MAKASSAR, BKM — Universitas Hasanuddin (Unhas) menyelenggarakan Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas dalam rangka upacara penerimaan jabatan profesor tiga guru besar baru di Fakultas Pertanian dan Fakultas Ilmu Budaya. Rapat berlangsung di Ruang Senat Akademik Unhas, Lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Tamalanrea, Makassar, Selasa (12/11).
Proses pengukuhan dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan dan Bisnis Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, S.T., M.Phil., ketua, sekretaris, dan anggota Majelis Wali Amanat, senat akademik, Dewan profesor, serta keluarga besar dari profesor yang dikukuhkan.
Mereka yang dikukuhkan adalah Prof.Dr. Ir. Rismaneswati,S.P.,M.P., Guru Besar Bidang Ilmu Survei dan Evaluasi Lahan, Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Ir. Amir, M.Si., Guru Besar Bidang Agroklimatologi Fakultas Pertanian, dan Prof.Dr. Harlinah Sahib, M.Hum., Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik Antropologi Fakultas Ilmu Budaya.
Dalam sambutannya mewakili Rektor Unhas, Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, S.T., M.Phil., menyampaikan bahwa peningkatan jumlah guru besar di Unhas diharapkan sejalan dengan peningkatan produktivitas akademik dan kontribusi universitas.
“Kami berharap, dengan bertambahnya guru besar, Unhas dapat semakin berkontribusi secara luas, tidak hanya dalam mengejar World Class University (WCU) tetapi juga memberikan dampak signifikan bagi masyarakat,” ujarnya.
Prof. Adi juga menekankan pentingnya peran guru besar sebagai bagian dari peradaban perguruan tinggi yang berkelanjutan. “Hari ini merupakan momentum bagi sivitas akademika, khususnya Fakultas Pertanian dan Fakultas Ilmu Budaya, untuk menambah jumlah guru besar. Hal ini penting, karena guru besar bukan hanya bagian dari kampus, tetapi juga pendidik dan peneliti yang kontribusinya dinantikan masyarakat luas sebagai wujud nyata pengabdian,” lanjutnya.
Ketiga guru besar ini melalui orasi ilmiahnya diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Sebelumnya, masing-masing guru besar telah menyampaikan pidato penerimaan yang membahas bidang keahliannya.
Prof Rismaneswati dalam pidatonya berjudul “Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Produksi Pertanian yang Berkelanjutan di Wilayah Tropika Basah,” menekankan pentingnya evaluasi lahan untuk pembangunan sistem pertanian yang tangguh. Menurutnya, kualitas lahan sangat bervariasi dalam ruang dan waktu serta mengalami penurunan akibat pemanfaatan terus-menerus.
Sementara Prof Amir dengan judul pidato “Prediksi Iklim Berdasarkan Kearifan Lokal (Pallontara/Papananrang) dan Analisis Frekuensi Peluang Curah Hujan di Sulawesi Selatan, mengangkat isu perubahan iklim yang memengaruhi pola distribusi air, terutama di Sulawesi Selatan. Perubahan ini menyebabkan ketidakseimbangan jumlah air pada musim kemarau dan musim hujan, sehingga masyarakat menghadapi kekurangan air saat kemarau dan banjir di musim hujan, yang berdampak pada jadwal tanam dan produktivitas pertanian.
Sedangkan
Prof Harlinah dalam pidatonya yang berjudul “Relasi Bahasa, Budaya, dan Pemikiran Masyarakat Kajang dalam Perspektif Linguistik Antropologi” menyoroti keterkaitan antara bahasa, budaya, dan pemikiran. Menurutnya, bahasa adalah representasi pemikiran manusia yang memungkinkan seseorang mengekspresikan pikiran, pengalaman, dan keinginan kepada orang lain.
Ia menjelaskan bahwa linguistik antropologi mengeksplorasi bagaimana bahasa mencerminkan budaya suatu masyarakat, seperti masyarakat Kajang yang dikenal dengan adat istiadat, sistem religi, dan ritual tradisional. Bahasa dalam masyarakat ini mengandung unsur budaya seperti kosakata yang berkaitan dengan sistem kepercayaan, ritual, dan pandangan dunia. (rls)
