Site icon Berita Kota Makassar

Andalan Hati vs DIA: Saling Klaim Elektabilitas Jelang Pilgub Sulsel 2024

MAKASSAR, BKM — Dua pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur Sulsel saling klaim terkait tingkat keterpilihan atau elektabilitas.
Seperti diketahui, survei Indikator yang dipimpin Prof Burhanuddin Muhtadi melansir, paslon Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi (Andalan Hati) mencapai 63,1 persen. Sementara rival nya paslon Mohammad Ramdhan Pomanto-Azhar Arsyad (DIA) baru 17,9 persen. Adapun responden yang belum menentukan pilihan sebesar 18,9 persen, dan yang menyatakan diri golput atau tidak memilih sebesar 0,2 persen.
Survei yang dilaksanakan pada 26 September hingga 3 Oktober ini bertujuan memotret kecenderungan sikap dan perilaku pemilih di Sulsel, dan ingin mengetahui faktor-faktor penting yang berkaitan dengan pilihan-pilihan tersebut, baik dari perspektif gender, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, preferensi agama, afiliasi ormas dan preferensi suku dan lain-lain.
Menanggapi hasil survei Indikator, tim paslon DIA kembali mewanti-wanti warga Sulsel untuk tidak mudah terpengaruh dengan framing hasil survei yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.
Juru bicara (jubir) DIA Asri Tadda mengatakan, hasil survei internal Danny-Azhar justru menunjukkan progress yang sangat meyakinkan untuk memenangkan pilgub Sulsel mendatang.
“Alhamdulillah, pekan lalu survei kita sudah 35 persen, selisih 6 persen dengan lawan yang terus menurun dari 46 persen menjadi 41 persen di beberapa pekan terakhir,” kata Asri di Makassar, Sabtu petang (12/10).
Menurut Asri, angka 35 persen didapatkan DIA justru sebelum Danny Pomanto melakukan tur kampanye ke Tana Toraja, Toraja Utara, Enrekang, Sidrap dan Pinrang baru-baru ini. Karena itu, Asri menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan rilis hasil survei yang bertujuan melakukan framing kemenangan pada paslon tertentu.
“Saya kira masyarakat sudah paham, bahwa survei seperti ini hal biasa dalam politik. Hasilnya bisa sesuai pesanan dan bayaran. Karena itu dianggap biasa saja, karena memang tidak relevan dengan fakta sebenarnya,” ujar Asri.
Kepada khalayak, Asri mengungkapkan beberapa ciri dari survei yang sifatnya framing yang mengarahkan psikologis masyarakat untuk mendukung paslon tertentu karena sudah diasumsikan akan menang.
“Jadi jika ada rilis survei yang tiba-tiba disebarkan secara masif, waspadai. Biasanya, itu cenderung manipulatif dan framing. Jangan mudah percaya atau terkecoh, itu bagian strategis lawan. Kedua, perhatikan total akumulasi persentase angka-angkanya. Harus 100 persen. Jadi kalau ada rilis survei yang lebih atau kurang dari 100 persen, jelas itu manipulatif,” tandas Asri.

Temuan Berbeda PKB

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulsel yang juga mantan anggota DPRD Sulsel Wawan Mattaliu menanggapi hasil survei Indikator yang dijadikan rilis tim paslon nomor dua Andalan Hati.
Wawan mengakui kalau survei yang mengasilkan 63,1 persen untuk elektabilitas Andalan Hati dan 17,9 persen untuk paslon nomor urut satu DIA berbeda dari internalnya.
Wawan mengungkapkan, justru hasil survei kredibel lainnya yang dipegang internal PKB, berbanding terbalik dengan yang ada dirilis tim Andalan-Hati. “Temuan indikator itu berbeda dengan hasil internal kami,” kata Wawan.
Dalam survei internal PKB, kata Wawan, paslon DIA cenderung naik secara signifikan. “Kecenderungan DIA ini naik signifikan. Sehingga kita optimis kompetisi ini agak bergerak sesuai dengan harapan kami,” lanjut Wawan.
Wawan menegaskan, fakta lapangan di publik menjadi tolok ukur dari survei PKB yang ia sebutkan. Fakta lapangan yang membuktikan yaitu penerimaan dan respons organik dari masyarakat merupakan salah satu indikator dari hasil internal PKB tersebut.
“Indikatornya, tingkat penerimaan publik terhadap Pak Danny dan Pak Azhar itu kelihatan sekali, bagaimana kemudian proses konsolidasi di publik itu berlangsung secara organik,” terang Wawan yang kerap mendampingi Azhar Arsyad tur kampanye ke daerah.
Terbangunnya konsilidasi secara organik dari masyarakat merupakan sikap yang di luar dari konsolidasi tim pemenangan yang menciptakan support positif.
“Mereka tidak dipandu tim dan sebagainya. Kelompok masyarakat terlihat menyatukan diri mengambil sikap sendiri, buat kami itu support yang luar biasa. Itu di luar framing tim. Mereka terbentuk secara organik.Mereka mengambil sikap perjuangan DIA itu tanpa konfirmasi ke paslon.
Masyarakat secara organik inisiatif membuat jejaring sendiri dan itu terasa sampai di mana-mana,” imbuhnya.
Atas dasar itu, Wawan optimis kalau DIA akan menuntaskan pertarungan pilgub Sulsel dengan baik.
“Kalau teman-teman Andalan Hati optimis menang, kami juga memiliki perasaan yang sama. Sehingga kami optimistis DIA bisa menuntaskan pertarungan dengan baik,” pungkas Wawan.

