TORAJA UTARA, BKM — Calon gubernur Sulsel nomor urut satu Moh Ramdhan Pomanto melakukan kampanye di Toraja Utara. Ia mengawali kunjungannya dengan menemui langsung ketua dan pengurus Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja, Senin, (7/10).
Ketua Umum BPS Gereja Toraja Pendeta Dr Alfred Anggui, mengucapkan selamat datang kepada Danny Pomanto dan rombongan. “Bapak Danny dan rombongan, selamat datang di Tongkonan Sangulele (semua untuk semua). Kami bersyukur, semoga perjalanan Pak Danny dan rombongan selalu lancar,” ungkap Alfred.
Menurutnya, momentum kedatangan cagub Danny Pomanto di Tana Toraja dan Toraja Utara ini merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi semua. “Ini hari yang menggembirakan. Di kesempatan ini kami memberi kesempatan menyampaikan apa yang akan menjadi visi misi ke depan maju di pilgub Sulsel. Beliau Pak Danny dikenal wali kota yang luar biasa, inovatif dan cerdas,” jelasnya.
Sementara itu, Danny Pomanto mengaku sangat terhormat dengan sambutan yang luar biasa dari pengurus BPS Gereja Toraja. “Kami merasa sangat terhormat diterima dengan baik di sini. Biasanya kalau ke Toraja seperti rumah sendiri. Pada saat ke Toraja saya punya obsesi bagaimana daerah ini bisa lebih maju lagi ke depan. Satu kuncinya jika kami memenangkan pilgub nanti,” ungkap Danny, yang disambut tepuk tangan hadirin.
Danny menambahkan, arsitektur gereja Toraja bisa mengurusi semua. Termasuk kaum perempuan dan semuanya. Karena itu, ia beraharap warga Toraja bisa memilih pemimpin yang bisa merangkul semua kalangan.
“Saya punya visi baik untuk semua. Jadi cocok dengan struktur gereja Toraja. Kedatangan kami tentunya ingin mendekatkan diri dengan masyarakat Toraja. Saya sudah kunjungan ke selatan dan Pak Azhar sudah selesaikan di Ajjatappareng. Saat ini saya di Eropa, yakni Enrekang, Toraja dan Luwu,” tambahnya.
Bagi Danny, menang kalah dalam pilgub itu merupakan urusan Tuhan. Namun, tentunya semua perjuangan butuh usaha untuk mencapai hasil maksimal.
“Kami selalu berharap kepada Tuhan setelah usaha. Anak lorong itu bosnya adalah rakyat. Dan ada perkembangan menarik, tentunya kami ingin mendapat input dari orang tua dan senior-senior kami di Tana Toraja dan Toraja Utara,” terangnya.
Danny juga menyampaikan bahwa pilgub bukan hanya bagi-bagi-bagi uang, tapi titik untuk mengubah nasib. Maka inilah kesempatan politik kepada masyarakat untuk tentukan nasib rakyat ke depan.
“Olehnya, memilih pemimpin itu adalah hak bagi warga negara untuk menentukan arah yang lebih baik untuk semua,” pungkasnya.
Azhar Masuk Pasar Kalimporo
Calon wakil gubernur Sulsel nomor urut satu Azhar Arsyad melanjutkan kampanyenya di Kabupaten Bulukumba. Bersama rombongan, politisi PKB ini tiba di Bulukumba, Minggu malam (6/10) usai dari Kabupaten Sinjai.
Di Bulukumba, Azhar menginap di kediaman Alkhaisar Jainar Ikrar, yang juga anggota DPRD Bulukumba terpilih dari PKB. Tepatnya di Dusun Kalimporo, Kecamatan Kajang.
Pada Senin pagi (7/10), Azhar mengunjungi Pasar Kalimporo dengan berjalan kaki. Ia didampingi Ketua DPC PKB Bulukumba Pahidin dan Alkhaisar.
“Assalamualaikum, baik-baikjeki, sehat-sejatki semua,” ucap Azhar saat memasuki pasar dan menyalami pedagang.
Azhar juga membeli beberapa jualan pedagang pasar. Seperti kue tradisional sampai sarung khas hitam yang dijual Ibu Sino dari dari Tanah Toa, Kajang. “Sarung apa ini? Berapa harganya?” ucap Azhar.
“Nassami anjo (sudah jelas),” ucap Sino dialeg bahasa daerah. Pedagang dan masyarakat yang memadati pasar tampak riuh kedatangan rombongan.
Terdengar teriakan nomor satu ramai di pasar Kalimporo. “Selamat datang, Pak di Kalimporo. Pastimi Pak nomor satu,” ucap Salma, pedagang kue tradisional.
