MAKASSAR, BKM–Tim pengarah atau Steering Committee (SC) serta pimpinan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan menjadi salah satu penentu kandidat yang akan terpilih dan menahkodai Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Sulsel periode mendatang.
Penentu lain yakni Ketua umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar serta mayoritas DPD II se Sulawesi selatan, ditambah ormas pendiiri yakni MKGR, Kosgoro dan Soksi. Ormas yang didirikan diantaranya AMPG, KPPG, AMPI, Satkar Ulama, Al-Hidayah, Himpunan Wanita Karya (HWK) dan Majelis Dakwah Indonesia (MDI).
Terkait peran DPP yang bisa mementahkan dukungan DPD II, pemerhati politik dari PT Nurani Strategic Dr Nurmal Idrus mengemukakan bahwa sesuai AD/ART Golkar, rekomendasi DPD II hanya digunakan sebagai syarat pencalonan untuk maju minimal 30 persen pemilik suara, “Berarti minimal sembilan atau sepuluh dukungan untuk maju sebagai claon,”ujar Nurmal Idrus, Minggu (1/6). Lantas apakah rekomendasi itu dapat menjamin dan menjadi suara di diarena Musda. “Saya fikir fifty-fifty karena dukungan tidak mencerminkan suara, apalagi jika dilakukan dengan pemilihan atau voting secara tertutup.”jelas Mantan Ketua KPU Makassar ini.
Selain itu, selama ini DPP juga punya satu suara, tapi kecenderungan DPP biasa menggunakan jalur belakang dengan memberikan sinyal ke DPD II ataupun jalur depan contohnya dengan memberikan diskresi kepada kandidat.
Pada dua Musda terakhir, DPP menjadi penentu melalui SC atau pimpinan Musda yang ditujuk.
Musda Golkar Sulsel yang digelar November 2009, Ketua Harian DPP Golkar HAM Nurdin Halid (NH) ditunjuk sebagai SC untuk memilih antara Ilham Arief Sirajuddin atau Syahrul Yasin Limpo (SYL).
Mayoritas DPD II mendukung IAS, sementara SYL mendapat dukungan minoritas, namun langkah IAS kandas atas kemampuan NH sebagai SC memutuskan aklamasi dibandingkan voting.
Dua massa pendukung antara IAS dan SYL juga sudah siap benturan, namun aparat keamanan mampu menjaga dan meredam potensi konflik tersebut.
Pada Musda September 2020, empat calon yang bersaing yakni Taufan Pawe, Supriansa, Hamka B Kady dan Syamsuddin Hamid. Taufan Pawe akhirnya terpilih secara aklamasi di Hotel Sultan Jakarta yang dipimpin NH sebagai pimpinan Musda.
Meski sebelumnyam ada sejumlah bakal calon seperti Andi Fahsar Padjalangi, Andi Kaswadi Razak, Andi Rio Padjalangi, HA Kadir Halid dan Arfandi Idris namun kurang mendapat dukungan dan tidak mendapatkan diskresi dari DPP kecuali Taufan Pawe dan Supriansa. (rif)

