MAKASSAR, BKM — PT Pelindo Regional 4 menghadapi persoalan sosial terkait pedagang asongan dan tenaga buruh bagasi.Sejumlah penumpang mengeluhkan ketidaknyamanannya menghadapi buruh angkut maupun pedagang asongan.
Bahkan ada video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang pedagang asongan rela memanjat tali kapal agar bisa naik berjualan di salah satu kapal yang sedang berlabuh di Pelabuhan Soekarno-Hatta.
Menyikapi kondisi tersebut, Pelindo Regional 4 berupaya menyelesaikan persoalan sosial yang terjadi di kawasan Pelabuhan Makassar, khususnya terkait kehadiran pedagang asongan dan tenaga buruh bagasi.
Menurut Executive Director 4 Pelindo Regional 4, Abdul Azis,pihaknya bekerja sama dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Makassar, aparat keamanan, serta stakeholder lainnya untuk melakukan penataan kawasan terminal penumpang.
Langkah-langkah yang diambil antara lain melakukan sosialisasi intensif kepada pedagang asongan terkait larangan berjualan di dalam area terminal dan dermaga demi menjaga ketertiban dan keamanan.
Serta penguatan regulasi dan pengawasan di area masuk pelabuhan, termasuk pengendalian akses keluar masuk orang dan barang.
Selanjutnya, peningkatan kerja sama dengan operator dan pengguna jasa untuk memastikan distribusi tenaga kerja atau buruh bagasi di Pelabuhan Makassar dilakukan secara adil dan transparan melalui sistem resmi yang telah ditetapkan.
Selain itu juga, saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan untuk pemberdayaan ekonomi alternatif bagi pelaku usaha informal di sekitar pelabuhan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) perusahaan.
“Kami memahami bahwa pelabuhan bukan hanya ruang logistik, tapi juga ruang sosial. Oleh karena itu, penataan yang kami lakukan selalu mengedepankan pendekatan humanis, komunikatif, dan kolaboratif,” Abdul Azis, saat melakukan jumpa pers di Good Field Kafe, Jalan Botolempangan, Minggu (1/6).
Dia menekankan, Pelindo Regional 4 berkomitmen untuk terus menciptakan pelabuhan yang aman, tertib, bersih, dan nyaman bagi seluruh pengguna jasa. Upaya penataan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan memperkuat peran pelabuhan sebagai simpul penting dalam konektivitas nasional dan Kawasan Timur Indonesia.
Lebih jauh dikemukakan, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 mencatatkan kinerja positif sepanjang Kuartal I Tahun 2025 secara konsolidasi.
Tiga indikator utama operasional pelabuhan yaitu arus penumpang, arus peti kemas, dan arus kapal mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, menandakan momentum pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang terus menguat.
Berdasarkan data konsolidasi operasional, arus penumpang tercatat meningkat sebesar 20,87% dari 2.323.310 penumpang pada kuartal I tahun lalu. Ini mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat di kawasan timur seiring membaiknya infrastruktur pelabuhan serta konektivitas antardaerah.(rhm)
