GOWA, BKM — Ketika Kota Makassar disebut zona merah PMK (penyakit mulut dan kuku) bagi ternak sapi, maka imbasnya akan mengarah ke Kabupaten Gowa dan sekitarnya.
Apalagi di Gowa juga sudah terdapat 510 ekor sapi terkena PMK. Meski sudah 320 ekor sapi dinyatakan sembuh selain dua ekor diantaranya mati dan lima ekor dijual pemiliknya dengan harga murah, namun jajaran Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Gowa tetap mengimbau para peternak lebih perhatian pada kesehatan sapinya dan cepat tanggap melaporkan ke petugas peternakan agar segera diambil tindakan jika ada sapinya terindikasi PMK.
”Memang PMK ini tidak menular ke manusia tapi setidaknya para peternak tetap waspada dan tetap menjaga imunitas ternak sapinya agar terhindar. Karena itu kami imbau para peternak sebaiknya ternaknya dikandangkan karena disinyalir dari hasil pengembalaan liar atau digembalakan secara berkumpul bisa membuat sapi-sapinya tertular. Penularan PMK sangat cepat bahkan tidak terkendali. Jadi salah satu cara mengendalikannya adalah tidak membiarkan sapinya berkeliaran atau digembalakan secara liar tapi dikandangkan,” kata Plt Kadis Peternakan dan Perkebunan Gowa Azwar saat dihubungi, Rabu (22/1).
Azwar menyebutkan jika kekhawatiran yang paling banyak adalah kekurangan populasi. Sebab, peternak-peternak sapi di Gowa kerap dilanda kepanikan jika menemukan ternaknya sakit.
”Para peternak kerap panik dan dia jual ternaknya semua walaupun masih sehat karena sudah ada pengalaman akan tertular. Ini tentu berimbas pada populasi sapi kita (berkurang). Untuk mengatasi itu, kita turunkan penyuluh di setiap kecamatan dan mantri-mantri hewan kita untuk memberikan edukasi agar peternak jangan panik karena penyakit PMK ini bisa disembuhkan,” kata Azwar.
Dia juga mengimbau peternak sapi supaya ternaknya tahan terhadap penyakit, maka ternaknya harus sehat dengan diberikan pakan cukup setiap hari dan diberi suntikan vitamin.
Petani yang membutuhkan layanan ini bisa menghubungi juga petugas mereka di 18 kecamatan di Gowa. Terpenting menghindari pembelian dulu atau penjualan ternak saat ini. Karena itu juga sangat potensi untuk menularkan ke sapi lainnya yang tidak hanya di dalam Gowa saja. Tapi ke luar ke kabupaten lainnya, juga sebaliknya jika membeli sapi dari luar.
”Jadi kami harapkan lalu lintas ternak ini (jual beli) kami harapkan ditutup dulu. Tapi kita juga maklum sebab biasanya situasi ini pedagang juga bisa ambil untung karena sapi murah. Disinilah kadang kita kesulitan juga karena ada tarik menarik dengan harga murah dan lalulintas ternak yang saat ini kita perketat agar penularan PMK bisa dikendalikan,” jelas Azwar.
Dikatakan Azwar, paling rawan ini diperbatasan Gowa-Takalar dan perbatasan Gowa-Jeneponto. Sebab pedagang sapi juga bebas dari berbagai jalan. Bukan hanya lewat jalan protokol. Tapi sangat banyak jalan yang sulit dikendalikan. Terutama Jeneponto dan Takalar. Padahal, kedua kabupaten tetangga Gowa ini sudah teridentifikasi kena PMK. (sar)
