MAKASSAR, BKM — Hari Selasa (29/10) di halaman rumah Dg Ngiling, Kampung Malise, Kelurahan Pundata Baji, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep. Berdiri tenda yang ukurannya tergolong besar. Banyak orang, pria dan wanita berpakaian rapi.
Mereka tengah menunggu kedatangan calon mempelai pria yang hendak melangsungkan akad nikah. Segala persiapan pun telah dilakukan. Termasuk tradisi angngaru untuk menyambut rombongan.
Tetamu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Jarum jam menunjuk pukul 11.00 Wita, sesuai kesepakatan keluarga kedua belah pihak.
Rombongan lalu berjalan beriringan menuju tenda. Calon pengantin pria yang didampingi keluarga kemudian berhenti di pinggir karpet warna merah, sebelum melangkah masuk. Prosesi penyambutan pun dilaksanakan.
Musik tradisional mengiringi seorang lelaki yang sedang angngaru. Ia mengenakan jas tutup warna biru muda, sarung sutera hitam serta songkok khas Bugis-Makassar. Di tangan kanannya memegang sebilah badik. Benda tajam itu sesekali diacungkan ke atas disertai dengan suara kerasnya ketika angngaru. Tangan kirinya memegang sarung badik yang terselip di bagian pinggang.
Satu kali ia mengarahkan ujung badik yang runcing ke bagian dadanya, sambil terus angngaru di depan rombongan calon mempelai pria. Tangan kirinya memukul punggung tangan kanannya yang memegang badik, yang ujungnya masih menempel di jas tutupnya.
Terlihat dia sempat terhenti sejenak ketika badik kembali ditariknya ke depan. Rupanya dia merasakan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Namun, angngaru tetap dilanjutkannya sambil berjongkok. Di ujung prosesi ia mencium badik tersebut.
Peristiwa yang tak terduga pun terjadi. Ketika hendak berusaha berdiri dari posisi jongkok, ia oleng ke sebelah kanan, tepat di dekat beberapa orang keluarga calon mempelai wanita. Badik pun masih di tangannya. Tak lagi kuasa berdiri, ia kembali berjongkok dan hendak memasukkan badik ke dalam sarungnya. Ketika itulah kepanikan melanda.
Pria yang melakukan angngaru itu belakangan diketahui berinisial Fj. Usianya 18 tahun. Saat menusukkan badik ke bagian dada, ternyata senjata tajam yang digunakannya menembus pakaian yang dikenakannya.
Selama ini, memang sudah menjadi tradisi warga di Kampung Malise melaksanakan prosesi angngaru ketika menggelar acara pernikahan. Khususnya pada saat menyambut kedatangan calon mempelai pria di rumah calon mempelai wanita.
Namun, tak pernah ada yang menyangka kalau prosesi tersebut akan melukai bahkan menelan korban orang yang angngaru.
Kapolsek Labakkang Ipda Aidil yang dikonfirmasi, membenarkan adanya kejadian ini. Menurutnya, peristiwa terjadi saat seorang pria melakukan angngaru menjemput pengantin pria yang datang bersama pengantarnya untuk acara akad nikah.
“Penjemputan dengan tradisi angngaru menimbulkan kelalaian oleh orang yang angngaru. Ketika menusukkan badik ke arah dada, ternyata tembus ke badannya,” ujar Iptu Aidil.
Sesaat setelah kejadian Fj langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Namun, Tuhan berkehendak lain. Ia pun mengembuskan napasnya yang terakhir.
Budayawan Asmin Amin menjelaskan, tradisi angngaru biasanya dilakukan oleh prajurit kepada panglima yang masih berkuasa atau pun raja. ”Jadi angngaru itu dilakukan para prajurit sebagai ikrar setia kepada yang dipangarui. Itu bisa dibuktikan dari kata dan kalimat yang disampaikan,” jelasnya ketika dihubungi, kemarin. (udi/rus/b)
