Site icon Berita Kota Makassar

Trisula Masuk Lorong Bantu Semen Untuk Saluran Air

MAKASSAR, BKM–Legislator Partai Demokrat DPRD Kota Makassar Dr. Tri Sulkarnain Ahmad, MM, hadir langsung membawa bantuan 10 sak semen melewati lorong sempit yang basah dan becek, satu-satunya suara yang terdengar bukanlah deru mesin proyek, melainkan suara warga yang bergotong royong membenahi saluran air yang rusak karena sudah lama tak tersentuh program pemerintah.
Tri Sulkarnain, yang dikenal warga dengan nama Trisula, memilih tak hanya memantau dari balik meja kantor. Ia turun langsung ke RT 04 RW 09, Kelurahan Tamalanrea Indah, untuk melihat kondisi saluran air yang dibenahi swadaya oleh warga.

“Saya datang bukan membawa proyek besar, tapi membawa hati. Kalau negara belum hadir, maka wakil rakyat yang harus lebih dulu hadir. Politik yang benar adalah menyentuh masalah dasar warga, bukan hanya duduk di rapat dan menyusun rencana yang tak sampai ke lorong,” tegasnya, Senin (26/5).
Wakil Ketua Fraksi Mulia DPRD Makassar ini menyoroti lemahnya eksekusi program infrastruktur di wilayah padat penduduk seperti Tamalanrea Indah, di mana kebutuhan dasar seperti drainase justru tak tersentuh anggaran tahunan.

“Sudah sering lokasi ini diukur oleh dinas teknis, tapi tidak pernah ada tindak lanjut. Ini bukan soal data, tapi soal empati. Jangan biarkan rakyat membangun sendiri saluran air dengan iuran seadanya,” ujarnya.
Salah satu warga, Jabal, yang bertindak sebagai koordinator kerja swadaya, menanggapi kehadiran Trisula dengan rasa haru dan bangga. “Pak Dewan datang bukan bawa pencitraan, tapi bantu kami yang betul-betul kepepet. Kami bangun ini pakai dana patungan. Tidak ada SPK, tidak ada kontraktor. Kami hanya rakyat yang muak kebanjiran,” katanya.

“Kami ini hanya warga lorong, tapi kami tidak minta banyak. Saluran air saja, masa harus kami yang biayai? Negara ke mana?”
Bagi Anggota Komisi A DPRD Makassar ini, aksi turun ke lapangan seperti ini bukan sekadar bagi-bagi bantuan, tapi panggilan tanggung jawab politik.
“Kalau kita ingin membangun kota yang adil, maka got di depan rumah rakyat kecil juga harus kita pikirkan. Jangan hanya bangun monumen di pusat kota, sementara air got masuk rumah warga tiap hujan datang,” tuturnya. (ita/rif)

Exit mobile version