MAKASSAR, BKM — Sudah menjadi kebiasaan sebagian jemaah haji asal Sulsel yang baru tiba dari Tanah Suci, khususnya perempuan. mengenakan pakaian dengan corak dan warna yang mencolok serta glamor. Ditambah dengan aksesori atau perhiasan yang menambah ramai penampilannya.
Sementara yang lelaki banyak mengenakan pakaian ala orang Arab. Kepala ditutupi dengan sorban bersama igal. Penampilan mereka itu cukup menarik perhatian.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Ali Yafid, meminta jemaah haji dari embarkasi Makassar tetap mengenakan batik seragam haji.
Permintaan ini, kata dia, berasal juga dari pengelola Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
“Informasi sebetulnya dari Angkasa Pura, mudah-mudahan, menurut info meminta bahwa kami mohon betul kepada jemaah embarkasi Makassar supaya ketika kembali dari Arab Saudi, tetap memakai batik seragam jemaah hajinya,” kata Ali Yafid, Kamis (12/6).
Ali Yafid menyampaikan pihaknya juga memahami kondisi di lapangan, terutama untuk jemaah asal Makassar, Maros, dan Gowa. Menurutnya, jemaah dari wilayah tersebut biasanya langsung bertemu dengan keluarga setiba di bandara.
Momen itu kerap dimanfaatkan untuk mengenakan pakaian khusus yang telah disiapkan sejak sebelum berangkat ke Arab Saudi.
Jemaah haji asal Sulsel memang memiliki tradisi mengenakan pakaian bling-bling saat tiba di Tanah Air.
“Sebelum berangkat dari Madinah, jemaah kita memang sudah berganti pakaian. Sebagian besar sudah memakai pakaian kebesarannya. Sudah menjadi budaya dan itu malahan jemaah kita mempersiapkan sebelum berangkat,” katanya.
Ali Yafid menyebut penggunaan batik haji masih memungkinkan diterapkan bagi jemaah dari luar Makassar. Jemaah dari luar Makassar umumnya masih menempuh perjalanan darat sebelum tiba di rumah dan punya kesempatan berganti pakaian.
“Selain itu, bisalah karena ada kesempatan untuk berganti baju di perjalanan. Tapi kalau di Makassar, Gowa dan Maros, karena itu langsung bertemu keluarganya dan itu memperlihatkan,” katanya. Meski tidak mewajibkan, Ali Yafid berharap jemaah tetap menjaga identitas sebagai peserta haji resmi dengan mengenakan seragam saat mendarat. Hal ini dinilai penting untuk keperluan identifikasi dan pengaturan teknis kepulangan di bandara.
“Kalau saya, tidak jadi masalah karena memang sudah dipersiapkan di kopernya. Setelah berangkat untuk dipakai kembali setelah pelaksanaan ibadah haji,” katanya. (rhm)
