Site icon Berita Kota Makassar

Tim DIA Ingin Nomor Satu

MAKASSAR, BKM — Tim dari dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman-Fartmawati Rusdi (Andalan Hati) dan Mohammad Ramdhan Pomanto-Azhar Arsyad (DIA) akan mencabut nomor urut yang dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel di Hotel Claro Makassar hari ini, Senin (23/9). Untuk agenda tersebut, KPU membatasi pensonel masing-masing paslon sebanyak 100 orang.

“Karena berdasarkan tempat yang disiapkan, kami cuma bisa memfasilitasi paslon bersama tim dan parpol pendukung itu masing-masing 100 orang. Terus, teman media sekitar 85 orang. Karena proses pencabutan nomor urut itu yang penting. Kami undang adalah paslon, timnya, parpol, dan media serta Forkopimda,” ujar Ketua KPU Sulsel Hasbullah.
Untuk persiapan proses pencabutan nomor urut, KPU Sulsel menggelar rapat koordinasi bersama tim paslon, parpol serta aparat keamanan tentang teknis dan pengamana agar pelaksanaan kegiatan berlangsung aman dan lancar.

“Nanti sore (kemarin) bersamaan dengan kegiatan rapat kita. Kami minta masukan dan saran dari kepolisian terkait proses pengamanan. Tapi setahu saya kalau cuma cabut nomor urut, ini kan tim semua mereka saling mengenal satu sama lain. Tidak mugkin ada hal yang kita khawatirkan,” jelas Hasbullah lagi.
Berdasarkan informasi, KPU Provinsi Sulsel dan KPU Kota Makassar menetapkan lokasi pencabutan nomor urut peserta pilgub dan pilwali sama-sama di Hotel Claro Makassar. Hanya saja ruangannya yang berbeda. Pengundian nomor pilwali dilakukan KPU Kota Makassar di Pinisi Room, sedangkan untuk pilgub dilakukan KPU Sulsel di Sandeq Room.
Memilih lokasi di hotel untuk pengundian nomor urut, belajar dari kondisi pada saat tahapan pendaftaran paslon pada 27 Agustus lalu di kantor KPU Sulsel. Hasbullah pun menyimpulkan bahwa kantor KPU Sulsel tidak memadai apabila menerima dua paslon pilgub sekaligus.
“Karena dua paslon masing-masing membawa massa yang tidak sedikit. Kalau kami kondisi kantor tidak memadai. Kemudian dari assesmen keamanan juga meminta sekiranya di luar (kantor KPU) yang lebih baik,” terangnya.

Beberapa KPU kabupaten/kota, kata dia, juga mengajukan permintaan yang sama. Seperti halnya KPU Makassar yang sebelumnya juga sempat kewalahan menerima empat paslon pilwali Makassar dengan massa yang sangat banyak.
Sehingga pemindahan lokasi pencabutan nomor urut ini juga dinilai akan meminimalisir potensi kemacetan yang ditimbulkan. “Kasihan warga kalau paslon dipaksakan masuk ke sana. Jadi barusan kami koordinasi dengan kepolisian. Makanya, segera kami laporkan untuk pengusulan kebijaksanaan pimpinan KPU RI. Tapi apapun itu kita tunggu keputusannya,” tukasnya.
Koordinator Divisi Teknis KPU Sulsel Ahmad Adiwijaya mengatakan bahwa membeludaknya massa pendukung paslon pilgub pada tahap pendafataran, menjadi pertimbangan KPU untuk melakukan tahapan pencabutan nomor urut di tempat yang lebih terbuka.

“Kalau kemudian pertimbangan nanti, karena kemarin dilihat full (paslon) gantian masuk. Bagaimana kalau bersamaan. Itu jadi bahan pertimbangan buat kami. Saran dari masyarakat sipil, jadi nanti kita ajukan tempat (lain yang lebih memadai),” singkat Adiwijaya.

Anggota KPU Kota Makassar, Sri Wahyuningsih mengakui bahwa sejak pekan lalu pihaknya menjadwalkan untuk pengundian nomor urut paslon pilwali Makassar di Hotel Claro.
“Jadi, pencabutan nomor urut di Hotel Calro jam 14.00 Wita. Nanti setelah KPU Sulsel paginya, KPU Makassar siang, ruang berbeda,” singkatnya.
Tim pemenangan Andalan Hati, Andi Januar Jaury Dharwis mengemukakan bila nomor urut sebagai salah satu media untuk memudahkan komunikasi ke masyarakat, selain akronim dan nama lengkap. “Sebagai alat mengidentifikasi para paslon dari berbagai cara/teknis. Utamanya panduan pencolosan, kampanye lebih khusus ditujukan ke pemilih disability. Dengan pertimbangan itu bagi Andalan Hati semua nomor urut memiliki nilai tambah saat memulai resmi kontestasi pilgub ini,” ujar Andi Januar.

Menurut politisi Partai Demokrat ini, simbol nomor urut tidak akan berarti tanpa kerja elektoral. Dengan pilihan yang terbatas yang hanya satu atau dua, tentu hal ini menjadi sempit juga ketika secara kebetulan diparalelkan dengan kontestan kabupaten/kota yang rerata lebih dari dua paslon.

Juru bicara paslon DIA Asri Tadda berharap mendapat nomor urut satu. “Mudah-mudahan dapat nomor urut satu. Alasannya, karena satu adalah angka istimewa, angka pertama dalam bilangan yang memiliki peranan sentral di berbagai bidang ilmu dan tradisi budaya. Angka satu juga perlambang keutuhan, kesatuan. Angka satu juga paling pas untuk menuliskan frasa “D1A,” jelasnya.
Meski demikian, Asri tidak menilai mau mendapatkan nomor urut berapa pun. DiA, kata Asri, sudah siap berkontestasi di pilgub dengan semua strategi yang telah disusun.

Nihil Tanggapan Masyarakat

Pada Minggu (22/9), KPU Sulsel telah menetapkan dua bakal pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sulsel menjadi pasangan calon dalam rapat pleno tertutup di Hotel Claro Makassar. Rapat dipimpin Ketua KPU Sulsel Hasbullah didampingi anggota KPU Sulsel masing-masing Tasrif, Upi Hastati, Romi Harminto, Ahmad Adiwijaya, Hasruddin Husain, dan Marzuki Kadir.
“Kita sudah melakukan pleno tertutup penetapan paslon gubernur dan wakil gubernur Sulsel. Alhamdulillah, berita acara semua sudah ditandatangani oleh tujuh pimpinan KPU. Tadi juga kami sudah bacakan surat keputusannya,” ujar Hasbullah sesuai pleno, kemarin.

Hanya dua bakal paslon mendaftar di KPU yang dibuka 27-29 Agustus, yakni Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi dan Moh Ramdhan Pomanto-Azhar Arsyad.
“Kedua-duanyanya setelah melalui proses perbaikan berkas dan dinyatakan lengkap, tanggal 15-18 September masa tanggapan masyarakat nihil. Kemudian untuk klarifikasi dengan sendirinya tidak ada proses klarifikasi, karena proses tanggapan masyarakat juga nihil,” paparnya. (rif-jun)

Exit mobile version