SIDRAP, BKM — Warga Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) geger. Dalam sehari, Kamis (15/5), pada rentang waktu yang singkat ditemukan empat mayat pada lokasi berbeda. Tiga mayat di saluran irigasi dan satu orang di dalam rumahnya.
Mirisnya, tiga jasad yang ditemukan mengapung di irigasi merupakan satu keluarga. Terdiri dari seorang ibu bersama dua anaknya yang masih di bawah umur. Satu lainnya adalah seorang lansia dalam kondisi sudah membusuk di dalam rumah panggung miliknya.
Tiga jasad dari satu keluarga ditemukan terpisah di tiga desa berbeda. Masing-masing Lustiana Dewi Putri (25), bersama dua anaknya Abdillah Fathir (4) dan Muhammad Al Fatih (1). Mereka ditemukan tak bernyawa di Desa Sereang, Talumae, dan Allakkuang.
Ketiganya diduga hanyut lalu terbawa arus air irigasi.
Penemuan jasad berawal sekitar pukul 09.00 Wita. Ketika itu Lakuba, seorang petugas PSDA menemukan mayat anak kecil di pintu air Desa Allakkuang. Tak berselang lama, dua jasad lainnya ditemukan oleh petugas pintu air lain di desa berbeda.
Seluruh korban langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Nene Mallomo, Pangkajene.
Pada pukul 15.50 Wita, seorang pria bernama Ridwan (35) yang mengaku sebagai suami dan ayah para korban, datang ke rumah sakit dan mengidentifikasi ketiganya sebagai anggota keluarganya.
Ia mengungkapkan bahwa istrinya memiliki riwayat baby blues syndrome, yang kemungkinan menjadi latar belakang peristiwa memilukan ini.
Sementara itu, di waktu hampir bersamaan, pada pukul 11.20 Wita, ditemukan pula jasad seorang lansia bernama Hanafi (70) di dalam rumah panggung miliknya di Kelurahan Wala, Lingkungan II Pemantingan. Korban pertama kali ditemukan oleh tetangganya Hj Erna, setelah mencium bau busuk.
Dugaan sementara, Hanafi meninggal karena sakit dan tidak diketahui oleh keluarganya yang tinggal di luar daerah.
Kapolres Sidrap AKBP Fantry Taherong, melalui Kasat Reskrim AKP Setiawan, membenarkan adanya temuan empat jasad tersebut dan menyatakan penyelidikan masih dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian para korban.
Hingga kemarin, tiga jasad satu keluarga masih disemayamkan di RS Nene’ Mallomo untuk menunggu proses pemulangan ke kampung halamannya di Kabupaten Sinjai.
Pemerintah daerah dan aparat keamanan mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap aktivitas anak-anak di saluran irigasi, terutama saat debit air tinggi, dan segera melaporkan kejadian mencurigakan atau kehilangan anggota keluarga agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Baby Blues Syndrome
Duka yang begitu mendalam dirasakan oleh Ridwan alias Wawan. Pria berusia 35 yang berprofesi sebagai buruh tani asal Kabupaten Sinjai yang kini menetap sementara di Sidrap demi mengais rezeki.
“Saya cuma mau cari nafkah, tak sangka pulang-pulang sudah begini…,”
tuturnya sambil terisak di RS Nene’ Mallomo, kemarin.
Dalam pengakuannya, Ridwan mengungkapkan bahwa sehari-harinya ia bekerja serabutan. Mulai dari mencangkul sawah hingga menjadi buruh pabrik penggilingan gabah demi mencukupi kebutuhan keluarganya.
Ketika harus keluar rumah bekerja, dirinya tak pernah menyangka jika kepergian itu menjadi pertermuan terakhir dengan istri dan kedua anaknya.
“Istri saya memang akhir-akhir ini sering murung, banyak diam, kadang menangis sendiri,” tutur Ridwan dengan mata sembab.
“Dia pernah cerita rasanya takut urus anak-anak sendiri, merasa gagal jadi ibu. Tapi saya kira itu biasa, karena dia memang capek di rumah,” imbuhnya.
Ridwan mengungkapkan bahwa istrinya Lustiana, sempat menunjukkan gejala yang menurutnya aneh usai melahirkan anak bungsu mereka. Ia takut berlebihan, mudah cemas, dan terkadang kehilangan semangat menjalani hari. Belakangan, barulah ia tahu bahwa gejala itu kemungkinan adalah baby blues syndrome, sebuah gangguan psikologis pascamelahirkan yang kerap tak disadari banyak keluarga muda.
“Saya baru tahu itu namanya baby blues, setelah orang rumah sakit bilang. Dulu saya cuma kira dia kecapekan, stres biasa. Saya salah. Saya salah tidak bawa dia periksa, tidak jaga lebih dekat,” ujar Ridwan, tersedu.
Lustiana diketahui hanya seorang ibu rumah tangga, tinggal di rumah sederhana mereka di Desa Carawali, Kecamatan Watang Pulu, Sidrap. Sementara suaminya pulang hanya saat waktu luang atau selesai kerja. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan ditambah keterbatasan akses ke layanan kesehatan jiwa, menjadi tembok penghalang bagi Lustiana untuk mendapat pertolongan.
“Kadang makan saja harus diirit. Kalau saya tidak kerja, tidak ada beras masuk. Tapi sekarang, saya kerja tiap hari pun tetap tidak bisa bawa mereka kembali,” ungkap Ridwan dengan suara parau.
Ridwan mengaku dirinya tidak mengetahui kapan istri dan dua anaknya keluar rumah. Ia baru mendapatkan kabar dari pihak RS Nene’ Mallomo pada sore hari setelah aparat menemukan ketiga jasad di lokasi yang terpisah.
“Saya masih syok waktu lihat jasad istri dan anak-anak saya di rumah sakit. Saya tidak tahu mereka keluar rumah, tidak ada pamit. Mungkin dia sudah menyerah. Saya gagal sebagai suami,” ucap Ridwan dengan nada lirih.
Jenazah ketiga korban disemayamkan di ruang jenazah RS Nene’ Mallomo, menunggu proses autopsi dan administrasi sebelum dipulangkan ke kampung halaman mereka di Kabupaten Sinjai.
Ridwan mengaku hidup sebatang kara setelah seluruh keluarganya tewas. Ia menyampaikan bahwa ia ingin memakamkan mereka di tanah kelahiran, agar dekat dengan orang tua dan keluarga besar.
“Saya mau mereka tenang di kampung. Saya juga bisa sering ziarah nanti kalau pulang. Biarlah ini jadi pelajaran buat saya dan semua suami di luar sana, jangan anggap enteng keluhan istri di rumah,” tutup Ridwan sambil menunduk, menahan tangis.
Tragedi ini menyisakan pelajaran berharga bagi masyarakat luas bahwa kesehatan mental, khususnya bagi ibu pascamelahirkan, harus menjadi perhatian serius. Baby blues atau depresi pascapersalinan bukan hal sepele, dan dukungan emosional serta peran suami dan keluarga adalah benteng utama agar tragedi seperti ini tidak terulang.
Pihak kepolisian, TNI, serta pemerintah daerah pun terus berkoordinasi dalam penanganan kasus ini, sembari memberikan pendampingan kepada keluarga korban. Rencananya, Dinas Sosial setempat juga akan melakukan pendataan keluarga rentan agar program bantuan dan edukasi psikososial bisa lebih tepat sasaran.
(ady/A)
