Site icon Berita Kota Makassar

Stop Silent Majority

DI sela-sela gemuruh memburuknya sistem demokrasi, jangan hanya menjadi silent majority. Demokrasi membutuhkan percakapan bebas dan terbuka, ruang leluasa yang sanggup menampung suara yang beraneka.

Menghadapi pejabat-pejabat yang ”tipis telinga” dengan hak prerogatif yang terpendam dalam bayang-bayang sering dipakai sebagai alat untuk memperkaya diri sendiri dan mengabaikan suara rakyat yang penting untuk dihargai.

Penyalahgunaan hak tersebut membuat kebebasan berdiri terancam, keadilan terinjak dan demokrasi merana. Rakyat yang seharusnya menjadi pusat kekuatan, dikendalikan oleh mereka yang bertindak sewenang-wenang.

Kita yang terlahir di negeri Indonesia ini teruslah berpikir kritis dan menyuarakan yang perlu diperjuangkan. Diam adalah senjata bagi sang penguasa agar semua berjalan sesuai dengan permainannya.

Sikap membisu atau diam dan terlihat tidak ada apa-apa tentu akan memunculkan banyak dampak negatif, misalnya, terlihat dalam hal keputusan Mahkamah konstitusi (MK) yang sempat ingin dianulir oleh DPR.

Tentu ini menjadi masalah besar dan serius. Namun dengan turunnya masyarakat dan mahasiswa ke jalan keputusan tersebut langsung disahkan oleh DPR tentu ini menjadi sebuah hal baik bahwa demokrasi memang ada di tangan rakyat.

Rakyat tidak boleh diam lagi. Rakyat harus bangkit dan bergema. Semua hak akan dikembalikan pada tempatnya yang sejati. Jangan biarkan cahaya demokrasi memudar, melawan penyalahgunaan, menjaga teguh nilai-nilai yang benar dan kembalikan cahaya penuntun ke arah kebaikan yang sejati.(jar)

Exit mobile version