MAKASSAR, BKM — Tinggal menghitung hari partai politik mengajukan pasangan calonnya yang akan bertarung di pemilihan kepala daerah (pilkada). Tanggal 27 hingga 29 Agustus telah ditetapkan sebagai waktu pengajuan tersebut. Konstelasi pun terus berubah dan kian dinamis.
Di Sulawesi Selatan, hal itu cukup terasa di dua daerah bertetangga, yakni Kabupaten Gowa dan Takalar. Dua orang bersaudara yang merupakan saudara kandung Kabaharkam Polri Komjen Fadil Imran, hampir pasti diusung menjadi calon bupati.
Mereka adalah Firdaus Daeng Manye yang akan berkontestasi di Takalar bersama bakal calon wakil bupati Hengky Yasin, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Firdaus merupakan kakak dari Fadil Imran.
Hengky Yasin yang jauh hari sebelumnya menegaskan maju sebagai cabup Takalar atau 01, memilih untuk ”mengalah”. Hal itu disebabkan keputusan PKB yang lebih mendorong kadernya sebagai wakil.
Sementara St Husniah Talenrang, adik dari Fadil Imran, maju sebagai bakal calon bupati Gowa bersama politisi Partai Gerindra Darmawangsyah Muin (DM).
Saat dikonfirmasi, Hengki Yasin mengakui kabar terkait deal-deal dan keputusan ditawari pada posisi sebagai wakil. Anggota DPRD Sulsel itu menyebutkan, perubahan bargaining position atau posisi tawar menjadi ‘nilai’ di pandangan internal. Bahkan dia menyebutkan itu menjadi keputusan partainya sehingga harus diikuti.
“Saya sebagai kader partai sekarang ini sementara menunggu perintah partai. Apakah saya diperintah menjadi 01 atau pada akhirnya saya diperintah menjadi 02 di pilkada Takalar. Saya siap menaati perintah partai,” ujar Hengki, Selasa (20/8).
Dua figur, yakni Firdaus Manye dan Hengky Yasin sejatinya akan bertarung menjadi rival orang nomor satu di Butta Pangranuangku, julukan Takalar. Namun mereka kemudian bersatu. Ini lantas memunculkan wacana paket tersebut akan melawan kotak kosong.
Firdaus dan Hengky memang yang paling menonjol selama tahapan pilbup Takalar 2024. Mereka sama-sama sudah mengantongi surat tugas dan dukungan partai.
Hengky telah mengamankan surat tugas dari PKB dengan lima kursi dan PKS tiga kursi. Total delapan kursi sudah lebih dari cukup untuk mengantarkan Hengky mendaftar di KPU yang hanya enam kursi. Sementara Daeng Manye sudah mengantongi Gerindra empat kursi, Nasdem empat kursi, PDI Perjuangan empat kursi dan PAN satu kursi. Total 13 kursi.
Terkait paket Firdaus Manye-Hengky Yasin menguat di Takalar, mendapat apresiasi dari Sekretaris DPW PKB Sulsel Muh Haekal. Ia menyebutkan deal-deal paket tersebut setelah Hengky dan Daeng Manye bertemu beberapa waktu lalu.
“Infonya mereka (Manye-Hengky) sudah ketemu berdua. Dg Manye 01 dan Hengki 02. Kecenderungan begitu. Mereka sudah berdiskusi sama ingin membangun Takalar, jadi cari titik temu,” jelas Haekal.
Meski demikian, Haekal menambahkan bahwa keputusan tersebut akan kembali pada parpol pengusung nantinya. Apakah memaketkan dua figur itu atau ada perubahan.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia Timur Anshar Aminullah, menegaskan bahwa pilbup Takalar berpotensi mengalami krisis kepemimpinan jika terjadi kotak kosong. “Terjadinya kotak kosong juga menjadi momentum untuk menegaskan kalau daerah tersebut menciptakan kekhawatiran dan mengalami krisis calon pemimpin dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.
Imam Fauzan di Gowa
Perubahan konstelasi juga terjadi di Kabupaten Gowa. Sekretaris DPD Gerindra Sulsel Darmawangsyah Muin (DM) harus mengalah untuk mendampingi politisi Partai Amanat Nasional (PAN) St Husnia Talenrang (HT).
Sebelumnya, DM yang juga Wakil Ketua DPRD Sulsel sudah mendapatkan rekomendasi dari Demokrat dengan empat kursi dan Perindo satu kursi, serta surat tugas dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Jika Takalar ada kemungkinan terjadinya kotak kosong, tidak seperti di Gowa. Sebab Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulsel Imam Fauzan yang akan didorong maju menghadapi pasangan HT-DM di pilbup.
Wakil Ketua Umum DPP PPP Dr HM Amir Uskara (Aura) dipastikan batal bertarung. Namun, ia menyiapkan putra sulungnya, yakni Imam Fauzan.
Informasi yang dikumpulkan koran ini, Imam Fauzan akan dipasangkan dengan seorang pengusaha travel bernama H Abd Samad Hamid. Ia merupakan suami dari anggota Fraksi PKS DPRD Sulsel Meity Rahmatia. Dari hasil pileg 14 lalu, Meity terpilih sebagai anggota DPR RI dari Dapil Sulsel I.
Untuk pilbup Gowa, PPP mengontrol 12 kursi, sementara PKS memiliki dua kursi. Sementara syarat mengusung hanya sembilan kursi.
Parpol Evaluasi Rekomendasi
Parpol yang melakukan perubahan atau evaluasi terhadap surat tugas hingga rekomendasinya untuk bakal calon wali kota maupun bupati terus bertambah Kali ini ada Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkinan Bangsa (PKB), Gerindra, Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), Perindo, dan Hanura. Sebelumnya ada tiga parpol yakni Nasdem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Golkar.
PPP mengubah rekomendasi untuk calon bupati Gowa dari HM Amir Uskara ke Imam Fauzan. Bisa juga surat tugas untuk Andi Sugiarti di Bantaeng.
Untuk PKB juga mengubah rekomendasinya di pilbup Takalar dari Hengky Yasin ke Firdaus Daeng Manye. Namun dalam rekomendasi itu Hengky sebagai calon wakil dari Firdaus Manye.
Demokrat juga akan mengubah rekomendasinya untuk pilbup Gowa dari Darmawangsyah Muin yang berpasangan dengan Risma Kadir Nyampa. Kini Darmawangsyah jadi bakal calon wakil bupati Gowa mendampingi Husniah Talenrang.
Ketua DPD Demokrat Sulsel Ni’matullah Erbe membenarkan adanya perubahan tersebut. Namun pihaknya masih membahas bersama DPP. “Tunggulah, sementara dibahas di DPP, apakah Ibu Risma tetap maju, atau Demokrat berkoalisi dengan parpol lain,” ujar Ni’matullah di ruang kerja Wakil Ketua DPRD Sulsel, Selasa (20/8).
Demikian pula Perindo yang sebelumnya merekomendasikan DM sebagai calon bupati, juga berubah. PAN juga akan mengevaluasi surat tugas dan rekomendasinya di pilwali Makassar dari Abd Rahman Bando. Demikian pula untuk Partai Hanura. (rif)
