MAKASSAR, BKM — Banjir yang melanda Sulawesi Selatan, khususnya pada sembilan kabupaten/ kota telah merendam ribuan hektare lahan pertanian. Akibatnya, petani terancam tidak maksimal saat memanen. Khususnya padi dan jagung.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPH-Bun) Sulawesi Selata, Uvan Nurwahidah merincikan, sebanyak 3.792.44 hektare lahan yang terkena dan terdampak banjir di sembilan kabupaten/kota. Masing-masing Maros, Gowa, Bulukumba, Pangkep, Barru, Sidrap, Luwu, Luwu Utara.
“Kami telah turun meninjau di Maros. Kondisinya sudah terendam, dan kalau sudah surut mungkin bisa pulih,” terang Uvan, Minggu (16/2).
Disebutkan Uvan Nurwahida, sebanyak 1.873.44 hektar lahan padi di Kabupaten Maros yang terdampak banjir. Dia memastikan bahwa petani masih punya peluang panen tapi tidak maksimal.
“Di Maros yang terkena itu ada lebih 1.000 hektare. Artinya, dia bisa pulih kalau hari ini surut, bisa panen tapi tidak maksimal,” ucapnya.
Komoditi Padi
1. Bulukumba 22 Ha
2. Gowa 540 Ha
3. Maros 1.873.44 Ha4. Pangkep 179 Ha
5. Barru 139 Ha
6. Sidrap 846 Ha
7. Luwu 130 Ha
8. Luwu Utara 23 Ha
9. Palopo 40 Ha
Komoditas Jagung
1. Luwu Utara 62 Ha
Kemudian di Kabupaten Gowa, Uvan menyampaikan terdapat 520 hektare lahan petani yang terkena dampak. Padahal sudah hampir memasuki masa panen.
“Ada juga di Gowa 520 hektare, tapi di sana sudah mau panen,” terangnya.
Akibat banjir tersebut, lanjut Uvan, dampaknya nanti hasil gabah tidak terlalu bagus karena sudah terendam banjir.
“Dia berpotensi terdampak. Hasil panen ada tapi tidak maksimal. Karena mungkin gabahnya sudah kurang bagus setelah terendam air, itu kan tidak kering,” jelasnya.
Dia mengatakan, hingga saat ini pendataan masih terus dilakukan di lapangan. Pihaknya menunggu laporan guna memastikan masih memiliki hasil maksimal atau tidak sama sekali.
“Dia baru terkena banjir, belum kita katakan puso. Nanti dilihat berapa lama dia terendam, dan ketika dia terendam apakah dia masih pulih atau tidak,” tandasnya. (jun)
