GOWA, BKM — Dalam pelaksanaan program Gowa Sejahtera (Gowa Bersama) yang digelontorkan dalam program 100 hari kerja Bupati Gowa dan wakil bupati (Wabuip) Gowa di awal kepemimpinan periode 2025-2030, seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) menjadi OTA (Orang Tua Asuh) bagi 371 KK (1.108 jiwa) kategori miskin ekstrem.
Khusus untuk Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Gowa dijatahi sebagai OTA bagi 8 KK miskin ekstrem. Kedelapan kepala keluarga ini kemudian dibagi secara struktur. Untuk Kadis Sosial terjatah 3 kk, sekretaris dan kepala bidang masing-masing 1 KK.
Kepada BKM di ruang kerjanya, Jum’at (14/3), Kadis Sosial, Firdaus menjelaskan, sesuai data yang terdaftar dalam SK Bupati Gowa untuk tahun 2023 itu jumlah warga miskin ekstrem di Gowa sebanyak 1.108 jiwa atau 371 KK. Jumlah ini tersebar di seluruh 18 kecamatan di Gowa.
”Tapi tidak merata. Malah ada kecamatan yang sangat minim bahkan hanya 1 kk, ada juga yang hanya 5 kk, ada juga yang lebih 100 kk. Jumlah keluarga miskin ekstrem terbanyak adalah di Kecamatan Bontonompo Selatan yakni 113 KK. Untuk Dinsos kami diberikan tanggung jawab 8 KK di Kecamatan Bontonompo 3 kk untuk Kadis, 1 kk untuk Sekdis, dan tiga Kabid bertanggung jawab masing-masing 1 KK. Untuk 8 kk ini terbagi pada dua desa saja yakni 3 KK di Desa Manjapai dan 5 KK di Desa Bulogading,” jelas Kadis Sosial, Firdaus.
Delapan kk yang menjadi keluarga asuh bagi jajaran Dinsos ini masing-masing keluarga Bacce Dg Kamma, Bundu Dg Beta dan Mo’mina berdomisili di Manjapai (Kadis Sosial sebagai OTA).
Keluarga Burhanuddin di Bulogading ditangani Sekdis Sosial, Rachman Mapparess sebagai OTA, keluarga Rahman Ranggo di Bulogading ditangani Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Rizkayana Sabir, keluarga Jufri di Bulogading ditangani Kabid Perlindungan dan Jamsos, Andi Baso Gazali.
Untuk keluarga Aspar di Bulogading ditangani Kabid Pemberdayaan Sosial Jamilah Rasyid dan untuk keluarga Nur Asyifa Nasyirah ditangani Kabid Penanganan Fakir Miskin, Muhammad Ali.
Dalam upayanya melakukan pendampingan sebagai OTA, Firdaus mengatakan, pihaknya langsung eksyen mengunjungi rumah keluarga target. Selain memberikan bantuan untuk kebutuhan pokok, keluarga target diassessment.
Dijelaskannya, indikator kemiskinan ekstrem itu salah satunya adalah tidak ada jamban, tidak ada sumber air bersih, tidak ada listrik atau ada tapi hanya 450 Watt, penghasilannya tidak tentu dan kalau ada penghasilan hanya berkisar Rp322 ribu sekian.
Salah satu Kabid Dinsos yakni Kabid Perlindungan dan Jamsos, Andi Baso Gazali, mengatakan, sejak upaya penuntasan kemiskinan ekstrem digencarkan, pihaknya pun langsung menindak lanjuti ke bawah.
”Untuk bidang kami terjatah satu keluarga miskin ekstrem di Bulogading namanya Pak Jufri. Begitu Dinsos mendapatkan 8 KK, empat bidang di Dinsos langsung bekerja termasuk pak Kadis dan pak Sekdis kami. Kami semua langsung turun dan terbagi di dua wilayah di Kecamatan Bontonompo. Hari pertama kami sudah turun lalu kami assessment, berikutnya kami akan assessment kembali apakah statusnya masih bertahan sebagai miskin ekstrem atau sudah naik menjadi miskin. Kita dampingi terus sampai lepas dari status ekstrem,” ucap Andi Baso Gazali. (sar)
