MAKASSAR, BKM — Angin puting beliung melanda dua kelurahan di Kecamatan Biringkanaya pada Kamis (6/2) sore. Laporan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar menyebutkan, dua wilayah yang terdampak adalah Kelurahan Untia dan Bulurokeng.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Makassar Achmad Hendra Hakamuddin menyebut, ada dua lokasi yang terdampak angin puting beliung di Kelurahan Untia, yakni Jalan Lepa-lepa Blok I dan Jalan Lepa-lepa Blok B. Sementara di Kelurahan Bulurokeng, ada beberapa lokasi. Diantaranya Kompleks Villa Lestari Blok M, Perum Berdikari Blok A2, Jalan Bontomanai 2, dan BTN Kalaman Permai Blok 1.
Achmad Hendra membeberkan, akibat bencana angin puting beliung, tiga rumah rusak berat, tiga rusak sedang, dan satu rusak ringan. “Jadi ada 12 kepala keluarga dengan total 30 jiwa yang terdampak bencana angin puting beliun ini,” ungkap Hendra, Jumat (7/2).
Dari hasil assement yang dilakukan, kata Achmad Hendra, warga terdampak angin puting beliung sangat membutuhkan terpal untuk menutup atap rumah yang bocor akibat rusak diterjang angin.
“Kami sudah menyerahkan bantuan berupa terpal ke beberapa lokasi yang terdampak seperti di Kompleks Villa Lestari, Perum Berdikari Blok A2 dan Jalan Bontomanai ll. Bantuan disalurkan Jumat, 7 Februari,” jelas Achmad Hendra.
Bantuan juga sudah disalurkan ke korban yang berdomisili di BTN Kalaman Permai Blok l No. 1 Kelurahan PAI, Kecamatan Biringkanaya. “Selain terpal, kami juga menyalurkan bantuan berupa baby kit. Karena di sana ada beberapa bayi,” jelas Achmad Hendra.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Kota Makassar kembali mengeluarkan peringatan dini untuk wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel). BMKG memperingatkan bahwa tiga hari ke depan atau dimulai 7 hingga 10 Februari mendatang, Sulsel akan dilanda cuaca buruk.
Kepala BMKG Wilayah IV Makassar Irwan Slamet menerangkan, kondisi tersebut dikarenakan la nina lemah dan aktivitas monsun Asia yang diperkuat oleh dingin Asia turut berkontribusi dalam meningkatkan curah hujan. Sirkulasi siklonik di Australia bagian utara yang menyebabkan terbentuknya daerah pertemuan angin (konfluensi) di selat Makassar hingga pesisir barat Sulawesi Selatan, serta dinamika labilitas atmosfer lokal yang menunjukkan kondisi labil di sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan.
“Faktor-faktor tersebut berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah Sulawesi Selatan yang dapat mengakibatkan peningkatan intensitas curah hujan dengan kategori sedang, lebat hingga sangat lebat yang dapat di sertai kilat/petir, peningkatan kecepatan angin dan peningkatan ketinggian gelombang,” ungkapnya.
Menyikapi kondisi tersebut, BMKG berharap para pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi terjadinya bencana hidrometeorologi. Dampak tersebut antara lain genangan/banjir, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, dan keterlambatan jadwal penerbangan/pelayaran. (rhm)
