MAROS, BKM — Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Maros terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Data resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Maros mencatat sebanyak 119 orang dengan HIV (ODHA) telah menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) sejak 2011 hingga April 2025.
Kepala Dinas Kesehatan Maros, Muhammad Yunus, menjelaskan, sepanjang tahun 2025 (hingga April) telah ditemukan lima kasus baru HIV. Sementara pada tahun sebelumnya, yaitu 2024, terdapat 20 kasus. Adapun pada 2023 ditemukan 39 kasus, dan pada 2022 tercatat 32 kasus.
Lebih lanjut Yunus menyampaikan, dari total kasus tersebut, sebanyak 12 ODHA dilaporkan meninggal dunia dalam kurun waktu 2021 hingga 2024.
”Angka ini merupakan akumulasi, bukan kematian dalam satu tahun,” tuturnya.
Ia mengatakan, mayoritas penderita HIV di Maros berada dalam rentang usia remaja hingga 40 tahun, yang merupakan kelompok usia produktif. Kasus terbanyak ditemukan di wilayah perkotaan, yang memiliki mobilitas sosial tinggi dan akses informasi yang lebih terbuka.
”Sebagian besar kasus ditemukan saat skrining kesehatan maupun saat pemeriksaan medis umum. Karena HIV adalah penyakit yang sensitif, banyak yang tidak terdeteksi sejak awal,” terangnya.
Penyebab utama penularan HIV di Maros masih didominasi perilaku berisiko seperti seks bebas tanpa pengaman dan penggunaan narkoba melalui suntikan. Selain itu, meskipun lebih jarang, penularan melalui transfusi darah juga masih menjadi perhatian. (ari/c)
