Site icon Berita Kota Makassar

Hingga September 2024, DPK Tersimpan Rp133,76 Triliun. OJK Dorong Masyarakat Sulsel Simpan Uang di Bank

MAKASSAR, BKM — Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tersimpan di lembaga perbankan di Sulawesi Selatan hingga triwulan III atau September 2024 mencapai Rp133,76 triliun. Sedangkan target Desember 2024 Rp148,28 triliun.

Sementara jumlah penyaluran kredit kepada masyarakat di Sulawesi Selatan hingga September 2024 mencapai Rp163,29 triliun dari target Rp169,12 triliun. Dari jumlah kredit yang tersalurkan tersebut, masih didominasi kredit untuk usaha atau kegiatan produktif dibandingkan kredit konsumtif.
Dengan melihat jumlah DPK yang terserap dengan jumlah kredit yang tersalurkan tentunya menimbulkan sebuah tanda tanya. Kalau masyarakat ternyata lebih senang meminjam daripada menyimpan uangnya di bank.

”Padahal, menyimpan uang di bank sebenarnya jauh lebih aman disimpan di bank dibandingkan disimpan di rumah. Beberapa hari lalu, ada peristiwa kebakaran di daerah ini. Ternyata, salah satu rumah yang ludes terbakar, ada menyimpan uang kes di dalam rumahnya Rp80 juta lebih. Kalau sudah begini, jadinya kasihan juga. Jika uangnya disimpan di bank, maka uang itu bisa ditarik dan digunakan untuk membangun kembali rumah yang terbakar tersebut,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Darwisman, didampingi Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 1, Muhammad Budiman dan Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 2, Mulyana, pada acara Journalist Update Perkembangan Industri Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan, di Makassar, Jumat (15/11).

Darwisman mengatakan, berdasarkan outlook PJK Tahun 2024, target pertumbuhan kredit diproyeksikan berada dalam rentang 9 persen sampai 11 persen. Begitu pula DPK diproyeksikan tumbuh sebesar 6 persen sampai 8 persen.

”Hal menggembirakan juga adalah perkembangan perbankan di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan baik dari sisi aset, DPK, maupun kredit. Aset misalnya, posisi di September 2023 adalah Rp185,91 triliun dan di September 2024 menjadi Rp199,36 triliun atau tumbuh 7,23 persen. Untuk DPK, dari Rp123,04 triliun di September 2023 menjadi Rp133,76 triliun (tumbuh 8,71 persen). Begitu pula dengan kredit, mengalami peningkatan signifikan, dari Rp152,75 triliun di September 2023 menjadi Rp163,29 triliun (tumbuh 6,90 persen,” jelas Darwisman.

Untuk perbankan berdasarkan kegiatan usaha, menurut Darwisman, perbankan secara keseluruhan masih didominasi bank konvensional dibandingkan syariah, dengan share Aset 91,89 persen (Rp183,20 triliun), DPK 91,38 persen (Rp122,23 triliun), dan Kredit 91,76 persen (Rp149,83 triliun).
Sementara itu, perkembangan DPK di Sulawesi Selatan, tambah Darwisman, sampai September 2024 penghimpunan DPK tercatat sebesar Rp133,76 triliun atau tumbuh 8,71 persen secara year on year (yoy).

”DPK masih didominasi tabungan sebesar Rp78,22 triliun atau 58,48 persen, deposito Rp34,01 triliun (25,43 persen), dan giro sebesar Rp21,53 persen (16,09 persen),” kata Darwisman.

Pada kesempatan tersebut, Darwisman juga mengungkapkan tentang perkembangan perbankan Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk penghimpunan DPK, Makassar berada di posisi teratas sebesar Rp82,07 triliun, disusul Palopo Rp5,68 triliun, Parepare Rp5,18 triliun, Bone Rp4,75 triliun, dan Wajo Rp3,02 triliun.
Untuk penyaluran kredit Makassar tetap di posisi atas sebesar Rp84,87 triliun, Palopo Rp10,75 triliun, Parepare Rp8,41 triliun, Bulukumba Rp5,64 triliun, dan Bone Rp5,56 triliun.

Sedangkan untuk NPL (Non Performing Loan) atau kredit bermasalah, Kabupaten Takalar menempati posisi teratas sebesar 9,21 persen, disusul Barru 3,45 persen, Makassar 3,42 persen, Parepare 3,06 persen, dan Luwu Timur 2,98 persen.
”Inilah yang mengherankan juga bagi Takalar dan Barru. Kedua dari daerah ini tidak termasuk dalam lima terbesar penyaluran kredit. Tapi justru untuk kredit bermasalah keduanya masuk dalam posisi teratas lima terbesar,” pungkas Darwisman.
Kegiatan Journalist Update Perkembangan Industri Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan ini sendiri digelar OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat secara berkala. Dimana, menghadirkan puluhan wartawan dari media cetak, online, televisi, dan radio. (mir)

Exit mobile version