MAROS, BKM — Wilayah Kabupaten Maros dilanda banjir hingga di 10 titik kecamatan akibat curah hujan tinggi yang terus mengguyur sejak beberapa hari. Daerah yang terendam meliputi Kecamatan Bontoa, Lau, Turikale, Maros Baru, Simbang, Camba, Mallawa, Cenrana, Moncongloe, dan Marusu.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros Towadeng, mengatakan bahwa banjir disebabkan oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut. “Total ada 10 kecamatan yang terendam. Tapi yang terparah berada di daerah pegunungan,” kata Towadeng, kemarin.
Ketinggian air banjir di beberapa titik bervariasi, mulai dari 50 sentimeter hingga 2 meter. Akibatnya, ribuan rumah warga terendam air. “Untuk sementara kami belum bisa merinci berapa jumlah rumah yang terendam, tapi yang jelas ada ribuan,” sebut Towadeng.
Selain merendam rumah, banjir juga menyebabkan sejumlah jalan dan fasilitas umum lainnya terendam air. Akibatnya, aktivitas masyarakat terganggu.
Seperti banjir yang menggenangi ruas jalan depan kantor Bupati Maros. Ketinggian air hingga dada orang dewasa memicu kemacetan total. Tak ada kendaraan yang bisa melintas. Kendaraan roda dua dan empat serta truk mengular, baik dari arah Maros menuju Makassar maupun sebaliknya.
BPBD Maros masih terus melakukan pendataan dan penanganan terhadap warga yang terdampak banjir. “Kami sudah menurunkan tim serta membangun posko bantuan di beberapa titik untuk membantu warga yang terdampak banjir,” kata Towadeng.
Pemerintah Kabupaten Maros juga telah membuka posko pengungsian bagi warga yang rumahnya terendam banjir. Banjir kali ini disebut merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. “Di tahun 2019 kami pernah mengalami musibah banjir yang serupa, namun saat ini banjir yang terjadi lebih parah dari tahun sebelumnya,” terangnya.
Dapur Umum PMI Kehabisan Stok
Penyaluran bantuan untuk warga yang terkena dampak banjir mengalami kendala. Tak hanya akses jalan yang susah ditembus karena terendam banjir, pasokan pangan di dapur umum stoknya menipis.
Ketua Harian Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Maros Suryadi Ningrat mengatakan, sejauh ini semuanya bisa tertangani dengan baik. Hanya saja, pihaknya terkendala dengan stok logistik yang hendak diolah.
“Kita tetap membuka dapur umum di sekretariat. Hanya saja masih sangat terbatas. Karena memang stok pangan yang akan dimasak menipis,” ujarnya ketika dihubungi, Rabu pagi (12/2).
Dia menjelaskan, selain logistik, pihaknya juga kehabisan gas untuk memasak. Hal ini dikarenakan akses keluar untuk membeli gas dan pangan mengalami lumpuh total. Sehingga mereka hanya memasak dalam jumlah terbatas. “Kami kehabisan logistik, seperti beras dan gas. Mau pergi beli, tapi kondisi di luar lumpuh total. Tidak ada akses. Ini saja beras, kami mau pergi beli dulu. Semoga ada toko penjual beras yang bisa melayani,” imbuhnya.
Akibatnya, lanjut dia, pihaknya hanya melayani warga yang mengungsi di Masjid Al-Markas saja. “Sementara ini kami hanya bisa melayani sekitar 200 paket. Itupun kami bawa ke warga yang mengungsi di Al-Markaz saja dulu. Karena belum bisa melayani yang jauh,” jelasnya.
Dia menjelaskan, untuk warga yang berada di tempat lain sangat sulit dijangkau, karena tidak adanya perahu karet yang bisa membawa makanan ke lokasi tujuan.
Sekadar diketahui, ada beberapa warga juga membuat dapur umum. Hanya saja untuk penyaluran ke lokasi banjir mereka masih terkendala armada dan perahu karet. (ari)
