oleh para pemimpin terpilih tidak terdengar dalam proses pembuatan kebijakan.
Golput merujuk pada sikap atau tindakan seorang pemilih yang memilih untuk tidak memberikan suara atau tidak memilih salah satu dari semua kandidat yang tersedia dalam sebuah pemilihan. Istilah ini mulai dikenal secara luas pada masa Orde Baru di Indonesia dan masih digunakan hingga sekarang.
Golput seringkali menjadi perhatian utama dalam konteks pemilihan umum di Indonesia. Pemilih yang memilih untuk golput kerap memiliki berbagai alasan yang berkaitan dengan ketidakpuasan terhadap pilihan yang ada, ketidakpercayaan terhadap sistem politik, atau penolakan terhadap proses pemilihan itu sendiri.
Fenomena golput dapat dicegah dengan melibatkan peran pemerintah untuk aktif melakukan kampanye pendidikan pemilih dan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat. Selain itu, terdapat upaya untuk mengubah kebijakan yang memudahkan partisipasi pemilih, seperti memperluas akses pemilih di luar negeri.
Dibandingkan dengan golput, partisipasi aktif dalam proses politik dan pemilihan adalah cara terbaik untuk membentuk kebijakan dan menentukan arah negara. Oleh karena itu, penting bagi setiap warga negara untuk ambil bagian dalam proses demokrasi dan membuat suara mereka didengar.golput sendiri merupakan tindakan yang dapat merugikan masyarakat. Karena dengan tidak memilih, artinya membuat kita tidak turut andil dalam pembangunan bangsa dan negara yang tentunya hal ini bertentangan dengan nilai-nilai patriotisme sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para pendahulu kita. Oleh sebab itu kita sebagai warga negara, khususnya anak muda harus aktif dalam melakukan partisipasi politik untuk masa depan bangsa. (yus)
