Site icon Berita Kota Makassar

Selain AAS, Banyak Tokoh Bisa Pimpin KKSS

MAKASSAR, BKM — Sejumlah politisi, pengusaha, akademisi hingga birokrat dinilai layak maju sebagai ketua umum Badan Pengurus Pusat (BPP) KKSS periode 2025-2030 menggantikan Muchlis Patahna pada Musyawarah Besar (Mubes) XII, yang dirangkaikan dengan Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar (PSMB) ke XXV di Four Point by Sheraton Hotel, Rabu hingga Jumat (9-11/4).
Mereka diantaranya Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman (ASS), politisi PKS Tamsil Linrung (TL), politisi Partai Golkar Idrus Marham serta politisi Demokrat M Jafar Hapsah yang masih menjabat ketua dewan pakar KKSS.

Selain itu, organisasi yang menaungi lebih kurang 16 juta warga Sulsel di rantauan ini juga menggadang-gadang sejumlah tokoh lain yang layak untuk maju berkontestasi di di mubes, seperti Wakil Ketua Umum Muslimin Mawi dan Ilham Noer Putri Hatta, Sekjen Abd Karim, serta tokoh perempuan Andi Ida Nur Santi.
AAS merupakan ayah dari anggota Fraksi Gerindra DPR RI, serta salah satu kandidat yang disebut layak sebagai ketua umum DPP PPP pada Muktamar di Bali Mei atau Juni mendatang. Ia juga merupakan kakak kandung gubernur Sulsel ini juga menjabat Ketua Umum IKA Unhas Pusat.

Adapun Idrus Marham yang pernah menjabat Menteri Sosial RI, tercatat sebagai wakil ketua umum DPP Golkar. Idrus yang dihubungi mengaku bila dirinya lebih mendukung AAS sebagai calon ketua umum BPP KKSS.
Idrus Marham memberikan pandangannya terkait calon ketua umum BPP KKSS. Ia menyampaikan, kalau KKSS ingin berperan maka harus dipimpin orang yang secara kualitatif memiliki kemampuan. “Bukan sekadar ada ketokohan, tapi terbukti dalam kehidupan masyarakat ada kerja intelektual dan menjadi contoh teladan dalam masyarakat dan sebagainya,” katanya.
Menurutnya, KKSS butuh pemimpin seperti AAS. “Sekali lagi KKSS butuh Amran sebagai nakhoda atau pilot,” imbuhnya.

Ia menyampaikan, AAS butuhkan KKSS untuk berperan, maka AAS harus menunjukkan tanggung jawabnya. “Dan menurut saya dia paling cocok sekarang. Amran bisa memberikan sinar dan kemanfaatan. Dia Menteri Pertanian jadi dia ada di mana-mana,” kata Idrus, yang menyampaikan ada banyak ketua DPW KKSS yang meminta kepada dirinya supaya BPP KKSS dipimpin AAS.
Hal sama juga diisyaratkan Tamsil Linrung. Politisi yang pernah tercatat sebagai anggota DPR RI ini mendukung penuh AAS untuk menjadi ketua umum KKSS. “Pak Tamsil menyampaikan pandangan bahwa sosok yang paling tepat untuk menakhodai KKSS adalah Pak Andi Amran Sulaiman,” ujar Tamsil Linrung melalui Muzakkir Djabir selaku Staf Ahli Wakil Ketua DPD RI ini.

Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin Dr Hasrullah menilai banyak tokoh yang layak memimpin KKSS. Hasrullah mencontohkan mantan wakil presiden dua periode Jusuf Kalla (JK). “Coba buka semua tokoh intelektual kita. Kita tidak hanya menampilkan satu dua tokoh, tapi kasih muncul semua tokoh yang punya kapasitas dan daya jelajah. Kita butuh meski tidak domisili di sini tapi punya daya jelajah,” ujar Hasrullah.
Dirinya mencontohkan dua sosok yang punya daya jelajah. Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, tokoh kelahiran Makassar yang mampu memimpin daerah lain. Begitu juga dengan Zainal Arifin Paliwang, putra Makassar kini menjadi Gubernur Kalimantan Utara.

