PAREPARE,BKM–Sejumlah politisi yang tergabung dalam Komisi III DPRD Kota Parepare meninjau progress perbaikan bendung yang dilakukan PAM Tirta Karajae di Salo Karajae.
Kunjungan rombongan Komisi III dikoordinir Wakil Ketua I DPRD Parepare Suyuti ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) Perusahaan Air Minum (PAM) Tirta Karajae Kota Parepare, Senin (6/1).
Turut dalam peninjauan itu, Ketua Komisi III DPRD Parepare Hamran Hamdani, serta anggota yakni Jusvari Genda, Andi Muhammad Fudail, Ibrahim Suanda, Rudi Najamuddin, dan Hasib Hasyim.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi III memastikan bahwa proses perbaikan berjalan sesuai standar teknis dan waktu yang telah ditentukan.
Para wakil rakyat juga berdialog dengan tim produksi dan tim teknis untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai tantangan dan progres pekerjaan.
Wakil Ketua I DPRD Suyuti menjelaskan bahwa peninjauan ini dilakukan untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait distribusi air bersih yang sering terganggu, terutama saat intensitas hujan tinggi.
“Kunjungan ini, sekaligus menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait ketersediaan air bersih, khususnya saat musim hujan dan kemarau. Kita lihat langsung progres pembenahan bendungan Salo Karajae,”ujar Suyuti.
Bendungan Salo Karajae saat ini tengah diperbaiki oleh tim teknis PAM Tirta Karajae Parepare. Perbaikan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan ketersediaan air bersih bagi masyarakat, khususnya para pelanggan.
Sementara itu, Direktur PAM Tirta Karajae Parepare Andi Firdaus Djollong mengapresiasi kunjungan dan perhatian DPRD.
Ia menyampaikan komitmennya untuk menyelesaikan perbaikan tepat waktu sehingga pelayanan air bersih kepada masyarakat tidak terganggu dalam jangka panjang.
“Pengawasan dari DPRD menjadi motivasi bagi kami untuk terus bekerja dengan baik. Kami optimistis perbaikan ini akan membawa dampak positif bagi kebutuhan air masyarakat,”janji Andi Firdaus.
Komisi III juga berkomitmen untuk terus mengawal setiap tahapan perbaikan demi memastikan kepentingan masyarakat terjaga. Dengan pengawasan yang optimal, diharapkan bendungan Salo Karajae dapat berfungsi lebih baik dan memberikan manfaat jangka panjang bagi warga.
Kinerja keuangan PAM Tirta Karajae Parepare menunjukkan tren positif di awal tahun 2025. Saat ini, perusahaan daerah tersebut mencatatkan saldo kas sebesar Rp20 miliar dengan total aset mencapai Rp115 miliar.
Firdaus Djollong, mengungkapkan bahwa dari total aset Rp115 miliar, sebesar Rp79 miliar merupakan penyertaan modal dari pemerintah daerah. “Berarti sekitar Rp40 miliar adalah hasil keringat dan investasi dari PDAM Parepare,” ujarnya.
Terkait isu kerugian yang menyebabkan belum adanya pemberian deviden ke pemerintah kota, Firdaus menjelaskan bahwa hal tersebut bukan disebabkan beban operasional yang tinggi. “Pendapatan kami sekitar Rp40 miliar, sedangkan belanja operasi hanya sekitar Rp33 miliar,” tegasnya.
Menurutnya, kerugian yang tercatat dalam laporan keuangan lebih disebabkan faktor administratif, yaitu beban penyusutan sekitar Rp10 miliar dan beban penyisihan piutang sebesar Rp2 miliar.
“Jadi kerugian ini lebih banyak disebabkan karena beban penyusutan dan beban penyisihan piutang yang secara administrasi harus dimasukkan dalam laporan keuangan,” ungkapnya. (mup/rif/c).
