pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Dulu Dibayar Rp1.500, Kini Bisa Menafkahi Keluarga

Kisah Joni Pasuang Tukang Jahit Sepatu di Toddoppuli

bkm/fajar SEMANGAT--Joni Pasuang tetap bersemangat memainkan jarinya menjahit sepatu dan sandal milik pelanggan. Kini usahanya terus maju hingga mampu menyekolahkan anak hingga selesai dan menafkahi keluarganya.

UNTUK menghidupi kebutuhan keluarga setiap hari, usia bukanlah halangan untuk mencari rezeki, hal tersebut dibuktikan oleh Joni Pasuang.Lelaki yang saat berumur 62 tahun tersebut tetap melakoni profesinya sebagai tukang jahit sepatu dan sendal.

Penulis: FAJAR

Setiap harinya ia harus terjun ke lapak tempat usahanya menjahit sepatu yang letaknya berada di Jalan Toddopuli Raya, Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini, hal tersebut guna untuk menunggu pelanggan menjahit sepatu dan sendal.Hebatnya profesi tersebut ia sudah lakoni selama 30 tahun lebih, ia sama sekali tidak merasakan lelah demi menafkahi keluarganya di rumah.

“Sudah 30 tahun pak saya menjahit sepatu, ini semata mata agar tetap bisa menghidupi keluarga di rumah,” kata Joni Pasuang saat ditemui di tempat usahanya.
Di bawah atap terpal dan dinding yang terbuat dari seng, disitulah ia terampil memainkan jarum dan sepatu yang ia jahit, padahal alat-alat yang ia gunakan cukup sederhana, alatnya pun ia ambil dari trali becak yang sudah rusak, kemudian ia modifikasi agar bisa dipakai untuk menjahit sepatu.
Setiap pukul 10.00-17.30 Wita, ia menunggu pelanggan yang hendak memakai jasanya, ia mengaku bahwa dengan profesinya yang selama ini ia lakoni dan ia mampu menghidupi keluarganya di rumah.

“Saya bersyukur walaupun hanya menjahit sepatu, saya tetap bisa menghidupi keluarga, dan memenuhi kebutuhan anak-anak saya,” imbuhnya.
Diketahui pak Joni ini memiliki tiga anak, dan anak pertamanya saat ini sudah berkeluarga, sementara anak yang kedua sementara sedang melamar pekerjaan.
Diketahui pak Joni memulai profesinya sebagai tukang jahit sepatu lantaran memang memiliki skill, ia mengaku keterampilan tersebut ia dapat saat melihat pamannya yang sedang menjahit sepatu yang kebetulan memang sebagai tukang jahit pada waktu itu.
“Iya memang ada keahlian, dulu itu saya punya om yang memang kerja begini, waktu itu saya cuman lihat-lihat dan ternyata saya bisa, setelah itu saya juga membuka jasa jahit sepatu,” sambungnya.
Suka duka selama menjahit sepatu pun pernah ia rasakan, apa lagi pada saat tahun 1993, ia mengaku pada saat itu ia baru terjun ke dunia tukang jahit sepatu dan tarifnya pun pada saat itu cukup murah.

“Waktu tahun 1993 itu, sekitar 1 tahun saya kerja itu, harganya Rp1.500 per pasang, kadang pun itu tidak ada sama sekali, tapi kan yang namanya ditekuni iya begini keadaannya, Alhamdulillah sekarang saya bisa menafkahi keluarga, bahkan bisa menyekolahkan anak-anak saya dan membiayai kebutuhan istri,” jelasnya.
Berbeda dengan dulu, kini pak Joni mematok tarif Rp20.000-25.000 per sepasang sepatunya, ia mengaku hal tersebut juga tergantung pada kondisi sepatu, jika tidak rusak dan tidak rumit biasanya ia hanya kasih harga Rp20.000, namun jika sepatu yang dijahit rumit dan susah maka ia patok dengan harga Rp25.000.
“Kalau masalah harga itu tergantung dari sepatunya pak, kalau tidak rumit itu bisa 20 ribu, tapi kalau agak rumit itu 25 ribu, dan sudah lengkap dengan lem, jadi itu cukup kuat dan awet untuk sepatu dan sendal yang ingin dijahit,” tandasnya.
Oleh karena itu, dari hasil menjahit sepatu, saat ini biasanya pendapatan paling rendah yang ia dapat itu sebesar Rp100.000 dan yang paling benar Rp200.000 (Jar)



×


Dulu Dibayar Rp1.500, Kini Bisa Menafkahi Keluarga

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link