MAKASSAR, BKM–Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi disebut kandidat kuat dalam perebutan kursi Ketua DPD I Golkar Provinsi Sulawesi Selatan menghadapi petahana Dr Taufan Pawe (TP).
Meski kandidat lain juga masih tetap memiliki peluang seperti Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Adnan Purichta Ichsan.
Hingga kini sejumlah elite daerah atau pengurus DPD II Golkar Kabupaten dan Kota telah memberikan rekomendasi atau surat keputusan agar Appi maju di Musyawarah Daerah (Musda) sebagai calon Ketua DPD I Golkar Sulsel dan mencapai 12 dukungan.
Diketahui Appi yang kini menjabat Wali Kota Makassar, diketahui mulai intens melakukan safari politik ke sejumlah daerah, menjumpai pemilik suara jelang Musda mendatang. Manuvernya ini dianggap serius untuk menancapkan pengaruh dan memperkuat legitimasi di mata Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
Pengamat politik Universitas Hasanuddin, Sukri Tamma menilai langkah Appi belum sepenuhnya menjadi penentu. Dalam tradisi Golkar, kata dia, restu terakhir tetap berada di tangan Ketua Umum DPP Golkar Bahlil Lahadalia.
“Saya kira itu sudah jadi tradisi di Golkar. Penentuan tetap ada di tangan partai, dan secara khusus di tangan Ketua Umum. Tapi tentu, suara dari daerah tetap akan jadi pertimbangan objektif,”kata Sukri baru-baru ini.
Sukri menilai, langkah Appi yang aktif bergerak menemui pengurus di daerah merupakan upaya strategis. Tujuannya adalah membangun persepsi kuat bahwa dirinya mendapat dukungan mayoritas suara akar rumput partai.
“Apa yang dilakukan Munafri itu upaya untuk meyakinkan DPP bahwa dia paling diterima. Ini penting karena pemilik suara di daerah akan jadi indikator bagi DPP dalam menentukan arah kebijakan,”lanjut Sukri.
Namun, ia mengingatkan bahwa Golkar bukan partai yang linear dalam menentukan siapa yang akan memimpin di level daerah. Tradisi panjang partai ini menunjukkan bahwa faksi-faksi internal tetap ada dan saling bersaing, meski di permukaan terlihat solid.
“Golkar partai yang sudah matang. Ada banyak faksi, kadang tidak selalu sejalan. Tapi tradisinya adalah tetap mengutamakan soliditas di akhir. Jadi siapa pun yang dipilih nanti, biasanya tetap akan diterima dan diikuti,”jelasnya.
Kekuatan Golkar, menurut Sukri, terletak pada kedewasaan organisasinya dalam mengelola perbedaan. Karena itu, ia menilai siapa pun kandidat yang tampil, termasuk Munafri, harus mampu menggalang konsensus bukan hanya di akar rumput, tapi juga di lingkaran strategis DPP. “Upaya mendekati pemilik suara itu penting. Tapi jangan lupa, yang menentukan tetap DPP. Kalau DPP merasa kandidat A lebih bisa menjaga stabilitas dan kepentingan partai, maka suara akar rumput bisa saja dinetralisir,”katanya.
Sukri juga menggarisbawahi pentingnya komunikasi politik antara calon dengan DPP. Apalagi, Pilkada serentak 2024 lalu, Appi berhasil merebut Makassar dengan brand sebagai pemimpin muda, teknokrat, dan profesional. Citra inilah yang bisa menjadi nilai tawar di tingkat pusat.
“Kalau Appi berhasil meyakinkan bahwa dia bukan hanya kuat di Sulsel tapi relevan untuk strategi nasional, peluangnya jauh lebih besar,”tuturnya.
Dinamika ini menempatkan Appi dalam posisi menarik, kuat di akar rumput, namun tetap harus mengunci restu pusat. Jika berhasil, ia bisa menjadi lokomotif konsolidasi Golkar Sulsel menuju Pilkada 2029. Jika gagal, maka itu pertanda bahwa peta kekuasaan internal Golkar masih penuh kalkulasi rumit di balik layar. (jun/rif)
Luhur: Partai Harus Memperhatikan Aspirasi dari Bawah
PENGAMAT politik dari Universitas Hasanuddin Dr Luhur A Prianto mengaku belum tau seperti apa mekanisme penetapan Ketua DPD I Golkar yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) mereka.
“Namun semestinya ketika kita melihat dalam kacamata demokrasi dalam tata kelola partai, maka aspirasi dari bawah menjadi acuan dalam penetapannya. Biasanya memang ada diskresi untuk melakukan tindakan arbitrasi ketika ada hal yang dianggap membahayakan organisasi partai, seperti konflik atau dualisme. Namun jika tidak ada hal seperti itu maka seharusnya partai memperhatikan rekomendasi dari DPD II sebagai aspirasi pengurus partai ditingkat bawah.
Wakil Ketua Umum DPP Golkar, Dr Idrus Marham menegaskan bahwa Musda akan menjadi momentum penting untuk mengembalikan kejayaan Golkar sebagai “lumbung beringin” di kawasan timur Indonesia.
Menurut Idrus, Ketum Bahlil Lahadalia, memahami betul konstelasi politik di wilayah timur, termasuk Sulsel yang selama ini menjadi basis kuat partai berlambang pohon beringin rindang itu.
Namun, ia mengakui adanya degradasi eksistensi dan elektabilitas Golkar dalam beberapa tahun terakhir.
Mantan Sekjen Partai Golkar itu menekankan, bahwa Musda kali ini tidak boleh dijadikan ajang perebutan kekuasaan antar gerbong, tetapi harus mengedepankan kader-kader yang memiliki prestasi politik, daya juang tinggi, serta kemampuan konsolidasi internal.
Idrus menyoroti pentingnya memilih figur pemersatu, bukan tokoh kontroversial atau yang hanya mewakili kelompok tertentu.
“Prestasi menjadi tolok ukur. Yang dibutuhkan adalah kader yang bisa menyatukan, bukan memecah. Tidak boleh lagi ada gerbong-gerbongan yang saling menjegal,” tegasnya.
Ia berharap Musda 2025 mampu melahirkan pemimpin yang tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga memiliki semangat patriotisme dan nasionalisme tinggi, serta mendahulukan kepentingan partai dan daerah di atas kepentingan pribadi. (jun/rif)
