MAKASSAR, BKM–Kontestasi pemilihan bupati (Pilbup) Jeneponto masih terus menarik lantaran empat pasangan calon (Paslon) bupati dan wakil bupati masih terus mencari dan menggarap suara dan basis di 11 kecamatan serta 113 desa dan kelurahan.
Jeneponto selalu menarik, dari empat Paslon yang bersaing, tanpa diikuti birokrat senior Sulsel Ashari Fakhsiri Rajamilo yang pernah maju sebagai calon bupati. Ashari awalnya siap maju bersama Efendi Al Qadri Mulyad, namun batal.
Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan lembaga survei PT Indeks Politika Indonesia (IPI), Paslon Paris Yasir-Islam Iskandar meraih 32 persen. Pada posisi kedua ditempati Muhammad Syarif Patta-Moch Noer Alim Qalbi dengan 30,8 persen. Pada urutan ketiga yakni Syamsuddin Karlos-Syafruddin Nurdin dengan 19,4 persen dan keempat Efendi Al Qadri Mulyadi-Andri Suryana Arief Bulu baru 7,3 persen, sementara yang masih merahasiakan 10.3 persen.
Direktur eksekutif PT IPI, Suwardi Idris Amir, menyampaikan bahwa awal dari pencalonan Paris Yasir-Islam Iskandar elektabilitasnya sempat mencapai 40 persen, namun terus tergerus atau mengalami penurunan sementara Syarif- Noer Alim elektabilitasnya terus mengalami kenaikan. “Survei September Paris-Islam elektabilitas 34,1 persen, tapi Oktober menurun di angka 32 persen, dan Muhammad Syarif- Moch Noer Alim Qalbi September masih angka 26,2 namun bulan Oktober mengalami kenaikan elektabilitas 30,8 persen,”ujar Suwadi, Kamis (24/10).
Suwardi menyampaikan bahwa peningkatan elektabilitas Syarif-Noer Alim karena dipengaruhi beberapa faktor termasuk menciptakan pasangan yang bisa saling melengkapi. Ada yang mewakili karakter yang suka dengan kepemimpinan seorang birokrat bersih dan berpangalaman.
“Dengan menggandeng Moch Noer Alim Qalbi mewakili kelompok milenial yang memang menginginkan kehadiran figur-figur muda yang punya masa depan yang lebih cerah untuk memenuhi karakter pemilih milenial yang membutuhkan program berpihak kepada anak muda,” ucapnya.
Selain itu, di Jeneponto juga masih kental soal bangsawan atau karaeng yang berpengaruh karena yang menjadi pejabat atau yang memiliki jabatan strategis rata-rata adalah tokoh atau kelompok keturunan raja atau karaeng dari lurah maupun camat.
Mantan Sekda Punya Jam Terbang Lengkap
PENGAMAT politik Unismuh, Dr Ridwan Fawallang, menanggapi peluang dua calon yang merupakan mantan Sekda yakni Mohammad Sarif Patta dan Syafruddin Nurdin, lantaran punya jam terbang yang lengkap.
Tingkat keterpilihan Sarif dan Syafruddin naik lantaran pernah menjadi driver utama di Jeneponto, posisi yang sangat urgen dan vital, sehingga wajar bila elektoralnya terus naik.
“Kita lihat dari indikator-indikator Muhammad Syarif punya akses historis setiap fase-fase dari level di mana beliau bekerja mulai dari birokrasi dan pernah menjadi anggota DPRD Sulsel. Dengan perpaduan antara legislatif dan eksekutif mampu mendorong program pembangunan daerah,”ujarnya.
pada sisi lain, menggandeng Noer Alim memiliki tingkat pendidikan yang tinggi jebolan luar negeri, “Saya kira mampu mengcopy paste kemajuan-kemajuan ekonomi pendidikan di Inggris untuk dibawa ke Jeneponto,” urainya.
Tokoh literasi dan penulis nasional Bachtiar Adnan Kusuma menambahkan bahwa Sarif dan Noer Alim sangat menggambarkan figur ini ekspektasinya betul-betul dibutuhkan karena merupakan birokrat tulen yang betul-betul berkarir dari anak tangga sampai menjadi Sekda dan kemudian pensiun menjadi politisi DPRD Provinsi.
“Saya sebut ini kamusnya Jeneponto, karena sangat menguasai tipikal dan karakter apalagi budaya karena beliau salah seorang pemangku adat kerajaan, dan diperkuat dengan hadirnya milenial berprestasi,”jelas Bachtiar. (rif)

