Site icon Berita Kota Makassar

Azhar Pimpin IKA UMI, Danny Nahkodai IKA Unhas

MAKASSAR, BKM–Bakal calon wakil gubernur Azhar Arsyad terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni (IKA) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Kordinatorat Wilayah Sulsel, dalam musyawarah wilayah (Muswil) yang mengangkat teman ‘Menggerakkan Potensi Alumni UMI Demi Mewujudkan Sulawesi Selatan Yang Lebih Baik’ di Galesong, Kabupaten Takalar, Selasa (10/9).
Presidium Sidang Muswil IKA UMI Sulsel, Mualimunsyah Abim mengatakan seluruh peserta dari lintas fakultas, alumni dan sepakat memilih Azhar memimpin IKA UMI Sulsel.
Menurutnya, Azhar yang juga Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulsel dianggap mampu mengkonsolidasikan para alumni dan tanpa resisten. “Seluruh peserta sepakat memilih Pak Azhar. Alasannya kontribusi beliau sangat besar buat organisasi,” katanya, Selasa (10/9).

Awalnya, muncul nama lain, namun jelang pemilihan mengundurkan diri dan menyatakan bulat mendukung Azhar.
Azhar dianggap sosok yang mampu mengemban amanah membawa organisasi lebih baik. Azhar yang juga mahasiswa program doktor pascasarjana Hukum UMI adalah sosok yang telah terbukti dan mampu menjadi pemersatu untuk IKA UMI Sulsel.
Pasca keputusan ini, akan dilakukan konsolidasi menyusun kepengurusan dan pelantikan di seluruh daerah. Sebelum pelantikan, aspirasi dalam Muswil ingin membentuk kepengurusan IKA UMI di seluruh kabupaten kota di Sulsel.

“Kita akan membentuk pengurus setiap daerah, untuk dilakukan pelantikan secara bersama,” katanya.
Azhar juga mengaku bersyukur dan berterima kasih atas kepercayaan sahabat alumni.
“Terima kasih atas segala kepercayaan yang diberikan, untuk mengemban amanah sebagai Ketua IKA UMI Koordinatorat Sulawesi Selatan,” ucap alumnus Fakultas Hukum UMI S1 dan S2.
Anggota DPRD Sulsel periode 2019-2024 ini menambahkan IKA UMI bukan sekadar forum silaturahmi persaudaraan, tapi juga sarana untuk memperjuangkan kepentingan keummatan.
Azhar diketahui adalah Ketua IKA UMI Kabupaten Pinrang. Dalam kiprahnya menahkodai IKA Pinrang dianggap berhasil sehingga layak memimpin IKA UMI tingkat Provinsi.
Saat ini, Azhar juga tercatat sebagai bakal calon wakil gubernur mendampingi Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto yang juga Ketua IKA Unhas Sulsel.
Danny Pomanto terpilih sebagai Ketua IKA Unhas Provinsi Sulsel dan telah dilantik di Hotel Four Poin by Sheraton Makassar, Senin 19 Desember 2022 lalu. (rhm/rif)

Asri Tadda Beberkan Alasan Memilih DIA

DINAMIKA Pilgub Sulsel makin menghangat setelah pasangan Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto-Azhar Arsyad (DIA) mendaftar di KPU Sulsel.
Hampir bisa dipastikan, Pilgub Sulsel tahun ini bakal head to head, antara Danny-Azhar dengan Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi (ASS-Fatma).
Sebagai penantang, DIA tidak datang dengan tangan kosong. Sejumlah ide dan gagasan perbaikan dikemas untuk “menyelamatkan” Sulawesi Selatan. Di berbagai flyer dan media publikasi DIA, selalu ada tagline “SAVE SULSEL”.
Nah, tidak sedikit yang bertanya, mengapa Sulsel harus diselamatkan. Bukankah selama ini Sulsel rasanya baik-baik saja?
Juru bicara DIA, Asri Tadda memaparkan, bagi DIA, Sulsel sedang tidak baik-baik saja. Ada sejumlah persoalan serius di daerah ini yang membutuhkan treatment yang tepat, dari orang yang tepat pula.

Asri mengatakan persoalan keuangan daerah yang paling krusial.
“Jika ini tidak dikelola dengan baik, maka kinerja pemerintah akan terganggu, program kerja bisa saja terhambat atau gagal dilaksanakan karena kendala biaya,”kata Asri.
Dia memaparkan, fakta itu yang terjadi di akhir masa jabatan Andi Sudirman tahun 2023 lalu. Pemprov Sulsel mengalami defisit keuangan mencapai 1,5 triliun.
Pj Gubernur Sulsel saat itu, Bahtiar Baharuddin, mengatakan bahwa defisit terjadi karena perencanaan keuangan yang keliru.
Pasalnya, ada pendapatan daerah yang diklaim sebagai dana bagi hasil (DBH) untuk kabupaten/kota. Sisanya disebabkan karena hutang berdasarkan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Sulsel.

