MAKASSAR, BKM–Kontestasi pemilihan wali kota (Pilwali) makassar tidak hanya sekedar mengadu program dan jaringan tim pemenangan, tapi juga sudah masuk perebutan basis.
Meski sejak awal elektoral Munafri Arifuddin alias Appi jauh lebih tinggi, namun dengan masuknya Indira Yusuf Ismail, Andi Seto Gadista Asapa dan Abd Rahman Bando (ARB) yang digandeng oleh Amri Arsyid membuat peta kekuatan drastis berubah.
Basis suara Appi-Aliyah terancam oleh kehadiran tiga pasangan calon lainnya, khususnya ARB yang pernah maju bersamanya di Pilwali 2020 lalu.
Dengan dukungan dari komunitas Massenrempulu, ARB dikenal memiliki basis kuat di kalangan warga Enrekang, yang sebagian besar juga mendukung IAS.
Pengamat Politik dari UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Firdaus Muhammad, menyatakan bahwa Pilwali Makassar akan berlangsung seru, dengan perebutan basis suara yang terbagi-bagi di antara empat pasangan calon.
Meskipun ketua tim pemenangan berada dalam satu lingkaran keluarga besar, pertarungan ini akan sangat kompetitif.
“Secara geopolitik, basis suara terpecah. Bagaimana strategi tim dan relawan di lapangan akan sangat menentukan hasilnya,” ujar Firdaus, Kamis (19/9).
IAS, yang awalnya hanya berencana berperan di belakang layar, akhirnya dipercaya menjadi Ketua Tim Pemenangan pasangan Appi-Aliyah. Langkah ini diambil untuk memperkuat basis dukungan di tengah dinamika politik yang melibatkan orang-orang terdekatnya.
Di sisi lain, Deng Ical menegaskan komitmennya untuk memimpin tim INIMI menuju kemenangan. Ia juga mengarahkan tim untuk memenangkan pasangan Danny Pomanto dan Azhar Arsyad (DiA) di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Selatan. Namun, Deng Ical belum ingin membeberkan strategi yang akan digunakan, khususnya dalam meraih dukungan kaum milenial. (jun/rif)
