SAYA merupakan salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang terdampak oleh penghentian beasiswa Kementerian Kesehatan akibat pengalihan dan efisiensi anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis dan Danantara.
Sebagai mahasiswa kedokteran yang menempuh pendidikan dengan biaya yang sangat tinggi, beasiswa Kementerian Kesehatan menjadi salah satu jalan penting bagi saya untuk menyelesaikan studi kedokteran. Ketiadaan beasiswa tersebut tentu mengancam kelangsungan pendidikan saya.
Saya memahami bahwa program Makan Bergizi Gratis sebagai upaya preventif terhadap stunting dan malnutrisi sangatlah penting. Namun, apakah pantas apabila program tersebut diprioritaskan dengan mengorbankan pengembangan tenaga kesehatan yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam aspek promotif, kuratif, dan rehabilitatif? Hal ini justru mencerminkan ketidakkonsistenan dalam kebijakan kesehatan nasional.
Dalam kondisi kekurangan tenaga dokter di Indonesia, siapa yang dapat menjamin anak-anak tersebut tumbuh sehat hingga dewasa jika akses terhadap pendidikan kedokteran yang menjadi sumber utama penyedia layanan kesehatan dipersempit karena minimnya dukungan negara?
Jika beasiswa di bidang kesehatan dipangkas, siapa yang akan mengabdi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T)? Siapa yang akan menangani kasus stunting dan mendukung program Makan Bergizi Gratis secara langsung di lapangan? Bukankah seharusnya hal ini menjadi perhatian serius?
Alih-alih memperkuat pendidikan tenaga kesehatan, pemerintah justru memangkas bantuan pendidikan yang vital. Apakah investasi jangka panjang seperti Danantara lebih mendesak dibandingkan dengan memastikan pendidikan dokter tidak terhambat? Sungguh hal ini perlu dikaji kembali.
Pada akhirnya, ketersediaan makanan bergizi akan menjadi kurang bermakna jika jumlah tenaga kesehatan yang mampu mendiagnosis dan menangani masalah kesehatan masyarakat masih terbatas.
Sebagai penutup, saya tidak menolak keberadaan program Makan Bergizi Gratis. Namun, sangat penting untuk memastikan bahwa program-program ini tidak mengurangi investasi terhadap salah satu aspek fundamental dalam pembangunan kesehatan nasional, yakni pengembangan tenaga kesehatan.
Anak-anak memang memerlukan asupan gizi yang baik, tetapi mereka juga memerlukan tenaga medis yang dapat menjamin mereka tumbuh sehat hingga dewasa. (mg1)
