EFISIENSI anggaran merupakan aspek penting dalam menjaga kestabilan keuangan negara. Bukan semata untuk mengurangi pengeluaran, tetapi lebih kepada mengarahkan dana publik agar digunakan untuk hal-hal yang benar-benar prioritas dan bermanfaat luas.
Penghematan anggaran bukan berarti sekadar memangkas dana, melainkan memastikan bahwa pengurangan tersebut sudah sesuai, tepat sasaran, dan merata, terutama pada sektor-sektor yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Di sinilah pentingnya transparansi antara pemerintah dan rakyat. Ketika publik diberi akses terhadap informasi anggaran secara terbuka, rasa cemas dan curiga akan berkurang, digantikan oleh rasa percaya. Efisiensi baru bisa disebut matang jika dijalankan dengan perhitungan yang jelas dan komunikasi yang terbuka.
Terkait program makan bergizi gratis (MBG), saya sepenuhnya mendukung inisiatif ini. Kita semua tahu bahwa makan adalah kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup, dan ketika program ini menyasar anak-anak sekolah, tentu manfaatnya menjadi sangat strategis. Namun, kekhawatiran muncul bukan pada gagasannya, melainkan pada implementasinya.
Meski baru berjalan beberapa bulan, sudah banyak laporan mengenai distribusi makanan yang tidak layak konsumsi, seperti makanan basi atau belum matang. Ini menunjukkan bahwa ada celah serius dalam pelaksanaannya. Tapi, menyalahkan sepenuhnya pihak pemerintah, apalagi presiden, bukanlah jalan keluar.
Program sebesar ini butuh kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Kita tidak bisa hanya menuntut, tanpa ikut mengawasi dan memberi masukan yang membangun. Karena, seperti pepatah lama, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab bisa merusak keseluruhan program yang sejatinya sangat mulia. Maka yang perlu kita lakukan adalah introspeksi, saling mendukung, dan menjaga semangat gotong royong agar program seperti MBG benar-benar berhasil sesuai tujuannya.
(mg6)
