Site icon Berita Kota Makassar

Debat Harusnya Adu Gagasan, Bukan Saling Menjatuhkan

MAKASSAR, BKM — Debat dua pasangan calon (paslon) gubernur yang dilaksanakan KPU Sulsel di Hotel Four Point by Sheraton, Makassar, Selasa malam (29/10) mendapat respons beragam. Termasuk pengerahan massa saat berlangsungnya debat.
Debat berlangsung sekitar dua jam dan disiarkan secara live streaming sehingga masyarakat bisa menyaksikan langsung dari mana saja. Secara umum, debat berlangsung cukup lancar kendati ada riak atau keributan kecil yang terjadi di luar arena antara pendukung kedua pasangan calon.
Pasangan nomor urut satu Mohammad Ramdhan Pomanto-Azhar Arsyad (DIA) dan pasangan nomor urut dua Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi (Andalah Hati) berusaha tampil sebaik mungkin menyampaikan visi dan misinya.

Namun sayang, berdasarkan pengamatan selama sesi debat berlangsung, pasangan calon lebih banyak memaparkan keberhasilan yang diraih selama menjabat sebagai kepala daerah, yakni Danny sebagai Wali Kota Makassar dan Andi Sudirman sebagai mantan gubernur Sulsel. Keduanya belum banyak menyampaikan ide dan gagasan dalam membangun Sulsel.
Pengamat politik dari Unhas Andi Haris, Ph.D mengemukakan bahwa sebenarnya dalam debat pilgub, apakah itu untuk memilih gubernur maupun memilih wali kota atau bupati, maka yang perlu ditonjolkan adalah program apa yang mereka akan buat untuk kepentingan rakyat. Bukan untuk saling menjatuhkan satu sama lain.

“Setiap debat sebaiknya para calon membuat program yang rasional dan realistis bagi kepentingan publik. Terkait masalah pengerahan massa pendukung, maka harusnya jumlahnya dibatasi untuk menghindari terjadinya gesekan,” ujar Andi Haris.
Bahkan. lanjutnya, kalau bisa ada koordinator lapangan yang bisa berperan dalam meredam emosi massa. ”Tentu kita semua menginginkan agar pilkada berlangsung dalam suasana yang aman, tertib dan damai,” imbuhnya.

Akademisi Unhas Dr Ali Armunanto mengakui bahwa jalannya debat sudah sangat bagus. Moderator dapat memandu dan mengarahkan dengan baik. Alokasi waktunya juga cukup baik, meskipun memang materi debatnya lebih banyak ke persoalan atau upaya-upaya untuk menjatuhkan lawan saat debat.
“Saya kira salah satu tujuan debat itu. Tapi memang yang jadi masalah kemudian adalah visi misinya tidak terlalu banyak dielaborasi. Justru mereka pamer pencapaian, pamer prestasi dan juga saling menyinggung satu sama lain tentang kelemahan masing-masing,” kata Ali Armunanto.

Pada sisi lain, lanjutnya, memang calon gubernur nomor urut dua Andi Sudirman Sulaiman terlalu terjebak dengan irama yang coba dibangun oleh calon gubernur nomor urut satu Moh Ramdhan Pomanto dan itu sangat kelihatan, sehingga Danny lebih mendominasi. ”Sudirman Sulaiman justru terbawa atau terjebak pada permainan debat Danny,” katanya.
Terkait pengerahan massa dalam debat, menurut Ali, memang perlu dipertimbangkan dan dievaluasi lagi. Khususnya massa yang berada di luar ruangan. Sebab bisa berpotensi menimbulkan kekacauan jika tidak dikontrol.

”Walaupun yang diperkenankan masuk hanya 100 orang, tapi yang di luar menunggu itu bisa menimbulkan eskalasi. Itu perlu dipikirkan lagi bagaimana membatasi massa yang datang. Termasuk di luar ruangan,” saran Ali.

Sejumlah tokoh-tokoh politik hadir untuk memberikan dukungan kepada paslon nomor urut dua, Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi (Andalan Hati) pada debat pertama. Mereka yang hadir diantaranya mantan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang, politikus Golkar Ilham Arif Sirajuddin (IAS), Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi, Wakil Ketua DPRD Sulsel Yasir Mahmud dan Rahman Pina, serta tokoh masyarakat dari beberapa perwakilan kabupaten/kota di Sulsel.