Akibat defisit ini, seluruh kegiatan yang direncanakan pada anggaran perubahan 2023 akan dipangkas dan ditahan sampai Desember 2023.
Defisit yang nyata pada penghujung masa jabatan merupakan preseden kurang baik untuk sekadar melanjutkan ke periode berikutnya, alih-alih untuk menawarkan kemajuan.
“Karena itu, DIA terpanggil bukan hanya untuk menutupi defisit yang ada, melainkan juga untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menstimulasi pertumbuhan ekonomi Sulsel yang 2-3 kali lebih tinggi dari sebelumnya melalui pembangunan terintegrasi di seluruh wilayah,”ujarnya.
Target ini tentu bukan tanpa alasan. Sebagai Wali Kota dua periode, Danny berhasil melejitkan PAD dari 500M menjadi lebih dari 1,5 triliun di penghujung masa jabatannya tahun 2024 ini.
Selain itu, secara konseptual, DIA juga sudah siap untuk mengoptimalkan potensi pertumbuhan ekonomi ril di Sulsel terutama dari sektor non-tambang yang berbasis kerakyatan. Ini tentu akan menjadi keunggulan Sulsel di masa depan.
Selanjutnya, kata Asri, terkait tata kelola ASN yang bekerja di Pemprov merupakan tulang punggung pelayanan pemerintahan.
Disampaikan, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) telah sedemikian rupa mengatur tata-kelola ASN dalam rangka memastikan pelayanan bisa optimal dan jenjang karir berjalan mengikuti sistem merit.

Sayangnya, tata kelola ASN di Pemprov Sulsel selama petahana menjabat, mengundang pro-kontra dari berbagai pihak.
Tidak sedikit ASN dinonjob, dimutasi atau bahkan didemosi tanpa alasan yang jelas. Lalu digantikan dengan personil yang secara kecakapan dan jenjang karir, patut dipertanyakan.
Tindakan ini jelas mengganggu ekosistem dan stabilitas kinerja ASN di lingkup Pemprov. Perlahan namun pasti, jabatan seolah bisa didapat bukan lagi karena melihat kinerja dan kecakapan, tetapi lebih karena faktor lain yang sulit dijelaskan.

“Itulah mengapa DIA merasa terpanggil mengusung jargon SAVE SULSEL, salah satunya untuk mengembalikan tata kelola ASN sesuai dengan aturan dan kelaziman yang ada,”tegasnya.
Dengan begitu, para ASN akan bekerja dengan tenang dan nyaman, tanpa harus khawatir dimutasi atau didemosi tanpa alasan jelas. Pada gilirannya, kinerja mereka bisa lebih optimal, dan pemerintah bisa mencapai target dari setiap program yang dilaksanakan.
Yang juga menjadi sorotan adalah menyangkut nasib petani. Menurutnya, Sulawesi Selatan adalah daerah yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Sayangnya, perhatian kepada nasib petani belum dilakukan secara komprehensif. Padahal pertanian merupakan benteng kokoh menjaga stabilitas ekonomi rakyat.
Sepuluh tahun terakhir, terjadi penurunan jumlah petani. Dari 1.173.954 unit usaha pertanian (UTP) tahun 2013, kini menjadi 1.121.665 pada tahun 2023. Jadi terjadi penurunan sebesar 4,45 persen atau sekitar 52.289 UTP.

“Masalah terbesar adalah pada tidak stabilnya harga jual hasil produksi pertanian,”imbuhnya.
Dalam konsep DIA, hal yang paling dibutuhkan petani adalah jaminan bahwa hasil pertanian mereka bisa terjual dengan harga pasar yang layak dan menguntungkan.
Karena itu, DIA ingin menyelamatkan nasib petani dengan memastikan bahwa pemerintah yang akan bertindak sebagai pembeli pertama untuk semua komoditas pertanian yang ada, tentu dengan harga layak yang sudah ditetapkan.

Dengan begitu, spirit bertani warga bisa kembali menguat dan kapasitas produksi bisa meningkat. Pada akhirnya, pemerintah bisa meningkatkan nilai jual dari produk pertanian yang sudah dibeli langsung dari petani. Ini tentu menjadi salah satu sumber pendapatan daerah yang jumlahnya tidak sedikit.
Asri juga menyinggung soal keberagaman yang menjadi salah satu penopang terwujudnya kerukunan hidup bermasyarakat dan beragama adalah dengan menjaga dan menghargai perbedaan dalam keberagaman yang ada.

Menurutnya, Sulsel sebagai daerah yang dihuni multi-etnis dengan kekayaan budaya dan adat-istiadat, serta agama dan kepercayaan yang beragam, perlu dipimpin figur yang telah terbukti bisa menerima dan menghormati semua perbedaan yang ada.
“Danny sebagai Wali Kota Makassar dua periode dikenal sangat dekat dengan semua golongan dan agama. Dan semua itu dilakukannya tanpa sekat-sekat kesukuan atau agama,”jelas Asri.
Bagaimana agar keberagaman yang ada bisa dioptimalkan untuk membangun Sulsel lebih baik lagi. Semua dilakukan tanpa tendensi ke etnis tertentu, atau pada agama dan kepercayaan tertentu. Karena sejatinya, pemerintah harus hadir untuk semua golongan masyarakat tanpa terkecuali. Dan kehadiran Danny-Azhar adalah peluang besar untuk bisa melakukan semua hal itu secara bersama-sama. Itulah mengapa Danny-Azhar BAIK untuk Sulsel, dan BAIK untuk semuanya. (rhm/rif)

Exit mobile version