MAKALE, BKM — Ketua Bapemperda DPRD Tana Toraja, Kristian HP Lambe prihatin terhadap tingginya angka stunting di Tana Toraja. Melonjaknya angka stunting di Tana Toraja tidak berbanding lurus dengan anggaran yang telah dikucurkan yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Hal ini menunjukkan kinerja Tim Percepatan Penurunan Stunting tidak maksimal.
Saat ditemui BKM, Kristian mengatakan prevalensi stunting menggambarkan jumlah kasus stunting di Tana Toraja meningkat dibuktikan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 35,4 persen Tahun 2022, dan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 36,9 persen Tahun 2023. Menurut Kristian, sebaiknya pengelolaan stunting di Tana Toraja melibatkan dokter anak untuk mendiagnosis anak, dokter obgyn (kandungan) untuk memeriksa berat janin yang tidak sesuai kehamilan, dan dokter gizi untuk memeriksa berat janin tidak sesuai usia kehamilan dan tata laksana nutrisi pada gizi kurang atau gizi buruk dan yang terdiagnosa stunting dari dokter anak.
Demikian pula OPD terkait harus bekerja sesuai dengan tupoksinya yang terintegrasi dengan penanganan stunting. Misalnya untuk sanitasi dan pemberdayaan ekonomi keluarga. Sementara penanganan nutrisi melibatkan dokter spesialis sesuai kompetensinya.
Diakui Kristian, anggaran yang tersedia di Puskesmas Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sudah habis dan faktanya komposisinya tidak sesuai kebutuhan anak. ”Seharusnya tim percepatan penurunan stunting melibatkan ahli gizi (dietisien) dan dokter spesialis gizi untuk menentukan kebutuhan kalori serta kompisisi makanannya,”ujarnya.
Dia melihat OPD hanya kumpul saja dan bekerja sembunyi dan tidak melibatkan orang yang berkompoten untuk langsung turun ke titik masalah. ”Jangan sampai terjadi angka stunting tinggi karena data yang tidak valid sebab yang mengukur bukan ahlinya. Angka stunting tidak sebanding dengan anggaran yang digelontorkan penanganan stunting,” beber Kristian.
Apa benar tinggi badan anak kurang gizi dan stunting di Toraja. Padahal acara rambu solo dan rambu tuka sepanjang tahun terus ada, kemana itu daging bergizi tinggi, hal ini kerap dipertanyakan masyarakat luas. Jika ada ibu hamil terdeteksi kurang gizi, intervensi nutrisinya hendaknya tepat dan benar dari dokter spesialis gizi, sampai anak usia dua tahun. Jika hal ini dikawal dengan benar maka anaknya tidak akan menderita stunting sebab setelah usia anak lewat dari usia dua tahun tinggal urusan berat badan dijaga seimbang dengan tinggi badan.
Apalagi perkembangan pesat otaknya sampai dua tahun, setelah usia lewat dua tahun sudah normal, makanya intervensi terbaik di masa 1000 hari kehidupan anak mulai dari kandungan.
”Hasil konsultasi dan diskusi dengan dokter spesialis gizi itu kami uraikan, termasuk hasil rapat dengar pendapat Dinkes dengan Komisi II,” pungkas Kristian. (gus/C)

