GOWA, BKM — Sudah menjadi tradisi setiap kali panenan padi melimpah, maka masyarakat di Dusun Asana, Desa Parigi Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa pasti melakukan pesta hajatan.
Pesta syukur berhasilnya panen dengan kondisi hasil melimpah ruah dan tanpa wabah hama itu dilakukan masyarakat Asana dengan melakukan Addengka Ase Lolo (menumbuk padi muda).
Menumbuk padi muda ini bukan kiasan semata tapi betul-betul menumbuk padi yang memang sangat muda yang merupakan panenan padi perdana dari sawah.
Pemerhati budaya Kecamatan Tinggimoncong, Amran Azis bersama istrinya Qasidah Ardan yang berada di tengah warga Asana saat tradisi addengka ase lolo digelar warga pada Sabtu (1/6) lalu sangat mengapresiasi tradisi warga Asana tersebut.
Bahkan, menurut Amran tradisi ini harus menjadi wisata budaya yang patut dilestarikan. Diakui, tradisi nenek moyang yang turun temurun dilakukan dahulu ini, sudah langka seiring sudah canggihnya teknologi pertanian saat ini. Yakni pembajakan sawah dilakukan handtractor hingga panenan padi pun dilakukan dengan peralatan mesin.
”Dulu leluhur kita mengolah sawah menggunakan kerbau untuk membajak tanah sawah lalu menanam padi dilakukan gotong royong oleh masyarakat saling bantu, dan ketika panen padi dilakukan juga secara gotong royong yang dikenal dengan akkatto menggunakan pisau khusus pemotong padi yang disebut ani-ani. Terus padi yang sudah dikatto (dipotong) pakai ani-ani dijemur lalu dtumbuk pakai lesung panjang menggunakan bilah kayu bambu untuk memisahkan bulir padi dari tangkainya. Terus untuk menjadikan bulir padi menjadi beras dilakukan di lesung bulat menggunakan alu kayu padat ujungnya bulat. Makanya tradisi begini sudah sangat langka namun di Asana kebiasaan leluhur ini masih dilakukan sampai sekarang. Tradisi inilah yang patut dilestarikan,” kata Amran bersama Qasidah yang menyaksikan atraksi para warga menumbuk padi muda (addengka ase lolo) dengan jenaka.
Pesta panen di Dusun Asana ini digelar seru di halaman SD/SMP Satap Mandalle. Ratusan warga desa bersukaria. Warga sesekali tergelak karena ulah para padengka (penumbuk) yang jenaka.
Ketua Panitia Padengka Ase Lolo Asana, Muftiamin, mengatakan, tradisi addengka ase lolo ini melibatkan warga dari tiga dusun yakni Asana, Mandalle dan Matanna.
”Alhamdulillah, hajatan pesta panen ini bisa terselenggara meski sangat sederhana. Yang kami utamakan disini adalah kebersamaan seluruh masyarakat, berkumpul dan menikmati tradisi ini bersama,” kata Muftiamin.
Hal senada dikatakan Kepala Dusun Asana, Thamrin Karaeng Manye. Sosok yang ditokohkan ini berharap ke depannya tradisi addengka ase lolo ini bisa lebih meriah lagi.
”Tentunya perlu dukungan berbagai pihak seperti pemerintah desa, pemerintah kecamatan dan para pemerhati budaya,” kata Thamrin Karaeng Manye.
Sementara Sekdes Parigi sekaligus Pjs Kades Parigi, Hisbullah Ardan, menyebutkan, kegiatan budaya seperti ini sebaiknya digelar tiga hari di akhir pekan yakni Jum’at Sabtu dan Minggu. Dan semua yang menjadi pelaku dalam tradisi addengka ase lolo ini mengenakan busana adat khas suku Makassar.
Bahkan disepakati kegiatan tahun depan dilakukan di area persawahan atau tepi sungai sehingga selain menjadi wisata pesta panen juga menjadi area camping day untuk masyarakat setempat maupun masyarakat luar yang ingin menyaksikan dan merasakan kemeriahan tradisi addengka ase lolo tersebut.
Pemerhati budaya Amran pun mengusulkan agar pesta panenan berikutnya diwarnai lomba Appadekko, Abbarutu, lomba domino dan lomba nyanyi karaoke serta parade kue tradisional berbahan beras. (sar)

