KRISIS kepercayaan terhadap kinerja kekuasaan berdampak signifikan pada partisipasi politik pemilih muda, terutama kami sebagai Generasi Z. Penurunan kepercayaan ini seringkali disebabkan oleh citra negatif elite politik, termasuk praktik korupsi dan ketidakpedulian terhadap kesejahteraan masyarakat. Akibatnya, banyak pemilih muda merasa terasing dari dunia politik dan cenderung apatis, yang mengurangi minat mereka untuk berpartisipasi dalam pemilu.
”Selain itu, meskipun Generasi Z memiliki potensi untuk mendominasi pemilih di pemilu 2024, kesadaran politik mereka masih rendah. Banyak yang melihat golput sebagai bentuk protes terhadap sistem yang dianggap tidak efektif,” ujar Rezky Amalia Putry, mahasiswi Prodi Administrasi Kesehatan Fikkes Universitas Negeri Makassar.
Namun, dengan akses informasi yang lebih baik melalui media sosial, mereka mulai menyuarakan pandangan politik dan mengkritik kandidat serta partai politik. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada ketidakpercayaan, ada juga upaya untuk terlibat dalam diskusi politik.
Untuk meningkatkan partisipasi politik pemilih muda, lanjut Rezky, penting bagi pemerintah dan elite politik untuk membangun kembali kepercayaan melalui transparansi dan akuntabilitas. Jika mereka dapat menunjukkan komitmen terhadap aspirasi generasi muda, maka partisipasi politik dapat meningkat. Dengan demikian, pemilu 2024 berpotensi menjadi titik balik bagi keterlibatan aktif pemilih muda dalam menentukan arah kebijakan dan masa depan bangsa. (mg4)
