GOWA, BKM — Misteri masih melingkupi produksi uang palsu (upal) yang dibongkar aparat kepolisian di kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM). Meski sudah dilakukan penggeledahan pekan lalu, serta mengamankan barang bukti serta orang-orang yang diduga terlibat, hingga saat ini belum satupun yang ditetapkan sebagai tersangka.
Aparat Polres Gowa yang menangani kasus ini mengklaim masih melakukan penyelidikan. Sementara Wakil Rektor (Warek) I UINAM Prof H Kamaluddin Abunawas memilih bungkam tak bersedia memberi penjelasan. Sedangkan Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan yang dimintai tanggapannya terkait kasus tersebut berdalih baru mau melakukan pengecekan.
Beberapa hari lalu, polisi telah melakukan penggeledahan di gedung Perpustakaan Kampus UINAM yang berlokasi di Kelurahan Romang Polong, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa. Dari lokasi ditemukan barang bukti upal pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu senilai ratusan juta. Termasuk alat cetaknya.
Kapolres Gowa AKBP Reonald Truly Simanjuntak mengakui kalau pihaknya masih melakukan penyelidikan dan mengejar seseorang yang diindikasikan sebagai pelaku utama. Pengejaran itu berdasarkan pengakuan oknum dosen berinisial IB yang berhasil diamankan saat penggerebekan di lokasi perpustakaan UINAM.
Hingga kini pula, pihak kepolisian belum merilis seperti apa sebenarnya kasus ini. Dari hasil konfirmasi ke Kapolres Gowa, diketahui bahwa rilis kasus belum dilakukan sebab masih melakukan pengembangan.
Rektor UINAM Prof Hamdan Juhannis yang hendak dimintai komentarnya, Senin siang (16/12) tidak berhasil ditemui. Yang ada di Gedung Rektorat UIN hanyalah Wakil Rektor I Prof H Kamaluddin Abunawas.
Saat dimintai konfirmasinya terkait kasus tersebut sesaat sebelum meninggalkan kantornya, Prof Kamaluddin menolak menjawab pertanyaan sejumlah wartawan yang sudah menantinya beberapa jam di lobi kantornya. Ia malah berusahan menghindari wartawan.
“Tidak ada pernyataan ya, nanti setelah rilis dari kepolisian,” ucap Prof Kamaluddin Abunawas singkat.
Hal yang sama diperlihatkan Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan. Saat dimintai tanggapannya terkait temuan upal di kampus mitra Pemkab Gowa ini, ia hanya menjawab pertanyaan wartawan dengan empat kata. “Saya cek dulu, ya,” ujar Adnan sambil menuju mobilnya yang terparkir di depan markas Divif 3 Kostrad di Desa Sokkolia, Kecamatan Bontomarannu, Senin (16/12).
Pascapenggeledahan ruang perpustakaan UINAM oleh kepolisian pada Minggu dinihari lalu, aktivitas di tempat ini sempat terhenti. Apalagi ruangan baca itu diberi garis polisi untuk kepentingan penyelidikan. Kini aktivitas di ruangan itu sudah mulai ramai kembali tanpa ada lagi garis polisi.
Di salah satu sudut ruangan terlihat banyak benda dan properti dalam kondisi tak beraturan. Tempat tersebut memang telah digeledah habis aparat kepolisian untuk mengumpulkan bukti-bukti terkait pencetakan upal.
Dari pantauan di lokasi, sejumlah ruangan rampak rusak dan berantakan. Seperti di ruangan kepala Perpustakaan, gagang pintu tampak rusak dan beberapa buku dan dokumen terlihat berantakan.
Sementara pada ruangan lainnya seperti di kamar kecil, terlihat ada sebuah ruangan lain yang mencurigakan lantaran di atas atas plafon ada sebuah ruangan lain lagi. Ruangan inilah yang diduga dijadikan tempat memproduksi upal yang diduga melibatkan oknum pejabat dan pegawai kampus.
Tuntut Rektor Mundur
Menyusul terungkapnya kasus upal di dalam kampusnya, mahasiswa UINAM menggelar aksi demo, Senin siang (16/12). Mereka mendatangi gedung rektorat dan menuntur Rektor Hamdan Juhaannis mundur dari jabatannya. Ia dinilai lalai melakukan pengawasan di institusi yang dipimpinnya.
Awalnya, massa aksi berkumpul di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Selanjutnya mereka melakukan long march dan mendatangi sejumlah fakultas, seperti Fakultas Syariah dan Hukum, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Fakultas Sains dan Teknologi, dan fakultas lainnya.
Massa kemudian bergabung lalu menuju ke depan gedung rektorat. Mereka pun menyuarakan tuntutannya, yakni mendesak rektor untuk mengundurkan diri.
Kepada pihak kepolisian yang menangani kasus ini, massa mendesak untuk segera mengungkapnya secara terang benderang. Mereka mengancam akan melakukan aksi di Polda atau Polres Gowa guna menyampaikan pesan tidak ada yang boleh main-main atas segala permasalahan yang hadir di UIN Alauddin Makassar. (sar)