Panzer tak Terpengaruh

Ketua Tim Panzer Sulsel yang juga relawan pendukung DIA, Adhi Bintang mengatakan bahwa fakta lapangan saat mengawal proses kunjungan Danny di beberapa daerah menunjukkan hal yang jauh berbeda dengan survei.
“Survei yang kemudian beredar ini kan tak sesuai fakta lapangan. Karena setiap titik kampanye dialogis yang diadakan Tim Panzer, seperti di Enrekang, Sidrap dan Pinrang dibanjiri masyarakat yang begitu antusias untuk mendengarkan visi-misi Pak Danny” ungkap Adhi.
Selain itu, antusias komunitas di 24 kabupaten/kota yang mendaftarkan diri sebagai tim pemenangan DIA juga makin membeludak. “Saat ini saja, ratusan komunitas dari 24 kabupaten/kota di Sulsel yang turut mendaftarkan diri untuk menjadi tim pemenangan DIA,” lanjut Adhi.
Adhi juga menyampaikan bahwa pekan lalu survei internal tim DIA mencapai angka 35 persen, hanya selisih 6 persen dari lawan yang tengah mengalami penurunan elektabilitas dari angka 46 persen menjadi 41 persen.
“Angka 35 persen didapatkan Danny-Azhar justru sebelum cagub Danny Pomanto melakukan tur kampanye. Mulai ke Tana Toraja, Toraja Utara, Enrekang, Sidrap dan Pinrang baru-baru ini. Jadi survei yang kemudian beredar dengan memposisikan DIA jauh di angka kemenangan itu hanya manipulatif belaka,” tutup Adhi.
Ia juga menyampaikan bahwa Tim Panzer tidak akan terpengaruh dengan massifnya berita-berita hasil survei yang mendudukkan posisi pasangan DIA jauh tertinggal.

Minta Data Survei DIA

Tim paslon nomor urut dua Andalan Hati menyebut hasil riset yang dirilis lembaga survei Indikator untuk Pilgub Sulsel 2024 layak dipercaya. Hal itu diungkapkan Muhammad Ramli Rahim selaku jubir Andalan Hati. Ia merespons tanggapan tim paslon DIA, Asri Tadda yang menyebut hasil riset tersebut hanya sebuah framing.
MRR menegaskan, Indikator merupakan lembaga survei nasional yang telah diakui kredibilitasnya. Tidak jauh berbeda dengan lembaga-lembaga lain seperti Script Survei Indonesia (SSI), LSI, Polmark dan sebagainya.
“Jadi jangan hanya karena Andalan Hati diunggulkan, tim DIA lalu menuding lembaga survei tersebut melakukan framing. Padahal kan itu lembaga survei nasional, yang kredibilitasnya sudah diakui,” ujar MRR.
MRR membeberkan, dalam laporan hasil riset Indikator yang dilakukan, paslon Andalan Hati jauh melejit dengan capaian elektabilitas 63,1 persen. Sedangkan DIA jauh tertinggal dengan perolehan hanya 17, 9 persen.
Hasil riset elektabilitas yang dilaporkan Indikator ini, kata dia, tidak jauh berbeda dari sejumlah lembaga survei lainnya yang sebelumnya juga merilis hasil riset untuk pilgub Sulsel 2024.
Misalnya ada SSI yang menempatkan Andalan Hati meraih elektabilitas 65,24 persen, sedangkan paslon DIA 18,66 persen. Kemudian oleh IPI memosisikan Andalan Hati 63,4 persen, sementara DIA di angka 22 persen.
“Ini semua adalah hasil riset dari lembaga survei yang ada namanya, dapat dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan yang disampaikan tim DIA yang sepertinya hanya klaim saja, karena tidak menerima kenyataan elektabilitas mereka sangat rendah,” ucapnya.
MRR pun menantang tim DIA agar terbuka dan jujur terhadap hasil survei yang disampaikan, di mana mereka menyebut Andalan Hati unggul hanya selisih sekitar 6 persen dari DIA, atau dengan persentase elektabilitas 41 persen banding 35 persen.
“Mereka tim DIA kan hanya klaim, sekadar menyebut angka. Kalau mereka berani, beberkan nama lembaga surveinya apa, apakah bisa dipertanggungjawabkan seperti lembaga survei kredibel sekelas Indikator” pungkas MRR. (jun-rhm-rif)

Exit mobile version