“Ada juga Nasaruddin Umar ini menteri terbaik. Artinya, punya nilai intelektual. Diterima semua kelompok,” jelasnya.
Hasrullah melihat KKSS wajib memiliki standar tinggi terkait sosok yang layak memimpin selama lima tahun ke depan.

Jadi Simpul Penghubung

Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Provinsi Sulawesi Selatan Hasbi Syamsu Ali, mengemukakan bahwa siapa pun berhak mencalonkan diri sebagai ketua umum KKSS. Ketua Umum BPP KKSS Muchlis Patahna disebut telah memimpin organisasi ini dan melakukan berbagai kegiatan, seperti menghadiri sejumlah acara penting
Hasbi Syamsu Ali yang juga Koordinator Expo PSBM XXV dan Mubes KKSS XII menilai jika dalam dinamika kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat, terutama dalam KKSS, nilai-nilai kultural bukan sekadar hiasan warisan leluhur, melainkan fondasi utama dalam membangun kebersamaan dan solidaritas sosial.

Salah satu falsafah luhur yang patut menjadi pegangan moral kita hari ini adalah sirui menre tessirui no’, yang berarti jika satu naik, yang lain tidak ditinggal. Ini adalah prinsip untuk bisa tumbuh dan berkembang bersama-sama tanpa ada yang ditinggalkan.

Falsafah Bugis ini mengandung pesan kemanusiaan yang mendalam, bahwa kita tidak boleh tumbuh sendiri, tanpa menarik yang lain untuk turut tumbuh.
Dalam organisasi besar seperti KKSS, prinsip ini menjadi landasan yang sangat relevan dan strategis untuk membangun kekuatan kolektif di tengah tantangan zaman, baik secara nasional maupun dunia global.
Sirui menre tessirui no’ bukan hanya soal empati, tetapi lebih dari itu. Ia adalah bentuk komitmen aktif untuk memajukan sesama. Ketika satu orang atau kelompok berhasil dalam pendidikan, bisnis, jabatan, atau kontribusi sosial, maka keberhasilan itu harus membuka jalan bagi yang lain. Tidak boleh ada yang ditinggalkan, apalagi dilupakan.

Semangat ini menggeser cara pandang kita dari sekadar kompetisi ke arah koevolusi, bertumbuh bersama secara harmonis dan kolektif. “Itulah wujud konkret dari semangat tabe’, sipatuo-sipatokkong. Budaya kita yang mengajarkan untuk saling menghargai dan mendukung dalam setiap langkah. Kita sudah akrab dengan nilai siri’ na pesse, yang mencerminkan harga diri dan empati. Begitu pula dengan sumangeq dan ininnawa -daya hidup dan hati nurani- yang menjadi sumber kekuatan kita untuk bertahan di tengah badai zaman. Tapi semua nilai itu hanya akan menjadi cerita lama jika tidak kita hidupkan dalam keseharian. Sirui menre tessirui no’ adalah perpanjangan tangan dari nilai-nilai tersebut, tetapi dalam bentuk yang lebih aplikatif dan terukur,” ujarnya.

Di sinilah KKSS harus hadir sebagai organisasi yang bukan hanya menjaga kebudayaan, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan dan pemberdayaan.
KKSS harus tampil sebagai jaringan sosial yang tidak sekadar berhimpun, tetapi berfungsi menjadi simpul penghubung antarwarga perantauan dengan berbagai latar belakang profesi, generasi, dan potensi.
“Menjelang Mubes KKSS ke-12, saya mengajak kita semua untuk menjadikan sirui menre tessirui no’ bukan hanya semboyan, tapi gerakan kolektif dalam organisasi KKSS dari pusat hingga wilayah, dari kota hingga desa, dari yang tua hingga generasi muda,” pintanya.
Sebelumnya, Hasbi yang dikenal sebagai pengusaha konstruksi nasional di bawah bendera Wiratama Karya Nugraha Group ini menilai, dari sejumlah nama yang beredar, sosok AAS figur yang paling tepat memimpin KKSS ke depan.

“KKSS harus dinakhodai figur yang memiliki jaringan tingkat nasional serta kedekatan dengan pemerintahan saat ini. Dengan begitu, kepemimpinannya nanti bisa mengoptimalkan seluruh potensi organisasi,” ujar Hasbi yang juga Sekretaris DPD HJTI Sulsel. (rif)

Exit mobile version