MAKASSAR, BKM — Kondisi cuaca cukup ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini harus disikapi oleh warga untuk lebih berhati-hati terhadap kemungkinan terjadinya peristiwa kebakaran.
Kepala Dinas Damkarmat Makassar, Hasanuddin menyampaikan Agustus ini cukup banyak peristiwa kebakaran yang terjadi.
Misalnya pada 19 Agustus lalu, sebanyak 18 unit rumah warga dua kecamatan di Kota Makassar terbakar.
Kebakaran terjadi di Jalan Regge, Lorong 4, Kelurahan Wala Walaya, Kecamatan Tallo. Sementara lokasi kedua di Jalan Abu Bakar lambogo (Ablam), Kelurahan Bara-Baraya Selatan, Kecamatan Makassar.terjadi Masih di pekan ini, kebakaran juga terjadi di Gudang Gandum, Baddoka Kecamatan Biringkanaya, Tallasa City Kecamatan Tamalanrea.
Menyikapi kondisi tersebut, Hasanuddin mewanti-wanti untuk berhati-hati dalam aktivitas di dapur dan penggunaan peralatan eletronik serta kegiatan yang berpotensi menjadi penyebab kebakaran.
“Disampaikan juga bagi pengguna jalan raya untuk dapat memprioritaskan jalur armada pemadam menuju kelokasi dengan cara menepikan kendaraan anda kedaerah aman guna kelancaran operasi pemadaman,” sambungnya.
Dikonfirmasi terpisah, Wali Kota Makassar Danny Pomanto mengimbau masyarakat untuk melakukan mitigasi, memperketat kewaspadaan terhadap potensi-potensi yang bisa menyebabkan kebakaran.
“Dari statistik kebakaran di Makassar bahkan pernah sampai 11 kali dalam satu hari, pertama karena kenaikan suhu semakin kering, kedua kemarin gara-gara listrik yang padam,” ucap Danny Pomanto.
Disamping itu, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) juga diminta untuk selalu siaga dan sigap dalam menangani peristiwa kebakaran.
Sejauh ini, Danny menilai Dinas Damkarmat Kota Makassar sudah maksimal menjalankan kerja-kerjanya.
Berdasarkan pantauannya, tim Damkarmat sudah tiba di lokasi kejadian kurang dari 12 menit.
Selanjutnya, dari segi fasilitas juga dianggap mumpuni, Pemkot Makassar menyiapkan damtor (pemadam motor) di masing-masing kecamatan untuk melakukan penanganan pertama terhadap kebakaran.
Perangkat RT/RW juga seharusnya melakukan pemantauan 24 jam layaknya siskamling (sistem keamanan lingkungan).
“Makanya masyarakat itu diimbau untuk berhati-hati, RTRW itu mesti ada semacam siskamling untuk menjaga 24 jam kondisi masyarakat,” ujarnya.
“Walaupun ini kebakaran tapi kita masih syukur kebakarannya siang hari, paling bahaya dan berisiko kalau malam hari pada saat orang sudah tidur. Ini yg harus jadi bagian mitigasi kita,” hambanya. (rhm).
