MAKASSAR, BKM — Haji Muhammad Alwi Hamu kini telah terbaring di peristirahatan terakhirnya. Jenazahnya dimakamkan di pekuburan keluarga HM Jusuf Kalla di Patte’ne, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Minggu siang (19/1).
Ratusan orang membersamai jenazah tokoh pers nasional itu selama prosesi pelepasan hingga dimakamkan. Mereka dengan duka mendalam itu adalah para tokoh penting di negeri ini, keluarga dan handai taulan, serta masyarakat umum. Ini membuktikan ada banyak orang yang kehilangan atas kepergian Alwi Hamu untuk selama-lamanya.
HM Jusuf Kalla dan HM Aksa Mahmud adalah dua diantara tokoh yang berduka itu. Mereka adalah teman sekaligus saudara bagi almarhum. Keduanya hadir langsung pada rangkaian prosesi pelepasan jenazah almarhum, kemarin.
Dari rumah duka di Jalan Pierre Tendean No. 14 , Makassar, jenazah dibawa ke Masjid Al-Markaz Al-Islami sebelum salat zuhur. Menggunakan mobil ambulans berwarna putih dari Rumah Sakit Dr Wahidin Sudirohusodo, iring-iringan pengantar mengikuti dari belakang. Sambil menunggu waktu salat berjemaah, Imam Masjid Al-Markaz Ustaz Hasan Basri melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an.
Usai salat zuhur, dilanjutkan dengan salat jenazah. Ratusan pelayat secara bersama-sama mendoakan almarhum. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 HM Jusuf Kalla kemudian dipersilakan untuk memberikan sambutan pelepasan jenazah mewakili keluarga. Disaksikan HM Aksa Mahmud dan tokoh lain yang hadir.
Dalam sambutannya, JK mengungkap perjalanannya bersama almarhum dan Aksa Mahmud. Mulai dari bangku kuliah, merintis usaha, hingga satu dari mereka, yakni Alwi Hamu akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
”Almarhum merupakan wartawan, pengusaha media, pemilik perguruan tinggi dan usaha lainnya. Ada banyak amal jariyah yang dimiliki oleh almarhum. Kita semua kehilangan. Untuk itu mari kita semua berdoa bagi almarhum,” kata JK.
Disebutkan JK, persahabatannya dengan almarhum sudah berlangsung cukup lama, yakni lebih dari 60 tahun. Bersama dengan Aksa Mahmud, ketiganya sama-sama aktif berorganisasi ketika masih kuliah di tahun 1966. JK ketika itu menjabat sebagai ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Alwi Hamu sekjen.
”Setelah kami selesai kuliah, tidak ada lagi yang mau lanjut. Kami kemudian membangun usaha. Almarhum ini seorang pekerja yang ulet. Luar biasa, dia memberi pekerjaan bagi banyak orang. Bahkan pernah mengurus 250 koran di seluruh Indonesia. Tidak ada orang yang bisa seperti itu. Memberikan pandangan dan informasi kepada nasional. Bukan hanya berjasa bagi keluarganya, tapi juga kepada bangsa,” terang JK.
JK kemudian mengenang perjalanan di awal tahun 2000-an. Ketika itu belum ada gedung tinggi untuk dimanfaatkan sebagai tempat bisnis. Alwi Hamu kemudian mengawalinya dengan membangun Gedung Graha Pena di Jalan Urip Sumoharjo. Disusul kemudian Aksa Mahmud yang mendirikan Menara Bosowa di Jalan Jenderal Sudirman. Lalu Jusuf Kalla membangun Kalla Tower di Jalan Dr Ratulangi.
”Mudah-mudahan usaha yang telah dibangun oleh almarhum selama hidupnya. Jangan hanya mewarisi usaha dan gedung yang ada, tapi juga semangat dan perjuangannya dalam berusaha,” kata JK.
Selain di bidang usaha, JK juga menyebut semasa hidupnya Alwi Hamu juga aktif di pemerintahan. Ketika JK menjadi wakil presiden, Alwi Hamu menjadi stafnya. Bahkan untuk urusan luar negeri, Alwi Hamu selalu melaksanakannya. Semua dikerjakan olehnya tanpa ada yang tahu.
”Kemampuan bernegosiasinya sangat baik. Meskipun dia orang media, tapi semua dilakukannya secara tertutup tanpa orang ketahui,” ujar Jusuf Kalla.
Kepada tokoh pers dan pendidikan itu, JK pun kemudian mengajak kepada semua yang hadir untuk membacakan Al-Fatihah.
Dilepas di Graha Pena
Usai disalatkan di Masjid Al-Markaz Al-Islami, jenazah almarhum Alwi Hamu dibawa ke Gedung Graha Pena, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar. Jenazah tiba pukul 13.03 Wita disambut iringan doa dari ratusan karyawan dan keluarga Fajar Grup yang sudah menunggu.
Mewakili keluarga besar Fajar Grup, Direktur Utama Fajar Indonesia Corporindo Suhendro Boroma menyampaikan kata-kata perpisahan terakhir. “Bapak kita, guru kita, sahabat kita, Bapak HM Alwi Hamu akan menuju ke perisitirahatan terakhir. Seluruh keluarga Fajar Grup dan Jawa Pos Grup menyampaikan duka sedalam-dalamnya. Senantiasa kita doakan almarhun agar seluruh dosanya diampuni, kesalahannya dimaafkan, amal ibadahnya diterima dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Swt,” kata Suhendro, diamini semua yang hadir.
Dia mengimbau kepada seluruh keluarga Fajar Grup agar menyelipkan doa, dan di setiap salat dan membaca Al-Qur’an untuk dihadiahkan kepada almarhum.
