MAKASSAR, BKM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel berencana menerapkan skema feksibel working day (FWD). Nantinya, Aparatur Sipil Negara (ASN) hanya bekerja tiga hari di kantor, dan dua hari lainnya menerapkan work from anywhere (WFA).
Pengamat Politik dan Pemerintahan Prof Armin Arsyid, menilai kebijakan ini berdampak luas. Salah satunya untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Kota Makassar.
Ia menyebut, kemacetan pada jam berangkat dan pulang kerja bisa sedikit berkurang karena ribuan ASN tidak lagi beraktivitas di waktu padat kendaraan.
“WFA bisa mengurangi kemacetan lalu lintas pada jam kerja, baik saat masuk kerja maupun pulang kerja. Dengan WFA, para pegawai cukup di rumah dan tidak perlu ke kantor, sehingga melahirkan efek positif. Kemacetan di Makassar dapat dikurangi dengan WFA,” ujar Prof Armin Arsyid, Rabu (5/3).
Selain itu, penerapan WFA juga dianggap efisien dalam mengurangi biaya akomodasi bagi ASN.
Dengan bekerja dari rumah, ASN bisa menghemat pengeluaran untuk bensin dan lainnya.
“Itu efisiensi bagi pegawai negeri karena tidak perlu buang-buang uang bensin,” lanjutnya.
Dampak lainnya, ASN langsung dilatih untuk memanfaatkan teknologi dalam bekerja.
“Para pegawai akan meningkatkan kemampuan menggunakan komputer atau teknologi informasi karena tugas hanya perlu diupload melalui internet,” tambahnya.
Namun, Prof Armin mengingatkan para pimpinan untuk tetap memantau kinerja ASN secara aktif, meski mereka bekerja dari rumah.
“Meskipun di rumah, tugas yang harus dijalankan pegawai jelas. Diberikan batasan kapan harus diselesaikan, meskipun di rumah itu tugas tetap dijalankan,” kata Prof Armin.
Absensi ASN juga harus tetap dijalankan meskipun mereka bekerja dari luar kantor.
Pendapat senada datang dari legislator Nasdem yang juga Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi. ”Memang WFA dapat meningkatkan efisiensi anggaran, terutama dalam pengurangan biaya operasional kantor, seperti listrik, transportasi dinas, dan pemeliharaan fasilitas. Jika ASN bisa bekerja secara produktif dari luar kantor, beban anggaran untuk mendukung mobilitas dan operasional harian bisa dikurangi,” ujarnya, kemarin.
Menurut Cicu –panggilan akrab Andi Rachmatika Dewi– efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada jenis pekerjaan ASN yang bersangkutan. “Untuk pekerjaan yang berbasis administrasi dan dapat dilakukan secara digital, seperti pengolahan data, penyusunan kebijakan, atau perencanaan program, WFA bisa menjadi solusi yang efisien. Sebaliknya, bagi ASN yang bertugas dalam layanan langsung kepada masyarakat, seperti di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, layanan kesehatan, atau pengawasan infrastruktur, kehadiran fisik tetap dibutuhkan. Dan semua juga harus terukur dan terpantau,” jelas mantan Ketua Komisi D DPRD Sulsel ini.
Sebelumnya, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mendukung efisiensi anggaran dan peningkatan kinerja pegawai dengan menerapkan FWD.
“Iya, sudah mau diterapkan ini,” kata Andi Sudirman Sulaiman di Rujab Gubernur Sulsel.
Ia mempersilakan ASN untuk menerapkan WFA, dengan ketentuan tiga hari bekerja di kantor dan dua hari bekerja dari mana saja.
“Tiga hari kerja (di kantor), dua hari silakan di mana saja bekerja. Kalau saya yang penting outcome selesai, pekerjaan selesai,” jelasnya. (jun-rif)
