MAKASSAR, BKM — Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Muhyiddin Mustakim mengeluarkan surat edaran yang ditujukan pada kepala satuan pendidikan PAUD/TK, SD dan SMP negeri/swasta, kepala SKB Ujung Pandang dan SKB Biringkanaya, serta pengawas sekolah (TK, SD, dan SMP) hingga seluruh staf pendidikan.
Muhyiddin mengatakan,
surat edaran tersebut dikeluarkan untuk menyikapi rilisa yang disampaikan Rilis BMKG Wilayah IV tentang Peringatan Dini Cuaca Sulawesi Selatan tanggal 18-23 Desember 2024 Nomor: B/ME.02.04/121/KBB4/XII/2024.
“Kami sampaikan mulai hari Rabu tanggal 18 Desember 2024 hingga Minggu, 22 Desember, peserta didik disampaikan untuk tidak datang ke sekolah,” ungkap Muhyiddin, kemarin.
Apalagi, katanya, secara umum peserta didik jenjang SD dan SMP telah selesai melaksanakan ujian akhir semester.
Dia melanjutkan, jika dalam pelaksanaan UAS terdapat peserta didik yang belum tuntas penilaiannya, maka kegiatan remedial dilakukan guru secara daring.
Penerimaan laporan pendidikan (rapor) peserta didik seuai dengan kalender pendidikan tahun pelajaran 2024/2025 adalah tanggal 20 Desember 2024.
Sementara penerimaan rapor siswa, jika kondisi cuaca tidak memungkinkan pada tanggal dimaksud, dapat dilaksanakan setelahnya.
Sesuai kalender pendidikan tahun pelajaran 2024/2025, libur semester gasal tanggal 27 Desember 2024 sampai dengan 5 Januari 2025.
Hari pertama efektif atau awal semester genap 2024/2025 tanggal 6 Januari 2025.
Kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, penilik, dan seluruh staf Dinas Pendidikan Kota Makassar diminta melakukan kontrol terhadap kondisi sekolah dan disampaikan kepada Posko Dinas Pendidikan.
Terkait dengan cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, Disdik Makassar telah mendirikan posko siaga banjir. Hal itu untuk mengantisipasi kemungkinan buruk terjadinya banjir di sekolah, mengingat kondisi curah hujan yang terjadi akhir-akhir ini cukup tinggi.
“Seluruh sekolah diharapkan membentuk posko untuk melaporkan kondisi dan perkembangan di sekolah masing-masing. Tujuan posko ini untuk melaporkan setiap kondisi sekolah karena sekarang tidak bisa diprediksi (banjir),” ujar Muhyiddin.
Dia juga telah mengeluarkan imbauan belajar dari rumah bagi pelajar PAUD, SD dan SMP, khususnya sekolah yang tergenang banjir.
Muhyiddin menyampaikan, berdasarkan laporan dari kepala sekolah, puluhan sekolah tergenang banjir pada Minggu (15/12/2024), ada yang banjir di halaman sekolah, ada pula yang sudah masuk ke ruang-ruang kelas.
Selain sekolah yang memang langganan banjir, beberapa sekolah yang berlokasi dekat dari pantai juga terkena dampak.
“Kemarin luar biasa, rata-rata sekolah masuk air. Kalau SMP 19 kemarin sangat luar biasa juga dengan SMP 26. Itu sudah setiap tahun. Tapi yang lain menyeluruh rata. Apalagi sekolah di daerah dekat pantai,” ucap Muhyiddin.
Selain itu, sekolah yang ada di wilayah kepulauan juga mengalami dampak dari cuaca buruk. “Puluhan lebih sekolah tergenang air. Rata-rata semua tergenang. Kalau di pulau tidak tergenang tetapi pagarnya. SD Baranglompo itu pagar tembok sekolah yang rubuh,” ungkapnya.
Karenanya, imbauan sekolah dari rumah ini menjadi salah satu upaya Disdik untuk menjaga keselamatan para siswa. Sambil menunggu perkembangan kondisi cuaca, Muhyiddin meminta kepala sekolah agar memantau terus sekolahnya dan memberikan laporan setiap saat. Dinas Pendidikan juga membuat posko siaga menyikapi cuaca buruk ini.
Titik Pengungsian Berkurang
Intensitas hujan yang menurun dibanding dua hari sebelumnya atau Minggu (15/12) lalu, membuat banjir mulai surut. Jika sebelumnya BPBD Makassar melaporkan enam kecamatan terendam banjir, maka kondisi pada Selasa (17/12), tercatat sisa empat kecamatan. Yakni Kecamatan Manggala, Wajo, Makassar, dan Biringkanaya.
Pengungsi pun berangsur-angsur kembali ke rumah masing-masing. Hingga pukul 13.32 Wita kemarin, tercatat sisa tiga lokasi pengungsian. Di Kecamatan Manggala dua lokasi yakni Masjid Makkah Al Mukarramah dan Masjid Jabal Nur. Selain itu, satu lokasi di Masjid Nurul Islam Kecamatan Wajo.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kota Makassar Achmad Hendra Hakamuddin menerangkan masih ada 36 KK (128 jiwa) yang saat ini masih mengungsi. “Kami berharap cuaca bisa lebih bersahabat sehingga seluruh pengungsi sudah bisa kembali ke rumah masing-masing,” ungkap Achmad Hendra.
Dikonfirmasi terpisah, Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto mengajak seluruh pihak untuk sama-sama menangani persoalan banjir. Salah satunya dengan menggugah kesadaran bersama untuk ikut menjaga drainase, tidak buang sampah sembarangan, hingga meningkatkan kewaspadaan.
Dia mengatakan, banjir yang terjadi saat merupakan dampak dari perubahan iklim. Hal ini bukan hanya terjadi di Makassar, melainkan di sejumlah negara. Termasuk di daerah lain wilayah Sulsel.
Akibat dari perubahan iklim ini, frekuensi banjir ekstrem akan besar. Hujan yang seharusnya turun dalam periode satu bulan langsung mengguyur dalam waktu sehari.
“Fomena ini akan sering terjadi bahwa curah hujan yang satu bulan turun dalam berapa jam, jadi ini tidak ada hubungannya dengan siapa wali kota. Tidak ada hubungannya dengan siapapun. Ini hubungannya dengan iklim,” tegas Danny Pomanto.
Sejauh ini, Pemkot Makassar telah berusaha untuk meminimalisir terjadinya banjir. Pemkot Makassar punya Satgas Drainase sejak 10 tahun lalu, mereka menjadi garda terdepan untuk memastikan drainase bebas dari sumbatan.
Danny mengungkap, saat banjir dua hari lalu mereka bekerja esktra agar banjir bisa surut lebih cepat. “Kita harus saling bahu-membahu menghadapi ini. Kan ini (fenomena) alam. Tapi kita harus siaga. Ini bisa terjadi kapan saja. Apalagi di akhir Desember, Januari, dan Februari,” jelasnya. (rhm)
