DALAM kehidupan ini, setiap manusia berlomba-lomba untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Salah satu jalan menuju kebahagiaan abadi di surga adalah dengan melakukan amal saleh.
MENURUT Ustaz Yusran, semua orang tentu berharap agar bisa masuk surga dengan bantuan amalan-amalan ibadah yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia
.
“Kita semua pasti berharap, dari sekian banyak amal yang kita lakukan selama hidup ini, itu bisa mengantarkan kita kepada yang namanya surga yang nantinya akan ada di akhirat,” kata Ustaz Yusran dalam siniar Obrolan Ramadan untuk kanal BKM News.
Hal tersebut telah dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 82 yang artinya “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.”
Lalu bagaimana agar amalan ibadah yang dilakukan bisa diterima? Ustaz Yusran bilang, ada dua unsur yang mengiringi perjalanan amal ibadah kita. Pertama adalah amal yang di dalamnya terdapat iman, dan kedua adalah amal shaleh.
“Nah, untuk sampai ke sana Allah mempersyaratkan dua unsur yang mengiringi amal kehidupan kita. Yang pertama adalah amal yang di dalamnya terdapat iman kita. Maksudnya adalah ketika kita beramal secara iman harus kita jaga betul-betul keimanan kita. Dan yang paling utama adalah keimanan kita kepada Allah bahwa segala bentuk hal yang kita lakukan itu kita sandarkan kepada Allah. Yang kedua adalah terkandung unsur bahwa bisa disebut amal saleh. Maksudnya adalah harus memiliki manfaat atau berkah bukan hanya kepada Allah, tetapi juga kepada manusia,” terangnya.
Lebih lanjut Ustad Yusran menekankan bahwa amal atau ibadah kebaikan yang dilaksanakan itu tidak bisa diukur oleh standar kebaikan manusia. Karena semua hal telah diatur oleh agama.
“Untuk melihatnya sebagai kebaikan maka jangan menggunakan standar kebaikan manusia. Karena untuk melihat amal kebaikan, selain secara normal kemanusiaan, kita ini harus melihatnya melalui norma-norma atau aturan agama kita. Karena dalam agama, amal yang baik bagi seorang muslim itu disebut sebagai ibadah mahdoh dan goiroh mahdoh. Karena itu bisa dikatakan baik ketika sesuai aturan,” lanjutnya.
Karena, menurut pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Dai Muda Indonesia (IDMI) Sulsel ini, amal saleh yang dilakukan itu memiliki standar kualitas yang berbeda-beda.
“Amal saleh itu ada tingkatannya juga bahwa semua amal baik, tetapi secara kualitas itu berbeda. Misalnya, ketika saat malam hari di bulan Ramadan bermain bulutangkis itu sebenarnya bagus juga untuk kesehatan, karena itu juga bisa bernilai ibadah dan amal saleh. Tapi kalau bulutangkis dibandingkan dengan mengaji, tentu kelasnya berbeda,” terangnya.
“Boleh main bulutangkis, main bola, memancing tapi pilihan aktivitas seperti ini tidak boleh mengalahkan pilihan-pilihan kita pada amal saleh yang kualitasnya lebih tinggi. Artinya, memilih amal saleh di kesempatan hidup yang sebentar ini kalau bisa pilihannya pilih yang kualitasnya lebih tinggi dari pada aktivitas lainnya, meskipun sama-sama ibadah dan sama-sama baik,” sambungnya.
Untuk itu, ia pun menghimbau kepada seluruh umat muslim untuk selalu senantiasa berdoa agar kebaikan-kebaikan atau amal saleh yang telah dilaksanakan itu bisa diterima oleh Allah Swt.
“Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berdoa mudah-mudahan amal kita itu diterima dengan segala keterbatasan dan segala kelemahan kita. Karena memang inilah yang paling inti dari amal ibadah yang bisa mengantarkan kita ke surga. Sebab biar bagaimanapun amal itu begitu banyak dan mewah, tapi pada akhirnya amal yang diterima itu adalah yang diridhai oleh Allah Swt,” kuncinya. (jar)
