Site icon Berita Kota Makassar

Inovasi Wafel Daun Kelor Untuk Cegah Anemia

MAKASSAR,BKM.COM–BERBAGAI jenis inovasi dilahirkan mahasiswa perguruan tinggi di Makassar. Salah satunya adalah wafel yang terbuat dari bahan alami untuk mencegah penyakit anemia. Permana Agung menghadirkan inovasi ini.

AGUNG, begitu sapaan akrabnya. Ia mahasiswa Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Makassar. Sederet prestasi yang telah diraihnya serta kisah perjalanan untuk meraihnya diceritakan ketika menjadi tamu siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar.

Awalnya, menurut Agung, berkuliah di Poltekkes Kemenkes Makassar merupakan keinginan dari orangtuanya. Meski begitu, ia meyakini bahwa pilihan orangtua selalu yang terbaik. Apalagi Agung memang punya keinginan berkuliah di jurusan kesehatan.

Sedari bangku sekolah dasar (SD), Agung telah mencatatkan sejumlah prestasi, khususnya pada bidang kesusatraan, yakni membaca puisi. Ketika itu ia bersekolah di Kabupaten Maros. Mengikuti lomba baca puisi, Agung berhasil keluar sebagai juara dua tingkat kabupaten.

Menurut Agung, dirinya memang sangat menyukai membaca puisi. Dia pun menunjukkan kemampuannya itu di sela wawancara berlangsung. Puisi berjudul Karawang Bekasi ia deklamasikan dengan penuh penghayatan. Puisi ini berisi tentang perjuangan para pahlawan.

Kecintaannya dalam bidang sastra berlanjut hingga ia kuliah. Ia berhasil menjadi juara tiga di Pekan Olahraga dan Seni Mahasiswa Kesehatan Se-Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Tak hanya sastra, Agung juga berprestasi di bidang akademik. Ketika duduk di bangku SMP, ia aktif mengikuti Olimpiade Matematika, Kimia hingga storytelling.

Saat ditanya mengenai prestasi yang paling berkesan dalam perkuliahan, Agung mengatakan bahwa saat duduk di perguruan tinggi dirinya mengikuti banyak jenis lomba seperti puisi, storytelling, hingga lomba essai.

Namun menurutnya, salah satu yang paling berkesan adalah ketika dirinya berhasil menjadi juara satu dalam lomba cipta resep tingkat nasional yang diselenggarakan secara online oleh Poltekkes Kemenkes Semarang pada tahun 2022.

Ketika itu Agung bersama rekan setimnya berhasil menciptakan resep wafel dari tepung beras merah yang dicampur dengan daun kelor, serta dikombinasikan dengan paduan es krim buah naga, labu kuning, serta biji labu kuning.
Resep tersebut dibuatnya lantaran terinspirasi dari upaya pencegahan terhadap penyakit anemia. Penyakit ini disebabkan oleh rendahnya jumlah sel darah merah akibat kekurangan zat besi, asam folat, atau vitamin B12.

Menurut Agung, makanan sehat yang dikemasnya menjadi wafel memiliki khasiat sebagai upaya pencegahan anemia. Karena daun kelor mengandung cukup tinggi zat besi. Apalagi jika kemudian dipadukan dengan es krim buah yang kaya akan vitamin C, akan meningkatkan kemampuan penyerapan pada pencernaan seseorang.
Awalnya, Agung tidak pernah menyangka biasa meraih juara. Apalagi juara satu. Ia pun bangga bisa membuat harum nama kampusnya untuk berkontestasi pada ajang nasional.
Agung memang dikenal sebagai mahasiswa yang sering ditunjuk oleh dosen di kampus untuk mengikuti berbagai jenis lomba. Seperti pada lomba promosi kesehatan di media sosial tiktok, hingga diatetik yang merupakan lomba untuk menyelesaikan berbagai kasus yang ada di rumah sakit.
Dari sekian lomba yang kerap kali diikutinya, Agung mengakui bahwa tidak semua berakhir dengan juara. Ada kalanya ia tidak mendapatkan juara sama sekali. Namun, hal itulah yang kemudian mendorongnya untuk semakin giat belajar dan berkompetisi. Karena baginya, memang kalah adalah sesuatu yang sangat lumrah dalam setiap ajang perlombaan.
Siapa sangka, ketika duduk di bangku SMA dulunya, Agung pernah menjadi korban body shaming dari temannya. Ia kerap kali diejek yang membuatnya sempat bertanya mengapa dirinya harus ada di posisi tersebut.

Namun, Agung kemudian mencoba untuk bangkit dengan cara terus berprestasi. Ia ingin menunjukkan bahwa setiap orang memiliki potensi dalam mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Saat ini agung berada di semester akhir perkuliahan. Ia memiliki rencana untuk melanjutkan studinya sampai pada level S3, dan kelak bisa menjadi seorang profesor. ”Saya mau jadi dosen,” ujarnya ketika ditanya tentang cita-citanya kelak. (yus)

Exit mobile version