Site icon Berita Kota Makassar

Sosok yang Suka Ketawa dan tak Pernah Marah

INNALILLAHI wainna ilaihi rojiun. Harian Berita Kota Makassar berduka. Seorang wartawan seniornya, Muh Zain Muslim Syam berpulah ke rahmatullah, Senin (17/2).

PAGI pukul 07.00 Wita. Sebuah unggahan di grup whatsapp Generasi BINABARU-BKM menyampaikan kabar duka. Nomor itu milik seorang senior di BKM kami di BKM Pak Zain Syam.
”Innalillahi wainna ilaihi rojiun, telah meninggal ayahanda kami Muhammad Zain Muslim Syam. Jika ada salah yang disengaja dan hal kurang berkenan dari ayahanda kami, kami sekeluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Seolah tak percaya dengan kabar itu, saya mencoba mengecek kebenarannya dengan menghubungi nomor kontak yang selama ini digunakan almarhum berkomunikasi semasa hidupnya.

”Benar, Pak. Bapak meninggal. Barusan di rumah sakit. Sudah dua minggu berobat karena gagal ginjal,” tutur seorang lelaki dari balik telepon, yang merupakan putra almarhum.
Ia juga menyampaikan informasi kalau jenazah almarhum akan disalati di masjid tepat di samping rumahnya di Jalan Tupai, Makassar. Setelah itu dibawa ke Jeneponto, kampung halamannya untuk dimakamkan.
Sejak mendapat informasi tentang kepergian almarhum untuk selama-selamanya, keluarga dan kerabat silih berganti berdatangan di rumah duka. Almarhum yang lahir di Jeneponto, 12 Desember 1949 meninggalkan tiga orang putra yang semuanya sudah berkeluarga. Mereka pulalah yang tampak memandikan jenazah sang ayah.

Usai prosesi dimandikan, jenazah kemudian dibawa ke masjid dengan menggunakan tandu. Jemaah masjid yang selama ini selalu bersama-sama dengan almarhum beribadah, ikut salat jenazah. Selanjutnya diantar oleh pihak keluarga menuju Jeneponto. Prosesi pemakaman dilakukan di Pekuburan Umum Pammanjengan, Kelurahan Bontotangnga, Kecamatan Tamalate, Jeneponto.
Mattulidi, seorang jemaah masjid dan bertetangga dengan almarhum selama kurang lebih 40 tahun. Ia mengaku akrab dan cukup mengenal almarhum dan keluarganya. Sebab ia pernah tinggal di sebuah rumah yang tepat berada di depan masjid.

”Selama hidupnya almarhum tidak pernah kami lihat marah. Lebih banyak ketawanya. Tidak banyak bicara,” kenang pria paruh baya ini usai ikut salat jenazah.
Tak jauh berbeda disampaikan Andi Muzakkir Effendi yang pernah menjadi wartawan di Harian Berita Kota Makassar. ”Yang saya tahu almarhum orangnya murah senyum, baik, dan sabar. Selama di BKM sering bercanda di redaksi jika ada berita-berita mistis yang ditulis. Kadang dia komen sendiri dengan lucu terkait berita tersebut, sehingga sering kali teman-teman di redaksi semua tertawa dengan berita yang dibuatnya,” kenang Kiki, sapaan akrabnya.

Ahmad Syauki Solong, yang pernah di BKM sebagai layouter, menyebut almarhum sebagai sosok yang ceria dan penuh senyum. ”Kami sering bercanda kalau dua mau setor berita ke redaktur. Salah satu ciri khas beliau saat ada teman yang minta pembeli rokok, jawabannya ammukopi (nanti besok),” kata Ahmad.

Sosok Pak Zain benar-benar mengabdikan dirinya di dunia jurnalistik hingga akhir hayatnya. Sebelum informasi kepergiannya untuk selama-lamanya, ia masih datang ke redaksi Harian Berita Kota Makassar di lantai tiga gedung Graha Pena beberapa pekan lalu. Kondisinya masih fit. Bahkan ia naik tangga dan menyetor berita ke redakturnya.
Selain sebagai wartawan, Zain Syam juga menjalani profesi sebagai guru pegawai negeri sipil. Ia memasuki masa purnabakti di SD Kassi, Tamangapa, Antang tahun 2019.
Fahrir Syam, salah seorang ponakan almarhum menuturkan tentang kebersamaannya dengan sang paman semasa hidupnya. ”Beliau menjadi pengganti orang tua kami di Makassar. Didikannya kepada kami selalu meminta untuk tidan gampang menyerah,” ungkap Fahrir, yang pernah bergabung di BKM pada rentang 1997-1999.

Sama seperti yang lain, Fahrir melihat sosok Zain Syam sebagai orang tua yang tidak pernah marah. ”Biasanya itu kalau ada sesuatu yang orang semestinya marah, dia malah ketawa,” imbuhnya.
Ketika tengah menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Grestelina, Makassar, Fahrir masih mendapati Pak Zain dalam kondisi sadar. Ia sempat berkomunikasi dengan membisikinya. Berdasarkan kesepakatan keluarga, Pak Zain diminta agar beristirahat saja dari tugas-tugasnya di dunia kewartawanan.

”Waktu di rumah sakit dan sudah terbaring tapi masih dalam keadaan sadar, saya diminta untuk menyampaikan keinginan keluarga supaya om istirahat dari redaksi. Jawaban beliau, saya tidak mesti jalan. Sekarang gampang komunikasi dan mendapat informasi. Luar biasa perhatian beliau ke BKM,” jelas Fahrir.
Sejak masih menjadi guru hingga pensiun, liputan Pak Zain lebih banyak terkait dengan dunia pendidikan. Loyalitasnya menjadi sesuatu yang patut diteladani. Kebiasaannya membawa penganan jenis panada atau gorengan lainnya ketika dia datang ke redaksi tak pernah kami lupakan. Apalagi di bulan Ramadan. Selamat jalan Pak Zain Syam!!! (andi rustan)

Exit mobile version