Pada kesempatan itu, dia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan melancarkan prosesi keberangkatan jenazah mulai dari Jakarta hingga ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Jenazah almarhum selanjutnya diberangkatkan ke tempat perisitirahatan terakhirnya sekitar pukul 13.11 Wita.
Mentan Melayat
Menteri Pertanian (Mentan) RI yang juga owner Tiran Group Andi Amran Sulaiman melayat ke rumah duka HM Alwi Hamu, Minggu pagi (19/1). Mentan menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya almarhum yang wafat di Rumah Sakit Pondok Indah, Puri Indah, Jakarta Barat, Sabtu (18/1).
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kami kehilangan sosok inspiratif, seorang tokoh pers yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia jurnalistik dan masyarakat Indonesia,” ujar Mentan saat di rumah duka.
Selain Mentan, juga hadir Penjabat (Pj) Gubernur Sulsel Fadjry Djufry serta mantan Wakil Gubernur Sulsel periode 2008-2018 Agus Arifin Numang.
Mentan yang juga Ketua Umum IKA Unhas menyampaikan doa agar almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah Swt. “Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan kesabaran. Kami semua kehilangan figur yang berjasa besar untuk bangsa ini,” tambahnya.
Ucapan belasungkawa juga mengalir dari berbagai tokoh, kerabat, dan rekan seprofesi. Kepergian Alwi Hamu meninggalkan jejak yang mendalam di dunia jurnalistik dan menjadi teladan bagi generasi muda dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kebebasan pers.
Alwi Hamu dikenal sebagai tokoh pers dari Sulsel yang mengabdikan hidupnya untuk dunia jurnalistik sejak masa muda. Bersama Jusuf Kalla dan Aksa Machmud, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada tahun 1966.
Pada 1 Oktober 1981, ia mendirikan Harian Fajar yang kini menjadi salah satu media terkemuka di Indonesia. Hingga akhir hayatnya, Alwi memimpin organisasi Serikat Perusahaan Pers (SPS).
Kepergiannya Alwi Hamu kesan mendalam bagi mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Selatan Uslimin.
Uslimin yang juga pernah berkiprah di Fajar Group mengenang Alwi Hamu sebagai sosok pemimpin yang selalu mengayomi, mendidik, dan melindungi.
Ia menuturkan, selama bekerja di Fajar Group, Alwi memperlakukan semua karyawan dan wartawan layaknya anak dan keluarganya sendiri.
“Bagi saya, beliau tidak ada masalah tanpa solusi. Seberat apa pun masalah yang dihadapi, setelah beliau turun tangan, semuanya kembali bergairah, bersemangat, dan pada akhirnya ceria bersama,” ujar Uslimin.
Uslimin mengungkapkan, interaksinya dengan Alwi Hamu sempat berkurang saat bertugas di KPU, karena pada waktu itu Alwi sudah mulai menurun kesehatannya setelah kehilangan istri tercinta.
Meski demikian, sosok Alwi tetap dikenang sebagai pemimpin yang penuh perhatian dan tanggung jawab.
“Sewaktu saya di KPU, kami hanya beberapa kali berinteraksi. Namun, beliau tetap memiliki semangat untuk kembali beraktivitas,” kenang Uslimin.
Bupati Sidrap terpilih Syaharuddin Alrif mengenang sosok Alwi Hamu, tokoh masyarakat yang menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya warga Sidrap.
Syaharuddin mengungkapkan bahwa Alwi Hamu adalah figur yang sangat dihormati, tidak hanya di Sulsel tetapi juga secara nasional.
“Alwi Hamu adalah tokoh masyarakat Sulsel dan kebanggaan orang Sidrap. Kami sangat mengagumi kedermawanan, perhatian, dan perjuangan beliau,” ujar Syahar saat mengunjungi rumah duka, Sabtu malam (18/1).
Mantan Wakil Ketua DPRD Sulsel ini mengatakan bahwa Alwi Hamu dikenal sangat peduli terhadap kampung halamannya, Desa Allakuang, yang merupakan daerah penghasil telur di Sidrap.
Kehadirannya selalu memberikan motivasi bagi masyarakat, terutama generasi muda.
“Selama hidupnya, beliau selalu memotivasi kami agar sukses, memberi perhatian yang tinggi pada Sidrap, dan menjadi inspirasi dengan kepedulian yang beliau tunjukkan,” tuturnya.
Syahar juga mengenang tradisi buka puasa bersama yang diadakan Alwi Hamu setiap bulan Ramadan. Tradisi ini mempererat hubungan masyarakat Sidrap, termasuk para mahasiswa dan anggota Ikatan Kekerabatan Masyarakat Sidrap.
“Beliau adalah panutan kami, dan kami merasa sangat kehilangan atas kepergian beliau. Ketokohan dan perjuangannya akan selalu menjadi teladan bagi kami. Kami berdoa agar amal jariyah beliau diterima oleh Allah Swt dan beliau diberikan tempat terbaik di sisiNya,” kata Syahar.
Politisi yang juga mantan wali kota Makassar dua periode Ilham Arief Sirajuddin, mengaku mengenal Alwi Hamu semenjak terjun di dunia politik. Di kisaran awal 90-an ketika dirinya aktif di Partai Golkar, dan saat menjadi wali kota.
”Banyak sekali hal yang saya dapatkan dari beliau. Betul-betul menjadi sosok orang tua yang selalu memberikan motivasi. Karena itu saya melihat bahwa sosok Alwi Hamu ini adalah orang yang banyak menyebar amal jariyah. Banyak sekali menebar kebaikan dan itu pasti akan menjadi amal jariyah buat beliau. Itulah sehingga banyak yang kehilangan beliau,” ujar Ilham. (rhm-jun-rif)