Mereka begitu bersemangat memberikan dukungan penuh kepada pasangan yang memiliki tagline Sulsel Maju dan Berkarakter itu.
Politisi senior Golkar IAS mengakui bahwa Andalan Hati terlihat begitu menguasai materi dalam debat. “Saya lihat penguasaan panggung dan materi keliatan, bahwa kemampuan pasangan Andalan Hati ini sangat luar biasa,” jelas IAS.

Apalagi, kata dia, pemaparan dari Andi Sudirman berdasarkan fakta, bukti kerja nyata dan akurat serta dapat dipertanggungjawabkan.
Sebaliknya paslon nomor satu, Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto-Azhar Arsyad (DIA) dilihatnya tidak memahami kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. “Memang serangan dari paslon satu itu tidak menguasai dalam konteks koordinasi bahwa ada hal yang tidak mungkin dilakukan intervensinya oleh pemerintah provinsi. Sebenarnya tembakan serangan nomor satu, mereka tidak sadar bahwa yang disampaikan bukan menjadi bagian sebuah tanggung jawab provinsi, ada juga di kabupaten/kota,” ungkapnya.

IAS mengaku, bahwa trend survei belakangan ini pasangan Andalan-Hati masih memimpin. “Kalau kita lihat trend survei beberapa hari ini, memang sangat luar biasa,” imbuhnya.
Jubir Andalan Hati Muhammad Ramli Rahim (MRR) mengapreasi semua pihak yang telah memberikan dukungan dan penilaian dalam debat pertama pilgub Sulsel. Menurutnya, dalam debat Andalan Hati sebelumnya memang menekankan akan memberikan penampilan terbaik.

“Itu sudah dibuktikan dengan pemaparan Andalan Hati yang berbasis pada data yang akurat, bukan hoaks,” ucapnya.
Ketua KPU Sulsel Hasbullah, menyampaikan apresiasi terhadap kelancaran pelaksanaan debat. Menurutnya, pada debat perdana ini, dua paslon beradu visi misi. Seluruh rangkaian acara debat berjalan sesuai rencana, mulai dari persiapan hingga selesai tepat waktu.
“Alhamdulillah, debat berlangsung sesuai dengan perencanaan. Kami estimasi mulai pukul 20.00 dan berakhir pada pukul 22.00, dan semua segmen terlaksana sesuai jadwal,” kata Hasbullah.
Ia juga menambahkan bahwa debat berlangsung dengan suasana dinamis, di mana kedua paslon saling berargumen dan mengklaim pengalaman mereka dalam memimpin, memberikan perspektif yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Debat sangat dinamis. Kedua paslon menjawab setiap pertanyaan dengan baik dan sesuai konteks. Masyarakat bisa melihat rekam jejak mereka sebagai dasar menentukan pilihan,” ujarnya.
Hasbullah berharap dinamika positif ini bisa terulang pada debat selanjutnya. “Semoga debat kedua nanti tetap sedinamis ini,” tambahnya.
Namun, Hasbullah tidak memungkiri adanya sedikit keributan di lokasi debat. Ia menegaskan bahwa KPU akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk memastikan keamanan yang lebih baik di debat selanjutnya.

“Kami akan bekerja sama dengan kepolisian untuk mengatur agar tidak ada lagi keributan di lapangan. Kita akan ajak semua pihak, termasuk tim paslon, untuk menahan diri dan menjaga ketertiban,” jelasnya.
Mengenai jumlah penonton, Hasbullah menyebut bahwa KPU memberikan akses masuk bagi sekitar 100 orang ke dalam area debat. Di luar area, masyarakat diperbolehkan menonton namun tetap dibatasi di luar zona tertentu.

“Ke depan, mungkin kondisi ini akan kita evaluasi bersama dengan pihak kepolisian dan paslon, agar lebih teratur,” katanya.
Terkait tidak adanya layar berukuran besar di lokasi debat, Hasbullah menjelaskan bahwa hal tersebut telah diantisipasi dengan adanya laporan langsung (live report) yang disiarkan di posko-posko pemenangan paslon, sehingga pendukung tetap bisa mengikuti jalannya debat dari berbagai lokasi. (rif-rhm)

Exit mobile version