Site icon Berita Kota Makassar

3.519 Ha Padi Puso, Soppeng Terbanyak

MAKASSAR, BKM — Banjir yang melanda wilayah Sulawesi Selatan telah berdampak pada ribuan hektare sawah komoditas padi. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPH-Bun) mencatat ada sekitar 3.519 lahan sawah mengalami puso.

“Untuk tahu dia puso, harus dilihat apakah sudah seminggu terendam air. Kalau sudah seminggu terendam, dilihat lagi bisa sembuh atau tidak. Kalau tidak, ya dia puso,” kata Pelaksana Tugas (Plt)
Kepala Dinas TPH-Bun Sulsel Uvan Nurwahidah di Kantor Gubernur Sulsel, Senin (13/1).

Lahan puso 3.519 hektare ini tersebar di sejumlah kabupaten/kota.
Seperti di Kabupaten Takalar seluas 8 hektare.
Lahan puso di Kecamatan Polombangkeng Selatan sebanyak 7 hektare, lalu Kecamatan Galesong Utara 1 hektare.

Kemudian di Kabupaten Gowa ada 49 hektare sawah puso. Tertinggi di Kecamatan Bajeng seluas 39 hektare.
Lalu di kecamatan Bajeng Barat dan Bontonompo masing-masing 5 hektare.

Selanjutnya ada di Kabupaten Maros sebanyak 75,15 hektare. Sawah puso di Kecamatan Lau dan Bontoa masing-masing 20 hektare.

Serta di Kecamatan Cenrana 34,4 hektare.
Di Kabupaten Pangkep ada 38 hektare lahan sawah padi puso. Seluruhnya sawah di Kecamatan Minasatene.

Di Kabupaten Barru juga ada 80 hektare sawah puso, tersebar di Kecamatan Balusu.
Untuk Kabupaten Bone, 34 hektare sawah puso.
Tersebar 4 hektare di Kecamatan Ajangale, serta 30 hektare di Cenrana.

Soppeng jadi daerah dengan dampak banjir terbesar.

Puso Akibat Banjir

-Takalar 8 hektare.
Di Kecamatan Polombangkeng Selatan 7 hektare, Galesong Utara 1 hektare.

-Gowa 49 hektare. Kecamatan Bajeng 39 hektare.
Bajeng Barat dan Bontonompo masing-masing 5 hektare.

-Maros 75,15 hektare. Kecamatan Lau dan Bontoa masing-masing 20 hektare.
Kecamatan Cenrana 34,4 hektare.
-Pangkep 38 hektare. Seluruhnya sawah di Kecamatan Minasatene.

-Barru 80 hektare, tersebar di Kecamatan Balusu.
-Bone, 34 hektare.
Di Kecamatan Ajangale 4 hektare, di Cenrana 30 hektare.
-Soppeng 1.455 hektare. Kecamatan Marioriwawo 33 hektare, Lalabata 158 hektare, Liliriaja 50 hektare., Ganra 335 hektare, Lilirilau 387 hektare, Donri-donri 240 hektare, dan Marioriawa 252 hektare.

-Wajo seluas 453 hektare.
Kecamatan Sabbangparu 145 hektare, Tempe 61 hektare, dan Pammana 38 hektare., Tanasitolo 59 hektare dan Belawa 150 hektare.

-Sidrap 1.265 hektare. Kecamatan Watang Sidenreng 659 hektare, Tellulimpoe 533 hektare, dan Pancalautang 73 hektare.

-Makassar 54 hektare.
Masing-masing 44,5 hektare di Tamalate dan 10 hektare Manggala.

-Bulukumba, 8 hektare di Kecamatan Ujungloe.

Sebanyak 1.455 hektare sawah puso di daerah ini. Kecamatan Marioriwawo ada 33 hektare sawah, Lalabata 158 hektare, Liliriaja 50 hektare.
Kemudian Ganra 335 hektare, Lilirilau 387 hektare, Donri-donri 240 hektare, dan Marioriawa 252 hektare.

Di Kabupaten Wajo, sawah yang terdampak puso seluas 453 hektare.
Areal ini tersebar di Kecamatan Sabbangparu 145 hektare, Tempe 61 hektare, dan Pammana 38 hektare.
Selanjutnya Tanasitolo 59 hektare dan Belawa 150 hektare.

Di Kabupaten Sidrap juga sangat luas terdampak, yakni sampai 1.265 hektare sawah. Terluas di Kecamatan Watang Sidenreng 659 hektare, lalu Tellulimpoe 533 hektare, dan Pancalautang 73 hektare.

Sawah di Kota Makassar juga terdampak 54 hektare.
Luasan 44,5 hektare di Tamalate dan 10 hektare Manggala.
Terakhir ada di Kabupaten Bulukumba, Kecamatan Ujungloe sebanyak 8 hektare.

”Ini umur pertanaman muda, 1 sampai 15 hari. Berarti tidak terlalu mempengaruhi produksi padi,” kata Uvan.

Kini, Dinas TPH-Bun terus berupaya memberikan cadangan benih bagi petani. Selain itu, pihaknya juga terus mendata dampak bencana hidrometeorologi di kabupaten/kota. (jun)

Exit mobile version