Azhar bersyukur dan berterima kasih sambutan hangat pedagang dan pengunjung di Pasar Kalimporo.
“Pasar tradisional seperti ini simbol kebersamaan. Terjadi transaksi antara sesama masyarakat. Kita akan terus dukung pasar tradisional dan perputaran ekonomi terus meningkat,” ucapnya.
Azhar Arsyad berada di Bulukumba hingga Selasa (8/10) dalam rangkaian kampanyenya.
Dalam setiap kesempatan, Azhar menyempatkan untuk bersilaturahmi dengan pemangku adat.
Kunjungi Rumah Adat
Dalam kampanyenya di Sinjai, Azhar harus menempuh perjalanan jauh menuju Rumah Adat Karampuang yang terletak di Dusun Karampuang, Desa Tompobulu, Sinjai. Kondisi medan yang terjal dan berbelok karena berada di atas gunung disusuri Azhar bersama rombongan untuk melihat langsung pemangku adat Karampuang yang berada di kawasan hutan.
Dengan menunggangi kendaraan pribadi serta iring-iringan polisi pengawalan calon wakil gubernur Sulsel, Azhar menempuh rute satu jam untuk tiba di rumah adat Karampuang.
Setibanya di lokasi, Azhar yang juga didampingi Ketua DPC PKB Sinjai yang sekaligus anggota DPRD Sinjai terpilih Andi Olivia Batari Sugi, kembali berjalan kaki menuju rumah adat.
Untuk sampai ke rumah adat Karampuang, harus melalui berjalan berbatu yang dikelilingi hutan dan pohon besar hingga harus berhati-hati dalam melangkah.
Di dalam kawasan ini terdapat dua rumah adat berdiri kokoh sebagai kediaman dua pemangku utama yaitu To Matoa dan Gella.
Azhar dan rombongan diterima oleh Puang Mengga, yang merupakan Gella di komunitas ini. Dengan naik di atas rumah melewati tangga kayu yang kokoh. Di atas rumah beberapa keluarga besar menyambut rombongan.
Dengan duduk bersila, tuan rumah kemudian menyajikan hidangan kopi dan kue-kue seperti biasa dalam menyambut tamu yang hadir. Bahkan Azhar dipasangkan songkok recca’ oleh Puang Mengga. Wajah Puang Mengga terlihat ceria menyambut rombonngan.
Beberapa orang berpakaian atribut Bawaslu telah berada di kawasan hutan rumah adat Karampuang dan ikut naik di atas kediaman.
Tiang-tiang besar besar dan ukiran khas menjadi perhatian rombongan saat diatas rumah. Bagi masyarakat Karampuang, tiang-tiang tersebut merupakan simbol keagamaan yang mengandung makna bahwa kitab suci agama Islam, Al-Qur’an.
“Ada 30 tiang, artinya terdiri atas 30 juz,” ucap Puang Mengga dengan dialek bugis. Rumah adat yang disinggahi ini adalah rumah adat Gella yang menyimbolkan kediaman perempuan.
“Di sini ada dua rumah adat. Kalau yang ditempati ini Gella. Atau rumah ada wanita, karena ini berpasangan,” tuturnya menjelaskan.
Yang membedakan dari penempatan tangga dan pintu di tengah-tengah badan rumah merupakan simbol dari alat reproduksi wanita.
Kemudian ada dapur sebanyak dua buah yang ditempatkan di dekat pintu bagian atas merupakan menifestasi simbolik, sekaligus mengandung makna bahwa perempuan adalah sumber kehidupan manusia. Begitu pula dapur adalah sumber kehidupan di rumah.
Setelah mendengar, Azhar mengaku takjub dan mengapresiasi agar tetap menjaga dan melestarikan budaya adat istiadat di daerah. Pemerintah harus terus memperhatikan punya tanggung jawab menjaga karena nilai-nilai adat jangan dilupakan.
“Tugas Dinas Kebudayaan bagaimana tetap menjaga dan melestarikan. Kami terima kasih ke pamangku adat di sini. Mari kita jaga terus,” ucap Azhar.
“Hukum adat yang diterapkan adalah bagian hukum yang hidup. Ini dijaga baik dan dilestarikan. Kepedulian kita semua khususnya pemerintah perlu ada political will agar budaya-budaya ini terjaga,” sambungnya.
Azhar berkomitmen selalu memperhatikan kesenian, budaya di masyarakat untuk dijaga dan dilestarikan.
Selain pemangku adat, Azhar juga mengunjungi pondok pesantren, tokoh-tokoh agama di Sinjai. (rhm-rif)
