SEBAGAI generasi Z kami kini menjadi sorotan di tengah dinamika sosial dan politik global. Kami juga tumbuh seiring dengan teknologi yang semakin maju, yang membentuk cara kami memandang dunia.
Sudah tidak dipungkiri juga bahwa gen Z mendapat lampu sorot di era ini, dikarenakan kami telah terlibat dalam segala aspek dunia kerja yang generasi sebelumnya katakan dunia ini hanya dijamah oleh orang dewasa.
Sepertinya mereka menganggap Gen Z masih di bawah umur. Apalagi sangat terasa saat saya masuk di salah satu perusahaan besar yang ada di Makassar.
Gen Z sangat disoroti karena cara pandang, cara menjalani kehidupan dan kreativitasnya out of the box katanya. Pikiran kami selalu dinantikan juga, dan hal tersebut cukup mendapat beban tersendiri bagi kami.
Namun hal ini yang menjadi motivasi bagi kami untuk terus maju dan berkembang.
Gen Z tidak hanya dikenal sebagai generasi yang adaptif, tetapi juga sebagai generasi yang aktif menyuarakan isu-isu sosial melalui platform media sosial dan gerakan-gerakan akar rumput.

Beberapa aspek politik yang menjadi perhatian utama bagi gen Z adalah isu-isu lingkungan, keadilan sosial, hak asasi manusia, dan kesetaraan gender.
Dengan kesadaran yang tinggi terhadap perubahan iklim dan hak-hak minoritas, gen Z ingin membawa harapan baru untuk masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Kami cenderung mendukung kebijakan yang lebih progresif terkait perubahan iklim dan keadilan rasial.
Walaupun seringkali kami dianggap over open minded terhadap generasi tertentu, but this isn’t bout gender or sexuality. Kami lebih kepada menyuarakan hak mereka dalam kemanusiaan yang mana lebih sering mendapat diskriminasi sosial.
Aktifnya kami dalam metaverse ini sebagian besar menyumbang hal positif dalam perkembangan politik di dalam negeri. Kehadiran kami dalam ruang digital tidak hanya terbatas pada hiburan, tetapi juga menciptakan ruang untuk advokasi, gerakan sosial, dan partisipasi politik.
Gen Z memanfaatkan teknologi untuk mengorganisir aksi dan menyebarkan informasi secara luas dan cepat.
Contoh yang paling mencolok adalah saat gelombang protes besar-besaran menentang Omnibus Law pada tahun 2020. Gen Z menjadi salah satu penggerak utama di balik kampanye penolakan terhadap undang-undang kontroversial ini.
Melalui media sosial, kami berhasil memobilisasi massa dan menyebarkan informasi yang seringkali diabaikan oleh media arus utama. Bahkan kami juga menggunakan platform seperti Twitter (X) dan Instagram untuk membagikan informasi lapangan, lokasi aksi, dan menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap dampak negatif dari Omnibus Law terhadap hak-hak pekerja dan lingkungan.
Selain itu, Gen Z seringkali lebih skeptis terhadap institusi politik tradisional dan cenderung menuntut transparansi yang lebih besar dari para pemimpin mereka.
Jadi kami menggunakan kekuatan media sosial untuk mengorganisir kampanye global, memobilisasi dukungan, dan berusaha menekan para pemimpin politik untuk bertindak.
Hal ini tentunya membawa butterfly effect dalam hal lain seperti peran dalam memberantas korupsi.
Banyaknya pejabat yang tertangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkat laporan dari publik, termasuk bukti-bukti yang diungkap melalui tangkapan layar media sosial, menunjukkan bagaimana keterlibatan gen Z dalam ruang digital berkontribusi positif.
Banyaknya pejabat yang terungkap melakukan penyalahgunaan wewenang melalui unggahan gaya hidup mewah keluarga mereka di media sosial, menjadi salah satu bukti nyata bahwa teknologi digital dapat menjadi alat pengawasan publik yang efektif.
Tidak berhenti di situ, banyak gerakan lainnya yang juga mendapatkan momentum dari keterlibatan aktif Gen Z. Gerakan #ReformasiDikorupsi adalah salah satu contoh di mana generasi ini bersatu dalam menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap praktik-praktik politik yang korup.
Gerakan ini menyebar secara luas melalui media sosial dan memberikan tekanan yang cukup signifikan terhadap pemerintah untuk mempertimbangkan kembali kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.
Meskipun Gen Z memiliki pandangan politik yang kuat, tantangan bagi kami adalah memastikan suara kami didengar di arena politik yang sering kali didominasi oleh generasi yang lebih senior.
Di sisi lain, aksi solidaritas terhadap berbagai isu kemanusiaan, seperti dukungan terhadap minoritas, gerakan #MeToo di Indonesia, serta kampanye lingkungan seperti #LawanAmdal, juga merupakan hasil dari partisipasi aktif Gen Z.
Mereka memanfaatkan kekuatan kolektif yang dibentuk melalui ruang digital untuk mendorong perubahan nyata di dunia nyata.
Dengan segala tantangan yang ada, Gen Z telah membuktikan bahwa keterlibatan mereka dalam dunia politik melalui platform digital dan metaverse dapat menjadi kekuatan besar dalam mendorong perubahan, memperkuat pengawasan terhadap pemerintah, serta memperjuangkan hak-hak yang mereka yakini sebagai kunci menuju masa depan negara di kemudian hari nanti. (jar)

